oleh ReO Fiksiwan
“Ini pertama kalinya aku berpuasa. Aku senang, tapi aku khawatir teman-temanku tidak akan mengerti kenapa aku tidak makan siang.” — Reem Faruqi, penulis buku anak-anak pemenang penghargaan, fotografer, dan pendidik. Ia tinggal di Atlanta, Georgia, Lailah’s Lunchbox: A Ramadan Story;2015).
Puasa dalam perspektif praksis ekoteologi bersama dapat dipahami sebagai jembatan antara ritual keagamaan dan kesadaran ekologis.
Secara tahunan di bulan Ramadhan, umat Islam menunaikan puasa sebagai salah satu rukun utama dari empat sisanya.
Tradisi ini, bila ditilik dari praksis ekoteologi, bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga mengajarkan pengendalian nafsu, solidaritas sosial, serta penghormatan terhadap ciptaan Tuhan.
Kisah dalam Lailah’s Lunchbox: A Ramadan Story yang ditulis Reem Faruqi memberi gambaran sederhana tentang bagaimana seorang anak Muslim, Lailah, belajar mengekspresikan identitasnya melalui puasa di lingkungan baru.
Cerita ini menekankan bahwa puasa bukan sekadar ritual, melainkan pengalaman praksis yang membentuk keberanian, solidaritas, dan penerimaan sosial.
Dari sudut ekoteologi, pengalaman ini menunjukkan bahwa puasa adalah cara manusia berlatih hidup selaras dengan keterbatasan, sebuah nilai yang relevan dengan krisis ekologis modern.
Dr. Randi Fredricks, Ph.D. dalam Psikologi serta Doctorate in Naturopathy di San Jose, Calofornia, dalam Fasting: An Exceptional Human Experience(2012) menelusuri sejarah puasa sebagai praktik universal sejak prasejarah.
Sebagai seorang psikoterapis, peneliti, dan penulis, Fredricks menekankan bahwa puasa ditemukan di hampir semua agama besar: Islam dengan ṣawm, Kristen dengan Lent, Yahudi dengan tzom, Hindu dengan upavāsa, Buddhisme dengan uposatha,
Demikian pula, Taoisme dengan zhai, hingga tradisi pribumi yang menggunakan puasa — Sanskrta: upavāsa(उपवास), yang berarti “berdiam diri” atau “menahan diri dari makanan/minuman dalam bentuk pengendalian diri dan ibadah sebagai sarana transformasi spiritual.
Fredricks menunjukkan bahwa puasa adalah pengalaman manusia universal yang melintasi batas agama, budaya, dan sejarah, serta memiliki dimensi spiritual, psikologis, medis, dan politik.














