Advertisement

Alami Diskriminasi Karena Tato, Pria Ini Justru Rangkul Anak Jalanan dan Dirikan Rumah Singgah

  Alami Diskriminasi Karena Tato, Pria Ini Justru Rangkul Anak Jalanan dan Dirikan Rumah Singgah
(Foto: Whisnu Pradana)
Editor: Dea Teras KBB —Kamis, 7 November 2019 11:47 WIB

Terasjabar.id - Terjerumus cukup lama dalam dunia malam hiburan dan jalanan tanah air, membuat Budianto merasakan jengah dan kegamangan menjalani roda kehidupannya.

Seakan terproyeksikan dari fisiknya, pria yang karib disapa Ato itu memiliki tato di sekujur tubuhnya. Mulai dari gambar tribal, tulisan, block tato di lengan kanan dan kiri bahkan simbol di bagian kepalanya menambah kesan betapa kelam dan liar dirinya.

Namun siapa sangka, pria yang kini sedang menapaki jejak hijrah dalam kehidupan agama dan pribadi, menjadi sosok yang sangat humanis dan perduli dengan sesama, terutama anak-anak jalanan yang termarjinalkan.

Berusaha membuat dirinya bermanfaat, Ato yang juga memiliki nama hijrah Muhammad Malik Ibrahim, mendirikan rumah singgah untuk Forum Komunitas X-Tattoos atau FK X-Tattoos di Jalan Ciburial, RT 01/11, Desa Mekarjaya, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

Berdiri sejak tahun 2013, Ato berusaha menghapuskan stigma buruk masyarakat soal orang-orang bertato yang sebelumnya berurusan dengan hukum maupun orang marjinal.

(Foto: Whisnu Pradana)

 

"Saya sendiri mengalami diskriminasi karena tato saya. Dicibir orang, dicurigai, dituduh yang tidak-tidak itu udah biasa. Saya dirikan rumah singgah ini, biar orang yang senasib dengan saya punya rumah buat pulang dan mereka akan diterima disini," ujar Ato saat ditemui.

Di rumah yang tak terlalu luas, berada di dalam sebuah gang, dengan tetangga di kiri dan kanan, menjadi tantangan tersendiri bagi Ato dan anak jalanan binaannya agar bisa diterima masyarakat.

"Saya tanamkan ke anak-anak, jangan balas cibiran orang dengan kejelekan. Tapi tunjukkan sisi baik kita. Saya sendiri yakin, sebrengseknya seseorang, dia punya sisi baik, itu yang mesti kita berikan sama orang lain," katanya.

Selama berdiri, tak banyak pihak terutama dari instansi pemerintahan yang membantu keberlangsungan komunitas tersebut. Ato bersama istrinya, berjibaku menghidupi hajat anak binaannya tanpa pamrih.

Lambat laun, masyarakat di sekitar rumah singgah mulai menerima keberadaan mereka. Bahkan banyak tokoh politik yang ingin mendulang suara anggota komunitas FK X-Tattoos saat masa pemilu.

Di KBB saja, ia membina sekitar 800 orang anak jalanan dan orang-orang termarjinalkan lainnya. Ia berharap, pemerintah memperlakukan mereka yang kurang beruntung dan kadung terjerumus pada hal negatif dengan lebih manusiawi.

"Kami hanya minta pelatihan yang berkesinambungan, biarkan kami mandiri. Jangan terus disuapi. Sekarang sudah ada bukti kami berubah, ada minimarket yang datang minta beberapa orang anak untuk dipekerjakan sebagai tukang parkir. Sedangkan dari pemerintah nihil," bebernya. (SDK)

Diskriminasi Pria Tato Rangkul Anak Jalanan Rumah Singgah KBB Bandung Barat


Related Post



Loading...