TERASJABAR.ID – Ratusan nasi “congcot” (nasi tumpeng) mewarnai tradisi Ruwahan dalam rangka menyambut bulan Suci Ramadhan atau bulan Sya’ban 1446 Hijriah, di Blok Wangun, Kelurahan Citangtu, Kecamatan/Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Tradisi Ruwahan ini tutur Kang Edi (64) seniman pituin warga Citangtu, merupakan tradisi yang turun-temurun dan berlangsung sejak ratusan tahun silam. Prosesi tradisi ruwahan ini ditandai doa bersama dan prosesi sedekah makanan berupa “nasi congcot” beserta lauk pauknya. Acara berlangsung khidmat dan sarat makna, serta menjadi ruang kebersamaan warga untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, tuturnya Jumat (06/02/2026).
Tradisi Ruwahan ini terang Kang Edi, dilaksanakan warga setempat dengan penuh kebersamaan. Hal ini sebagai wujud syukur dan permintaan maaf kepada sesama menjelang bulan suci ramadhan, imbuhnya.
Terpisah Reni Parlina Anggota Fraksi Demokrat DPRD Kuningan, disela tradisi Ruwahan menyampaikan, “Tradisi Ruwahan ini mengajarkan kita tentang kesederhanaan, kebersamaan, dan berbagi. Di tengah kehidupan yang terus berubah, nilai-nilai seperti ini justru harus dijaga dan dilestarikan”, ujarnya.
Keunikan tradisi Ruwahan di Citangtu Ciri khas yang menonjol yaitu, adanya tradisi membawa atau menyajikan ratusan Nasi Congcot (nasi tumpeng khas) oleh warga setempat secara swadaya.
Tradisi ini dilaksanakan pada bulan Ruwah (Syaban) dalam kalender Hijriah, tepatnya menjelang memasuki bulan Ramadhan.
Makna Sosial dan Spiritual: Selain ziarah kubur dan doa bersama, Ruwahan di Citangtu bertujuan untuk membersihkan hati, menjalin silaturahmi, dan mempererat gotong royong antar warga.
Kegiatan ini kerap terpusat di lingkungan dusun atau area makam sesepuh/leluhur di Kelurahan Citangtu, seperti yang rutin dilakukan oleh warga Dusun Wangun, Selahonje, dan Dusun Tarikolot.
Pada dasarnya tradisi ini Melestarikan Budaya dan menjadi salah satu bentuk pelestarian warisan leluhur yang terus dijaga oleh masyarakat setempat di tengah modernisasi.
Ruwahan di Citangtu kata Edi, tidak hanya sekadar berbagi makanan, tetapi juga menjadi momen penting bagi masyarakat setempat untuk bersatu dan mendoakan arwah para pendahulu sebelum menjalankan ibadah puasa.
ADVERTISEMENT









