TERASJABAR.ID – Saraf kejepit merupakan kondisi ketika saraf mendapat tekanan berlebihan dari jaringan di sekitarnya, seperti otot, tulang, atau ligamen.
Tekanan ini dapat menimbulkan rasa nyeri yang cukup mengganggu, baik saat bergerak maupun ketika beristirahat.
Pada kasus ringan, saraf kejepit bisa membaik dengan sendirinya atau melalui terapi rutin.
Namun, jika sudah berat dan berlangsung lama, penanganan medis hingga tindakan operasi mungkin diperlukan.
Karena saraf tersebar ke seluruh tubuh, kondisi ini dapat terjadi di berbagai area.
Umumnya, keluhan muncul saat tubuh berada pada posisi tertentu, misalnya membungkuk atau duduk terlalu lama.
Sayangnya, banyak orang menganggapnya sebagai nyeri biasa. Padahal, jika dibiarkan, saraf kejepit berisiko menimbulkan peradangan atau kerusakan saraf permanen.
Gejala yang sering dirasakan antara lain mati rasa, kesemutan, nyeri tajam atau seperti terbakar, otot melemah, serta keterbatasan gerak pada tangan atau kaki. Keluhan ini bahkan bisa memburuk saat tidur.
Penyebab saraf kejepit beragam, mulai dari postur tubuh yang salah, cedera, pembengkakan, hingga kondisi medis seperti herniasi diskus, radang sendi, stenosis spinal, atau carpal tunnel syndrome.
Faktor risiko lainnya meliputi kegemukan, kehamilan, diabetes, gangguan tiroid, serta aktivitas berulang yang memberi tekanan pada saraf.
Penanganan difokuskan pada pengurangan tekanan saraf, seperti istirahat, penggunaan penyangga, fisioterapi, obat pereda nyeri, hingga operasi bila diperlukan.
Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga postur tubuh, rutin berolahraga, dan menerapkan gaya hidup sehat.-***












