Advertisement

Siswa Dituntut Penjara Seumur Hidup, Kejari: Hukuman Anak di Bawah Umur Beda dengan Dewasa

Siswa Dituntut Penjara Seumur Hidup, Kejari: Hukuman Anak di Bawah Umur Beda dengan Dewasa
Kasi Pidum Kejari Kabupaten Malang, Sobrani (Foto: Okezone.com/Avirista Midaada)
Editor: Dea Hot News —Senin, 20 Januari 2020 15:33 WIB

Terasjabar.id - Dakwaan hukuman seumur hidup yang ditujukan pada ZA, siswa SMA di Malang, Jawa Timur (Jatim), yang menusuk begal hingga tewas dipastikan tidak ada. Hukuman yang diberikan kepada ZA, tidak sama dengan orang dewasa.

Melansir dari inews.id, hal ini disampaikan Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Malang, Sobrani Binzar. Menurutnya berdasarkan sistem peradilan anak yang mengacu pada Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012, dipastikan hukuman untuk ZA yang terhitung di bawah umur tidak sama dengan hukuman orang dewasa.

"Mengacu pada aturan yang berlaku pada peradilan anak-anak, saya luruskan bahwa dakwaan seumur hidup terhadap ZA dipastikan tidak ada," kata Sobrani, Senin (20/1/2020).

Menurut penjelasannya, sistem persidangan anak, ancaman hukumannya setengah dari hukuman maksimal orang dewasa. Terkait kasus ZA yang disangkakan empat pasal KUHP, Sobrani hanya menyatakan jika keempat pasal tersebut tidak seluruhnya diakumulasikan.

"Itu hanya dibuktikan salah satu, tidak seluruhnya, sifatnya subsider. Jadi, kalau Pasal 340 KUHP (pembunuhan berencana) tidak terbukti, maka subsider 338 (pembunuhan). Kalau tidak terbukti lagi, ke pasal 351 (penganiyaan). Jadi, yang kemarin beredar itu berupa dakwaan seumur hidup tidak mungkin," katanya.

Dia menambahkan, sesuai empat pasal yang disangkakan kepada ZA, maka setengah hukuman yang kemungkinan dijatuhkan kepada ZA akan berlaku manakala yang bersangkutan terbukti bersalah di persidangan.

Jika Pasal 340 KUHP mengenai pembunuhan berencana dengan sistem peradilan anak, maka ancaman maksimalnya 10 tahun. Pasal 338 mengenai pembunuhan ancaman hukumannya 7,5 tahun. Sedangkan untuk Pasal 351 mengenai penganiyaan maka ancaman yang bisa dijatuhkan kepada ZA maksimal hanya 3,5 tahun.

"Sekali lagi itu kalau terbukti di proses persidangan dijerat dengan salah satu pasal dari empat pasal yang disangkakan kepada ZA. Itu karena terduga pelaku masih anak-anak. Jadi, hukumannya setengah dari orang dewasa," katanya.

Senin (20/1/2020) pagi sekitar pukul 09.30 WIB sendiri, ZA masih menjalani proses persidangan di ruang sidang Tirta/Anak 108 Pengadilan Negeri Kepanjen. Proses persidangan berjalan tertutup lantaran terdakwa merupakan anak di bawah umur.

Sejumlah polisi melakukan penjagaan ketat di luar ruang persidangan. Pada sidang keempat ini, persidangan mengagendakan pemeriksaan saksi-saksi.

Sebelumnya, ZA keluar bersama pacarnya ke kebun tebu Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Minggu (9/9/2019) malam. Di tengah jalan, mereka dihadang oleh sekelompok kawanan begal.

Dua orang mencoba merampas sepeda motornya dan handphone ZA. Tak hanya itu, pelaku juga berusaha memperkosa pacar ZA yang berinisial V.

ZA memberikan perlawanan dan menusukkan pisau yang diambil dari dalam jok sepeda motor. Akibatnya salah satu begal bernama Misnan, tewas tertusuk. Sementara dua pelaku begal lain melarikan diri usai melihat rekannya terkapar.

Sehari setelahnya, polisi mengamankan ZA dan menetapkannya menjadi tersangka atas dugaan penganiyaan hingga menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Namun lantaran masih berstatus pelajar, dia tidak ditahan.

Siswa Dituntut Penjara Seumur Hidup Kejari Hukuman Anak di Bawah Umur Beda dengan Dewasa Malang Jawa Timur (Jatim)


Related Post



Loading...