Padahal, industri alas kaki memiliki potensi besar untuk terus tumbuh dan berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kemenperin menunjukkan bahwa industri alas kaki bersama industri kulit tumbuh sebesar 8,31 persen (year on year) pada triwulan II tahun 2025, serta tumbuh 0,72 persen (quarter to quarter) pada triwulan III-2025.
Nilai investasi industri alas kaki juga tercatat mencapai lebih dari Rp18 triliun sepanjang Januari–September 2025.
“Kinerja ekspor industri alas kaki Indonesia juga menunjukkan tren positif, dengan pertumbuhan 11,89 persen pada periode Januari hingga Agustus 2025, serta menempatkan Indonesia di peringkat keenam dunia sebagai negara eksportir alas kaki,” sebut Reni.
Menurutnya, capaian tersebut tidak terlepas dari peran sentra IKM alas kaki yang menaungi jumlah pelaku usaha cukup besar. Namun demikian, masih diperlukan berbagai upaya penguatan agar sentra IKM dapat beroperasi secara optimal dan berkelanjutan.
Sebagai langkah konkret, Ditjen IKMA melalui kolaborasi Direktorat IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan (IKM KSK), Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI), serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bogor, melaksanakan serangkaian program peningkatan daya saing bagi perajin sentra IKM alas kaki Ciomas.
Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan, Budi Setiawan menyampaikan, sepanjang akhir tahun 2025 telah dilaksanakan tiga kegiatan pembinaan utama, yakni peningkatan literasi digital, bimbingan teknis, serta pendampingan oleh mentor dari perguruan tinggi. Program ini diikuti oleh 14 perajin perwakilan sentra IKM alas kaki Ciomas.
“Pembinaan ini bertujuan agar perajin semakin familiar dengan pemasaran digital, memiliki pemahaman mengenai desain dan pola alas kaki terkini untuk mendorong inovasi produk, serta mampu mengelola usaha secara lebih efisien melalui pendampingan mentor,” ujar Budi.

















