Advertisement

VIRAL! Dirinya Disebut Tak Mengenal Sejarah oleh Petinggi Sunda Empire, Roy Suryo Tertawa dan Bilang Begini !

VIRAL! Dirinya Disebut Tak Mengenal Sejarah oleh Petinggi Sunda Empire, Roy Suryo Tertawa dan Bilang Begini !
TV One
Editor: Malda Berita Viral —Rabu, 22 Januari 2020 09:19 WIB

Terasjabar.id - Petinggi Sunda Empire, Rangga Sasana lantang menyebut politikus Roy Suryo tak mengenal sejarah.

Hal itu diungkapkan Rangga Sasana saat hadir di program acara indonesia Lawyer Club TvOne(21/1/2020).

Rangga Sasana yang dikenal sebagai petinggi di Sunda Empire mengaku, bahwa dirinya menjabat sebagai Sekretaris The Heeren Zeventien di kerajaan tersebut.

Melansir tayangan YouTube Indonesia Lawyer Club, Rangga Sasana membantah jika Sunda Empire disamakan dengan kerajaan-kerajaan baru yang belakangan bermunculan.

Sebab menurutnya Sunda Empire merupakan sebuah sistem tata negara dunia.

"Jadi faktor keberadaan sunda empire itu jangan disamakan dengan keraton-keraton yang muncul tadi,"

"Ini merupakan sistem tata negara dunia," ujarnya penuh keyakinan.

Lebih lanjut, Rangga Sasana mengungkapkan bahwa awal lahirnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berasal dari Bandung.

"PBB lahir di Bandung, Pentagon lahir di Bandung, perlu tahu sejarah Indonesia nanti," ujarnya.

Rangga kemudian menyinggug soal pernyataan Roy Suryo yang sebelumnya terkait lokasi terbentuknya PBB.

Secara tegas Rangga Sasana mengatakan bahwa pernyataan yang disampaikan Roy Suryo adalah salah.

"Kalau misalkan tadi di Mas Suryo mengatakan itu apa tadi, itu salah!" ujar Rangga Sasana.

Menurutnya PBB dan NATO bukan terbentuk di Amerika.

Amerika menurutnya hanya tempat lahirnya para pasukan PBB.

"Memang benar lahirnya NATO di sana, lahirnya pasukan PBB di sana," terang Rangga Sasana.

Mendengar penjelasan Rangga, Roy Suryo kemudian menyanggah bahwa Bandung bukanlah tempat terbentuknya organisasi PBB.

"Tapi lahirnya PBB enggak di Bandung pak," ujar Roy Suryo.

Mendengar itu Rangga Suseno kekeh mengatakan dengan lantang bahwa PBB lahir di Bandung.

"Bandung! PBB di Bandung lahirnya!" ujar Rangga tegas.

"Enggak," kata Roy Suryo.

Mendengar itu, Rangga Sasana menyebut bahwa Roy Suryo belum mengenal sejarah sepenuhnya.

"Itu berarti belum mengenal sejarah," ujar Rangga.

Mendengar perkataan Rangga Sasana sontak orang yang berada di studio terbahak, termasuk Roy Suryo.

Meski ditertawakan orang-orang di studio, Rangg Sasana tetap teguh pada pendiriannya.

Bahkan Rangga kembali menyebut bahwa Roy Suryo adalah orang yang belum mengenal sejarah.

"Belum mengenal sejarah saudara itu," ujar Rangga.

Roy Suryo terdengar makin terbahak, ia kemudian menyebut bahwa Rangga Sasana adalah orang yang penuh halusinasi.

"Kacau ini, halu ini," ujar Roy Suryo terkekeh.

"Dengar! Nanti kita buka, kenapa PBB itu dipindahkan ke Amerika," pungkas Rangga.

Petinggi Sunda Empire Beberkan Alasan Bandung Jadi Lokasi Kekaisaran

Petinggi Sunda Empire, Raden Rangga atau Raden Rangga Sasana membeberkan alasan mengapa Bandung dipilih kelompoknya sebagai lokasi kekaisaran.

Hal tersebut disampaikan Raden Rangga Sasana saat menjadi narasumber di acara Inews TV, pada Senin (20/1/2020).

"Bandung itu adalah titik nol, itu wilayah Atlantik," kata Raden Rangga Sasana dengan berapi-api dikutip TribunJakarta.com dari YouTube Inews TV, pada Selasa (21/1/2020).

"Perlu dipahami bangsa Indonesia semuanya yang belum tahu, ini ya asal-usul bumi, adalah percikan matahari, yang pada kala itu akhirnya membeku, dan yang paling tinggi adalah Bandung," jelasnya.

