Rakyat hanya kebagian remah. Bahkan untuk remah itu pun mereka harus membayar pajak.
Di sinilah pajak kehilangan makna etiknya.
Pajak seharusnya menjadi instrumen keadilan, bukan alat penindasan yang disahkan oleh undang-undang. Pajak, dalam esensinya, adalah titipan—sebagaimana upeti pada masa kerajaan Nusantara. Ia dikumpulkan bukan untuk menumpuk kekayaan penguasa, tetapi untuk menjamin tidak ada satu pun rakyat yang mati kelaparan sendirian.
Seperti dituturkan Sultan Mudhafarsyah dari Kerajaan Ternate, upeti bukanlah pemerasan. Ia adalah sirkulasi empati. Istana menerima bukan untuk menimbun, melainkan untuk mengalirkan kembali kepada rakyat yang kekurangan. Negara menjadi lumbung bersama, bukan gudang pribadi.
Bandingkan dengan republik hari ini.
Pajak dipungut tanpa musim, tanpa cuaca, tanpa empati. Rakyat berdagang kecil-kecilan dipajaki. Rakyat membeli napas lewat air bersih dipajaki. Rakyat sakit dipajaki lewat obat dan layanan. Bahkan kematian pun dikenai biaya administrasi.
Ini bukan lagi negara kesejahteraan. Ini adalah republik yang memungut air mata.
Ironisnya, pajak terus diperas justru ketika kekayaan alam tidak sepenuhnya dikuasai negara. Air minum—hak paling purba manusia—diserahkan kepada swasta. Tambang yang menganga di perut bumi dijaga oleh kepentingan asing dan oligarki domestik. Hutan diperlakukan seperti barang lelang, laut seperti halaman belakang yang bisa disewakan.
Lalu negara datang ke rakyat dengan tangan terbuka—bukan untuk memberi, tetapi untuk meminta.
Di titik inilah pertanyaan Jacob Ereste menemukan urgensinya:
jika kekayaan alam dikelola sungguh-sungguh oleh negara untuk rakyat, mengapa pajak harus menjadi beban utama rakyat?
Bukankah yang seharusnya terjadi justru sebaliknya?
Negara hidup dari kekayaan alamnya, dan rakyat hidup dari keadilan negara.
Reformasi yang kita butuhkan hari ini bukan sekadar pergantian wajah di istana. Bukan regenerasi elite yang mewarisi cara berpikir lama. Yang kita butuhkan adalah reformasi logika bernegara—perubahan radikal tentang untuk siapa republik ini didirikan.

















