Advertisement

VIRAL ! Teror Alat Kelamin di Bandung, Tindakan ini yang Harus Kalian Lakukan Saat Berhapan dengan Pelaku eksibisionis

VIRAL ! Teror Alat Kelamin di Bandung, Tindakan ini yang Harus Kalian Lakukan Saat Berhapan dengan Pelaku eksibisionis
Tribunjogja
Editor: Malda Berita Viral —Selasa, 19 November 2019 15:13 WIB

Terasjabar.id - VIRAL ! Teror Alat Kelamin di Bandung, Tindakan ini yang Harus Kalian Lakukan Saat Berhapan dengan Pelaku eksibisionis  Aksi eksibiosinis baru-baru ini terjadi di Bandung dan Tasikmalaya.

Di Tasikmalaya, pria berusia 25 tahun melakukan masturbasi dan mencipratkan spermanya kepada wanita yang tengah berada di pinggir jalan.

Pria yang melakukan teror sperma itu sudah ditangkap dan statusnya menjadi tersangka.


Sedangkan pria di Bandung melakukan aksi eksibisionis dengan cara menunjukkan alat vitalnya kepada seorang ibu rumah tangga, NF.

Teror alat vital itu dialami NF ketika ia sedang membersihkan teras rumahnya.

Eksibisionisme adalah perilaku yang selalu memamerkan hal yang biasanya tertutup di khayalak umum seperti payudara dan alat kelamin.

Gangguan eksibisionisme merupakan penyakit kesehatan mental yang berpusat mengekspos alat kelamin seseorang untuk mendapat kepuasan mental.

Dekan Fakultas Psikologi Univeristas Diponegoro, Hastaning Sakti, dalam berita yang dimuat Tribun Jateng pada 2017, mengatakan pelaku eksibisionisme merasa puas bila korban bereaksi terhadap aksinya.

Semakin korban takut atau histeris maka semakin puas pelaku.

Kepuasan dibeberkan Hastaning, bukan kepuasan secara hawa nafsu.

Melainkan kepuasan dalam bentuk kebanggaan.


Tentu, korban eksibisionis akan terkejut.

Namun, Hastaning menyarankan agar korban tidak terlalu berekasi.

Jangan histeris bila bertemu dengan pelaku eksibisionis.

"Apalagi meledek. Jangan, itu tak akan menyiutkan nyali para pengidap eksibisionis. Lebih baik diamkan saja, atau menjauh," imbuhnya.

Psikolog dari Yayasan Praktek Psikolog Indonesia, Adib Setiawan mengatakan ada empat faktor yang melatarbelakangi seseorang berbuat eksibisionis.

Faktor pertama yang menyebabkan seseorang terkena penyakit eksibisionisme, saat masa kecilnya tidak mendapatkan pola asuh yang benar dari orangtuanya.

Orangtua yang tidak merawat anaknya dengan baik dan tidak menerapkan pola asuh yang tepat, akan membentuk pola perilaku anak yang menyimpang ketika ia remaja dan dewasa kelak.

Tidak adanya kepedulian dan aturan dari orangtuanya, menjadikan si anak akan tumbuh menjadi orang yang tidak memiliki pedoman.

"Ketika masa kanak-kanak pelaku atau pengidap eksibionisme ini mengalami pola asuh yang tidak tepat oleh orangtuanya."


"Salah satunya pola asuh yang dibiarkan saja atau kepedulian orang tua itu tidak ada," ujar Adib saat diwawancarai Tribunnews, Minggu (17/11/2019).

Hal tersebut juga memengaruhi pola perilaku anak di masa depan akan cenderung mencari kepuasan diri.

Salah satunya caranya dengan memperlihatkan alat kelaminnya kepada orang-orang.

"Jadi ketika beranjak remaja dewasa, ia kemudian mencari kepuasan yang barangkali yang membuat dia puas."

"Salah satunya dengan menunjukkan alat kelaminnya kepada orang lain," kata Adib.

Faktor kedua adalah seringnya intensitas menonton film porno.

Orang yang menonton film porno, cenderung memiliki fantasi-fantasi liar.

Ia akan membayangkan peristiwa yang ia tonton sama halnya terjadi di lingkungan sekitarnya.

Fantasi-fantasi liar tersebut akan membentuk sebuah presepsi dan kenikmatan, jika ia berperilaku seperti apa yang ada di film porno tersebut.



Dengan ia berhasil melakukan tindakan berdasarkan fantasi-fantasi yang bentuk, maka rasa puas akan didapat dari seorang eksibisionisme.

"Dengan banyak menonton film porno sehingga seolah olah kehidupan nyata itu sama seperti yang ada di film."

"Kemudian ia menemukan sebuah insight, sebuah kenikmatan bisa diperoleh dengan menujukkan alat kelamin kepada orang lain," ujar Adib.

Faktor ketiga adalah tidak adanya kontrol dan pengawasan orang tua atau orang terdekat.

Adib menjelaskan, jika seseorang tidak pernah mendapatkan pengawasan dan aturan, maka besar kemungkinan, ia akan tumbuh dengan tidak mengetahui aturan dan batasan-batasan yang berlaku di lingkungan masyarakat.

Ia akan melihat segala perilaku yang ia jalani adalah perbuatan yang benar, normal, dan dapat memuaskan hasratnya.

Orang yang mengidap eksibisionisme tidak akan berpikir, tindakan memperlihatkan kelamin kepada orang lain adalah tindakan yang melanggar hukum.

Ia hanya memandang perbuatan memperlihatkan alat kelamin tersebut mampu memuaskan hasrat seksual mereka.



Perlunya kasih sayang yang diberikan keluarga juga merupakan kunci utama dalam pengendalian dan menekan angka perbuatan prilaku menyimpang ini.

Dengan kasih sayang yang diberikan, hal ini akan menjadi tembok penghalang bagi seseorang untuk melakukan tindakan menyimpang .

Di akhir keterangan, Adib menjelaskan, orang yang mengidap eksibisionisme biasanya adalah orang yang mempunyai gangguan di pergaulannya.

Di dalam pergaulan, orang tersebut cenderung bersifat pendiam, pasif, dan terkadang melakukan hal-hal yang dianggap aneh.(Tribunjabar.id)



Teror Pamer Alat Kelamin Bandung Bale Endah Motor Wanita Muda eksibisionis Tasikmalaya


Related Post



Loading...