Hingga akhir Desember 2025, Kemensos telah menyalurkan 223.146 paket logistik, 118.100 kilogram beras reguler, dan 20.990 paket sembako, serta mengoperasikan 42 dapur umum di wilayah terdampak. Dukungan tersebut diperkuat dengan pengerahan 648 personel Tagana, yang melayani lebih dari 110 ribu jiwa.
Kemensos juga menyalurkan santunan korban meninggal kepada 111 jiwa dengan total nilai Rp1,665 miliar.
Pada aspek rehabilitasi sosial, Kemensos menyalurkan bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) senilai lebih dari Rp1,54 miliar, yang diberikan berdasarkan hasil asesmen kebutuhan dan mencakup nutrisi, obat-obatan, perlengkapan belajar, layanan dukungan sosial, layanan kesehatan, kebutuhan pribadi, hingga alat bantu disabilitas.
Dalam fase pemberdayaan sosial, Kemensos menyiapkan penguatan ekonomi masyarakat terdampak melalui program pemberdayaan sosial ekonomi yang pelaksanaannya menunggu usulan pemerintah daerah dan penetapan dari Kementerian Dalam Negeri selaku Ketua Satgas, dengan tetap mengacu pada data BNPB dan mekanisme BNBA.
Dampak sosial ekonomi bencana juga menjadi perhatian Satgas. Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar menyoroti potensi peningkatan kemiskinan akibat bencana di Sumatera.
“Jumlah angka kemiskinan akan semakin meningkat. Kontribusi bencana Sumatra kepada kemiskinan di tingkat nasional diperkirakan 0,49 persen, dan kemiskinan ekstrem meningkat 0,20 persen,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pemulihan ekonomi masyarakat harus dilakukan melalui intervensi langsung yang mendorong aktivitas ekonomi lokal.
“Cash for work atau program padat karya tunai harus menjadi inti dari seluruh bantuan pemerintah pusat,” tambahnya.
Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah juga menjadi kunci keberhasilan rehabilitasi dan rekonstruksi.
















