Advertisement

Kenangan Masa Kolonialisme di Cimahi, Abattoir Terlantar dan Mengelupas Dimakan Zaman

Kenangan Masa Kolonialisme di Cimahi, Abattoir Terlantar dan Mengelupas Dimakan Zaman
Editor: S.N.A Teras Cimahi —Selasa, 19 November 2019 09:11 WIB

Terasjabar.id - Sebagai basis militer sejak zaman penjajahan Belanda, Kota Cimahi memiliki banyak bangunan dengan desain khas dan menarik untuk didatangi, salah satunya Rumah Potong Hewan (RPH) atau rumah jagal.

Bangunan yang dalam bahasa Belanda disebut Abattoir itu merupakan bangunan yang difungsikan sebagai pemasok bahan pangan berupa daging sapi dari Batavia melalui perusahaan Jean & Co sebagai importir sapi dari Australia.

Keberadaan Abattoir di samping rel kereta api Cimahi, menandakan kematangan arsitektur Pemerintah Belanda. Tak hanya memikirkan kolonialisme pada pribumi, mereka juga memikirkan kesejahteraan tentaranya.

Posisinya yang dekat dengan rel itu, memungkinkan kereta berhenti tepat di depan Abattoir dan menurunkan sapi tanpa perlu diternak dari Stasiun Cimahi mengingat jaraknya cukup jauh.

"Memang kebutuhannya memasok pangan untuk tentara yang bertugas di Cimahi. Kereta api dulu bisa berhenti di dekat RPH untuk menurunkan sapi khusus untuk kebutuhan memasok daging," ungkap Pegiat Sejarah Komunitas Tjimahi Heritage, Machmud Mubarok, Selasa (19/11/2019).

Abattoir yang dibuat sejak tahun 1916 dengan gaya bangunan Art Deco itu terus difungsikan hingga masa penjajahan Jepang, lalu masa kemerdekaan, hingga akhirnya diambil alih oleh Resident Priangan.

Saat berada di tangan Resident Priangan dan masa perang kemerdekaan berakhir, lalu RPH diserahkan pengelolaannya pada Pemerintah Kabupaten Bandung sekitar tahun 1960-an.

"Fungsinya tetap sama, sebagai rumah jagal. Baru setelah Cimahi jadi kota administratif tahun 1976, dikelola oleh Pemerintahan Cimahi," ceritanya.

Pria yang karib disapa Mac itu berkisah, berkembangnya permukiman di sekitar lokasi RPH di Jalan Sukimun, RT 03/04, Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi, membuat intensitas jagal semakin berkurang.

"Waktu itu memang ramai, tapi keadaan lingkungan makin banyak permukiman akhirnya membuat RPH itu berhenti dengan sendirinya karena kondisinya tidak memungkinkan," kisahnya.

Akhir perjalanan bangunan dengan pondasi batu bata merah berlapis tembok tebal itu benar-benar berakhir antara medio tahun 1990-2000.

"Tahun 90-an sebetulnya sudah tidak dipakai, tapi baru berhenti sepenuhnya 2000-an. Karena yang utama untuk suplai daging sebetulnya di Andir," terangnya.

Dari kriteria, bangunan rumah jagal yang sekarang mengalami kerusakan cukup parah dan diterlantarkan masuk dalam kategori bangunan heritage.

Selain dari usia yang sudah lebih dari 50 tahun, arsitektur bangunan yang mengusung konsep Art Deco memang dikenal sebagai arsitektur khas zaman Belanda, setelah arsitektur Neo Romantik, Neo Klasik, dan Indische Empire Steel sudah terlalu mainstream.

"Persoalannya kalau ingin mengembalikan jadi bangunan utuh perlu banyak kajian untuk mempertahankan desainnya. Tapi yang terpenting jangan dirusak dan dialihfungsikan jadi yang lain-lain, karena dulu ada rencana jadi apartemen. Lebih baik jadi tempat simulasi dan edukasi soal penjagalan," tandasnya.

Menurut Usi Sanusi (47), warga sekitar RPH atau juga dikenal dengan nama 'Pajagalan' itu memang sudah lama dibiarkan terbengkalai. Kondisi temboknya sudah banyak yang mengelupas, sedangkan jendela, dan beberapa bagian lainnya sudah keropos.

Di sekitar rumah jagal itu, masih terdapat sejumlah rumah lusuh yang dulunya ditempati pegawai RPH. Total luas aset tanah RPH bersejarah itu mencapai 3.910 meter persegi. Sedangkan khusus rumah bekas pegawainya mencapai 1.020 meter persegi.


"Memang RPH ini sejak 1990-an mulai sepi. Tahun 2001 sudah tak berfungsi. Sampai sekarang ya memang dibiarkan seperti ini, tudak terurus," kata Usi saat ditemui.

(SDK)

Kenangan Masa Kolonialisme di Cimahi Abattoir Terlantar dan Mengelupas Dimakan Zaman


Related Post


 


Loading...