Oleh : Subchan Daragana / Muslim
Ada orang yang takut mati karena hidupnya belum selesai. Ada pula yang tenang menghadapi kematian, bukan karena merasa suci, tetapi karena hatinya sudah kenal kepada siapa ia akan kembali. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa mencintai perjumpaan dengan Allah, maka Allah mencintai perjumpaan dengannya.” Kematian, bagi orang beriman, bukan sekadar peristiwa biologis. Ia adalah momen pulang, ketika rindu akhirnya menemukan jawabannya.
Rindu bertemu Allah tidak datang ssketika di detik terakhir hidup. Ia tumbuh perlahan, dari hati yang sering diajak bicara dengan Tuhannya., dari shalat yang tidak lagi sekadar gugur kewajiban, tapi menjadi tempat menenangkan jiwa, dari doa yang tidak selalu indah diucapkan tapi jujur air matanya. Ketika seseorang mulai merasa “tenang” hanya dengan menyebut nama Allah, di situlah rindu itu mulai berakar.
Orang yang rindu bertemu Allah bukan orang yang merasa amalnya banyak, melainkan orang yang terus berusaha membenahi diri. Ia sibuk memperbaiki niat, menjaga lisan, dan membersihkan hati. Ia tahu, perjumpaan tidak ditentukan oleh berani mati, tapi oleh kesiapan membawa bekal. Maka ia beramal bukan untuk dilihat, melainkan agar layak disambut yang dirindukannya.
Seiring dengan itu, dunia perlahan turun takhta dari singgasana hati. Dunia tetap dikejar, tetapi tidak dipeluk terlalu erat. Rezeki disyukuri tanpa diperbudak. Jabatan dijalani tanpa mabuk kuasa. Kehilangan pun diterima tanpa runtuh berlebihan. Dunianya ada di tangan, bukan di hati. Ketika dunia tidak lagi menjadi segalanya, kematian pun tidak lagi terasa menakutkan.
Bagi mukmin, rasa paling berat menjelang wafat bukanlah sakit, melainkan rindu. Rindu untuk bertemu Rabb yang selama ini hanya ia sebut dalam doa, ia ingat saat dzikir, ia bicara saat sempit dan lapang.
Rasulullah ﷺ mengabarkan, saat seorang mukmin diberi kabar gembira tentang rahmat dan ridha Allah, jiwanya justru mencintai perjumpaan itu. Ia tahu, ia tidak sedang jatuh ke kegelapan, tetapi melangkah menuju cahaya.
Rindu bertemu Allah tidak harus diekspresikan dengan kata yang emosinal. Ia tampak dalam hidup yang sederhana namun terarah. Dalam pilihan menjauhi dosa meski sendiri. Dalam sabar yang tidak dipamerkan. Dalam amal kecil yang dijaga konsistensinya. Inilah rindu yang tak nampak, tetapi dalam dalam makna.
Maka kematian bukan musuh yang harus dilupakan, melainkan pengingat yang menata hidup. Ia mengajarkan kita untuk tidak menunda taubat, tidak menyepelekan amal, dan tidak menggantungkan hati pada yang fana. Karena pada akhirnya, rindu yang dipelihara dengan iman dan amal, akan berbalas rindu.
Dan saat panggilan itu datang, jiwa yang mengenal Allah tidak akan lari. Ia pulang. Dengan tenang. Dengan harap. Dengan senyum. Karena mati esensi nya bukan akhir dari hidup kita, tapi kita tetap hidup dalam medium alam yang berbeda saja.***