Raden Rangga Sasana menyebut saat itu daratan Bandung lebih tinggi dibanding wilayah lain yang ada di dunia.

Menurut Raden Rangga Sasana hal tersebut yang membuat beberapa organisasi dunia, seperti PBB hingga NATO lahir di Bandung.

"Maka Bandung berada dalam posisi paling tinggi diantara daerah-daerah lain di dunia," ucap Raden Rangga Sasana.

"Itulah kenapa disepakati oleh leluhur kita,"

"Makanya apabila sesuatu tidak datang dari Bandung tidak dilantik,"

"Makanya PBB lahirnya di Bandung, SLW di Bandung, NATO di Bandung, Petagon di bandung, Bank Dunia pun di Bandung dengan modal dari bumi Nusantara," tegasnya.

Mendengar penjelasan Raden Rangga Sasana, sejarawan Sunda Dedi Mulyadi hanya tertawa.

Dedi Mulyadi kemudian membebaskan Raden Rangga Sasana untuk berpendapat.

Walau begitu menurutnya apa yang dibeberkan oleh Raden Rangga Sasana dapat dicek kebenarannya melalui sejarah yang sudah tercatat dengan baik.

"Iya yang pertama disilahkan aja, orang-orang boleh berpendapat apapun," ucapnya sambil terkekeh.

"Tetapi dari aspek rasion, sejarah, kan kita bisa memahami dunia dimana pusatnya, dimana dataran yang paling tinggi,"

"Dimana lahirnya PBB, dimana lahirnya NATO,"

"Kan semuanya sudah tercatat dengan baik dalam sejarah," imbuhnya.

Publik Indonesia diramaikan dengan kemunculan kerajaan-kerajaan baru seperti Keraton Agung Sejagat di Purworejo dan Sunda Empire-Earth Empire (SE-EE).

Hal tersebut memancing reaksi masyarakat lantaran berbagai aspek yang dianggap tidak masuk akal dari klaim-klaim kerajaan-kerajaan itu.

Dikutip TribunJakarta.com dari Kompas.com Dedi Mulyadi menilai, munculnya orang-orang yang mengaku punya kerajaan dan bangga dengan seragam ala militer merupakan penyakit sosial yang sudah lama terjadi di Indonesia.

Dedi menyebut, fenomena itu merupakan problem sosial yang sudah akut dan berlangsung sejak lama.

Hal itu disampaikan Dedi ketika diminta komentar terkait Sunda Empire yang saat ini heboh di masyarakat, terutama di Jawa Barat.

Menurut Dedi, ada problem sosial yang berlangsung cukup lama, yaitu masyarakat indonesia terbiasa masuk ke wilayah berpikir yang tidak realisitis atau terlalu obsesif.

"Ada obsesi mendapat pangkat tanpa proses kepangkatan atau instan. Ada obsesi ingin cepat kaya," kata Dedi kepada Kompas.com via sambungan telepon, Sabtu (17/1/2020).

Dedi mengatakan, di Indonesia itu dalam kehidupan sosial, banyak kelompok masyarakat yang setiap hari mencari harta karun, emas batangan, uang brazil dan sejenisnya.

Perilaku itu berlangsung lama dan tak pernah berhenti sampai saat ini.

"Banyak orang yang kaya raya jatuh miskin karena obsesi itu. Sampai miskin pun masih berharap obsesi itu tercapai," kata wakil ketua Komisi IV DPR RI ini.

Namun, kata Dedi, di sisi lain, kelompok adat yang memiliki sistematika cara berpikir realistis dan berbasis aspek alam mengalami peminggiran, baik dalam stasus sosial di masyarakat, maupun dalam status lingkungan.

"Misalnya areal adat komunitas adat kian sempit, tak dapat pengakuan. Kemudian membuat stigma bahwa mereka (kaum adat) adalah kelompok-kelompok yang dianggap bertentangan dengan asas kepatutan pranata sosial kemapanan hari ini," katanya.

Untuk mengantisipasi kelompok-kelompok obsesif itu, Dedi mengatakan negara harus memberikan penguatan terhadap kaum adat yang memiliki historis yang jelas dan jauh lebih realitis.

"Mereka ada yang petani, nelayan, penjaga hutan dan laut. Mereka lebih mapan dan tak pernah ada unsur penipuan. Negara harus melakukan tindakan agar kasus itu tidak berefek negatif terhadap kaum adat," tandasnya.(Tribunjakarta.com)



Sunda Empire Kodim Keraton Agung Sejagat Atlantic Bandung Kemendagri Ridwan Kamil Roy Suryo


Related Post



Loading...