Advertisement

Cuci Tangan, Kemewahan Warga Yaman di Tengah Krisis Air

Cuci Tangan, Kemewahan Warga Yaman di Tengah Krisis Air
Ilustrasi: Cuci tangan dikenal sebagai cara sederhana mencegah penyebaran corona, tapi tidak bagi warga Yaman. Kebiasaan ini menjadi sebuah kemewahan. (Foto: iStockphoto/Prostock-Studio)
Editor: Malda Teras Health —Rabu, 25 Maret 2020 15:02 WIB

Terasjabar.id -- Cuci tangan, merupakan kebiasaan sederhana yang santer dikampanyekan pelbagai belahan dunia guna mencegah penyebaran virus corona penyebab Covid-19. Tapi, bukan lagi jadi perkara simpel kalau bagi jutaan warga Yaman.

Air bersih dan sabun jadi barang langka di negara yang dilanda. Itu sebab cuci tangan--yang dikenal sebagai cara mudah dan murah--di Yaman jadi sebuah kemewahan.

Mohammed, bocah usia 11 tahun asal Provinsi Hajjah mengungkapkan, mesti menempuh jarak sekitar tiga kilometer untuk mendapatkan air. Ia dan saudara perempuannya mengendarai keledai untuk mencapai sumur air.


"Saya menyiapkan keledai itu ... dan kemudian berangkat jam 7.30 pagi dan saya terus bolak-balik sampai jam 10 pagi," cerita dia seperti dikutip dari AFP.

Keduanya lantas menunggu giliran untuk mengisi tabung plastik, menggunakan selang kotor. Keluarga ini tak punya pilihan selain minum air yang terkontaminasi dan, menggunakan itu pula untuk keperluan memasak.

Yaman merupakan negara yang mengalami konflik berkepanjangan selama lima tahun. Situasi ini mengakibatkan sistem kesehatan rusak dan, 80 persen populasi penduduk membutuhkan bantuan.

Bahkan PBB menyebut Yaman sebagai negara dengan krisis kemanusiaan terburuk. Hingga kini belum ada laporan kasus warga yang terinfeksi virus.

Namun Caroline Seguin, kepala program Médecins Sans Frontières (MSF) atau Doctors Without Borders di Yaman, Irak dan Yordania menyesalkan kondisi masih banyak warga Yaman yang tak memiliki akses terhadap air bersih juga sabun.

"Kami sangat khawatir," tutur Caroline seperti dikutip AFP.

"Kami bisa merekomendasikan mereka untuk mencuci tangan, tetapi bagaimana jika mereka tidak punya apapun untuk itu?" lanjut dia lagi.

Kekhawatiran tersebut benar-benar nyata, sebab menurut UNICEF, hampir 18 juta orang termasuk 9,2 juta anak tidak mendapatkan akses terhadap air bersih.

Masalah ketersediaan dan akses air bersih memang jadi problem sejak lama. Pada 2017, negara ini mengalami outbreak kolera. Tapi tak hanya outbreak kolera, Mohammed Aqil, dokter di pusat kesehatan Al-Jaada, di Hajjah, menuturkan klinik harus menghadapi sekitar 300 pasien per hari dengan pelbagai masalah kesehatan.

"Kebanyakan kasus berhubungan dengan penyakit yang ditularkan lewat konsumsi air yang tidak aman dikonsumsi," ungkap dia.

Jika kondisi terus berlanjut, MSF memprediksi 'kedatangan' virus corona bakal jadi bencana. Cuci tangan harus diakui sebagai cara paling efektif menangkal virus, tetapi akses air keran hanya dinikmati oleh sepertiga penduduk.


Sejauh ini ada lebih 1.700 kasus virus corona dilaporkan oleh negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC). Sebanyak 4 kematian dilaporkan di Uni Emirat Arab dan Bahrain.

"Kami tidak bisa membanjiri sistem kesehatan yang sudah rapuh di Yaman. Penyakit baru di Yaman akan menyerbu rumah sakit dan fasilitas kesehatan," kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).(CNNIndonesia)

Virus Corona Covid 19 Yaman Cuci Tangan Krisis Air


Related Post



Loading...