Lain pula, kajian mutakhir oleh Manoj K. Singh & Rudra P. Saha dalam Wellness Advantages of Religious Fasting Practices (2025) menambahkan dimensi kesehatan.
Puasa dipandang sebagai praktik universal dengan manfaat metabolik, kardiovaskular, neurologis, dan psikologis.
Islam menekankan pengendalian diri dan solidaritas sosial, Kristen menekankan refleksi dan pertobatan, Yahudi menekankan tobat dan penyucian diri, Hindu menekankan pengendalian hawa nafsu, Buddhisme menekankan meditasi dan disiplin spiritual.
Semua tradisi menunjukkan bahwa puasa bukan hanya ritual, tetapi juga sarana menjaga keseimbangan tubuh dan jiwa.
Perspektif ekoteologi praksis menemukan fondasi awal dalam karya Seyyed Hossein Nasr Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man(1968).
Nasr(92), fisikawan alumni MIT, aktif sebagai University Professor of Islamic Studies di George Washington University, Washington D.C.,
menegaskan bahwa krisis ekologi berakar pada krisis spiritual manusia modern yang telah mendesakralisasi alam.
Alam dipandang sekadar objek eksploitasi, kehilangan makna sakralnya sebagai ciptaan Tuhan. Ia menawarkan solusi berupa resakralisasi ilmu dan alam, mengembalikan pandangan bahwa alam adalah ayat Tuhan yang harus dihormati.
Dalam kerangka ini, puasa menjadi praktik yang mengingatkan manusia pada keterbatasan, kesederhanaan, dan penghormatan terhadap ciptaan.
Dengan demikian, ekoteologi praksis bersama menempatkan puasa sebagai pengalaman lintas agama yang bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga latihan ekologis.
Puasa mengajarkan manusia untuk hidup dengan kesadaran, menahan diri dari konsumsi berlebihan, dan menghormati alam sebagai ciptaan yang sakral.
Dari kisah anak kecil seperti Lailah hingga refleksi filosofis Nasr, dari penelitian Fredricks hingga kajian kesehatan Singh & Saha, puasa menjadi simbol universal bahwa krisis batin dan krisis ekologi dapat dijawab dengan resakralisasi hidup melalui praktik sederhana namun mendalam: menahan diri, menghormati alam, dan menemukan harmoni dengan ciptaan.
coversongs:
Maher Zain, penyanyi Lebanon-Swedia kelahiran 16 Juli 1981, merilis lagu “Ramadan” pada tahun 2013 melalui Awakening Music. Lagu ini kemudian hadir dalam tiga versi bahasa: Inggris, Arab, dan Indonesia.
Hingga kini Maher Zain masih aktif sebagai penyanyi, penulis lagu, dan produser musik, dengan karya-karya yang banyak diputar setiap bulan Ramadan.
Lirik lagu ini menekankan kerinduan akan suasana spiritual Ramadan yang penuh damai, cinta, dan keberkahan, serta harapan agar semangat Ramadan selalu hadir sepanjang tahun.

















