Advertisement

Hasil Cek Darah Ashanty, Kadar Merkuri Tinggi Berbahaya, Kini Lebih Selektif Pilih Makanan

Hasil Cek Darah Ashanty, Kadar Merkuri Tinggi Berbahaya, Kini Lebih Selektif Pilih Makanan
Tribunjabar.id
Editor: Malda Teras Seleb —Minggu, 19 Januari 2020 19:22 WIB

Terasjabar.id - Beberapa hari yang lalu Ashanty melakukan cek darah. Hasilnya kurang baik.

Tubuh istri Anang Hermansyah itu memiliki kandungan merkuri yang sangat tinggi.

Seperti diketahui, keracunan merkuri dapat berbahaya dan berefek negatif pada tubuh.

Kandungan merkuri yang ada di tubuh Ashanty berasal dari ikan yang terpapar merkuri.

Ikan tersebut dikonsumsi Ashanty yang sedang mencoba pola makan sehat.

"Merkuri aku tinggi, dari satu sampai sepuluh, aku 9,8 jadi kurang bagus untuk tubuh kita. Jadi aku sekarang hati-hati makan ikan. Jadi bukan ikannya yang enggak sehat, jangan salah persepsi loh ini," kata Ashanty saat konferensi pers pembukaan gerai makanannya di kawasan Pndok Indah, Jakarta Selatan, Minggu (19/1/2020), seperti dikutip dari Kompas.

Dokter memberikan beberapa vitamin agar kondisi Ashanty kembali sehat.

"Kemarin agak rada stres karena dapat vitamin banyak banget dari dokter, kan, aku tuh dapat hasil darah jelek karena makanan," jelasnya.

Ashanty berusaha agar tidak begitu memikirkan kondisi kesehatannya.

Ia enggan membahas penyakitnya terlalu panjang.

Ashanty mengalami pendarahan dan hampir stroke
Ashanty mengalami pendarahan dan hampir stroke (Kolase Tribun Jabar (Instagram/@ashanty_ash))

Menurutnya, penyakit itu bisa muncul dari pikiran.

"Sehat. Duh jangan bahas sakit-sakit melulu. Enggak boleh dibahas. Semua itu ada di dalam pikiran," katanya.

Kini, Ashanty mengubah pola makanannya agar kembali sheat.

Ia lebih selektif memilih menu makanan.

"Jadi hati-hati makan ikan dan kerang. Aku berpikir makan ikan sehat, kan, jadi makan ikan. Nah jadi ikan laut sekarang tidak bagus," ucap Ashanty.

Perempuan berdarah Jawa dan Arab ini berpendapat makanan laut sekarang jadi berbahaya karena faktor kebersihan laut Indonesia.

"Terus sekarang laut kita kotor, penyebannya usia. Bukan salah ikannya, ikan baik," ujar Ashanty.

Oleh karena itu, ia mulai mengurangi konsumsi makanan laut, bukan berhenti sama sekali.

"Jadi begini, aku belum bisa harus vegetarian, karena bagi aku kalau begitu dan pengin makan di luar vegetarian, jadi kalap. Jadi aku mengurangi sedikit-sedikit," ujar Ashanty.

Melansir dari Alodokter, racun merkuri atau raksa umumnya menyerang sistem saraf, menyerang pencernaan, dan ginjal.

Merkuri yang berada di dalam tubuh dapat terbawa dari udara yang dihirup, mengonsumsi makanan tercemar merkuri, suntikan, dan penyerapan kulit.

Merkuri terdiri dari tiga bentuk, yakni:

1. Merkuri elemental atau merkuri cair (Air Raksa)

Jenis ini biasanya terdapat pada tabung termometer, saklar listrik, dan lampu neon.

Merkuri jenis ini berbahaya jika menjadi uap dan terhirup oleh manusia.

2. Merkuri organik

Jenis ini bisa ditemukan pada ikan dan asap pembakaran batubara, serta berbahaya jika terpapar, baik tertelan, terhirup, atau terkena kulit dalam waktu yang lama.

Dalam jangka panjang, paparan merkuri organik bisa mengakibatkan kulit terasa pedih atau bahkan mati rasa, tremor, kebutaan, kesulitan berjalan, gangguan daya ingat, kejang, serta kematian.

3. Merkuri anorganik

Jenis ini terdapat pada baterai, laboratorium kimia, serta beberapa disinfektan, dan berbahaya jika tertelan.

Gejala yang timbul tergantung dari jumlah merkuri yang tertelan, namun biasanya penderita mengalami rasa terbakar di tenggorokan dan perut, muntah serta diare berdarah.

Merkuri anorganik juga bisa menimbulkan dampak buruk pada otak dan ginjal jika masuk ke aliran darah.

Merkuri yang paling berbahaya adalah metil-merkuri yang termasuk dalam merkuri organik.

sbeanyak 90 persen dari kadar metil-merkuri yang tertelan akan terserap dalam darah.

Sedangkan merkuri jenis lain hanya diserap 2-10 persen.

Metil-merkuri berasal dari limbah industri.

Limbah industri akan mencemari air, hewan yang hidup di air tersebut seperti ikan akan tercemar.

Ikan kecil yang tercemar merkuri dapat dimakan oleh ikan yang lebih besar.

Ikan besar tersebut akan mengandung merkuri yang lebih tinggi.

Semakin panjang mata rantai maka semakin tinggi pula kadar merkurinya.

Kadar metil-merkuri pada ikan yang tercemar juga tidak akan berkurang meski diolah dengan berbagai macam cara memasak.

Oleh karena itu, memakan ikan yang berada di tingkatan atas rantai makanan, seperti ikan makarel raja, ikan hiu, ikan tuna mata besar, ikan todak, dan ikan marlin, lebih berisiko untuk keracunan merkuri.(Tribunjabar.id)


Ashanty Anang auto immune Aurel Kesehatan Merkuri


Related Post



Loading...