Oleh:Subhan Alba / Pengurus MUI Pusat/ Alumni Pesantren Lirboyo Kediri
Ramadhan sering disebut sebagai bulan penuh berkah, bulan ampunan, dan bulan pendidikan spiritual. Namun, Subhan Alba menghadirkan perspektif yang segar: Ramadhan adalah kampus kehidupan.
Di kampus ini, setiap muslim menjadi mahasiswa yang ditempa dengan kurikulum unik—puasa sebagai disiplin diri, tarawih sebagai latihan konsistensi, tilawah sebagai nutrisi ruhani, dan zakat sebagai ujian kepedulian sosial. Semua mata kuliah ini bermuara pada satu gelar yang diidamkan: taqwa. Idul Fitri pun menjadi wisuda, sebuah perayaan kelulusan yang penuh suka cita. Tetapi, pertanyaan besar muncul: apakah gelar itu akan bertahan abadi, hanya musiman, atau bahkan hilang seketika seperti seorang mahasiswa yang drop out?
Fenomena pasca Ramadhan seringkali menyedihkan. Masjid yang semarak dengan jamaah tarawih kembali lengang, mushaf Al-Qur’an yang rajin dibaca kembali tersimpan di rak, dan kebiasaan lama yang sempat ditinggalkan perlahan muncul lagi. Seolah-olah Ramadhan hanyalah semester singkat, bukan kampus yang membentuk karakter seumur hidup. Di sinilah Subhan Alba mengajak kita bercermin: apakah kita benar-benar sarjana taqwa, sekadar mahasiswa musiman, atau justru dropout dari kampus Allah?
Buku ini menyoroti bahwa taqwa bukanlah gelar yang otomatis diberikan di akhir Ramadhan. Ia adalah capaian yang harus dijaga, dirawat, dan diperjuangkan sepanjang hidup. Al-Qur’an dan hadis menegaskan bahwa taqwa adalah standar kemuliaan manusia di hadapan Allah, bukan sekadar status sementara. Maka, Ramadhan seharusnya menjadi titik awal, bukan titik akhir. Ia adalah kampus yang melatih, bukan sekadar panggung ujian sesaat.
Buku ini tidak berhenti pada kritik. Ia menawarkan panduan praktis agar gelar taqwa tidak dicabut. Dengan merujuk pada kitab klasik dan literatur modern, ia menunjukkan cara menjaga semangat ibadah agar tetap menyala setelah Ramadhan. Ia mengingatkan bahwa konsistensi adalah kunci: menjaga shalat berjamaah, memperbanyak tilawah, melanjutkan sedekah, dan menumbuhkan kebiasaan baik yang telah dilatih selama bulan suci.
Buku ini akhirnya menantang setiap pembaca untuk menjawab pertanyaan mendasar: apakah kita akan menjadi wisudawan sejati dari kampus Ramadhan, atau sekadar mahasiswa yang gagal mempertahankan gelar taqwa? Jawaban itu tidak ditentukan oleh Ramadhan semata, melainkan oleh perjalanan kita setelahnya. Ramadhan adalah kampus, Idul Fitri adalah wisuda, dan kehidupan setelahnya adalah ujian lanjutan. Gelar taqwa hanya akan abadi jika kita terus belajar, berlatih, dan berjuang di kampus Allah sepanjang hayat. ***













