Advertisement

Perang Tomat, Ritual Warga Lembang Buang Sial

Perang Tomat, Ritual Warga Lembang Buang Sial
(Foto: Terasjabar.id)
Editor: Dea Teras KBB —Minggu, 13 Oktober 2019 14:53 WIB

Terasjabar.id - Jejeran keranjang berisi tomat berwarna merah merona beragam ukuran terlihat di jalan Kampung Cikareumbi, RW 03, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (13/10/2019).

Terlihat pula belasan pria memakai baju zirah lengkap dengan helm dan perisai yang terbuat dari bambu. Usut punya usut, mereka akan melangsungkan perang tomat.

Sebelum perang dimulai, ada rangkaian upacara adat menyimbolkan persiapan perang, dimana para wanita penari memberikan peralatan perang tersebut ke pasangannya.

Setelah upacara adat selesai, tibalah waktunya perang tomat dimulai. Awalnya, hanya beberapa buah tomat yang mulai dilemparkan oleh peserta perang tomat yang dibagi menjadi dua kubu.

(Foto: Terasjabar.id)

Tak berselang lama, hujan tomat terjadi di medan perang. Jalan kampung dengan lebar sekitar 3 meter dan panjang 200 meter, seketika berubah menjadi merah.

Ribuan buah tomat dengan berat seluruhnya diperkirakan 1 ton berseliweran dan dengan pasrah menghantam tubuh dan wajah peserta, bahkan penonton yang sekadar hadir di sisi arena.

Kondisi cuaca yang cerah cenderung panas, menambah suasana brutal dalam perang tomat yang berlangsung sekitar 1 jam 30 menit itu. Namun tak terlihat raut kesal atau marah dari orang-orang yang dihantan buah tomat.

"Baru pertama kali ikut gelaran perang tomat ini, memang sengaja datang dari Cimahi. Persiapannya tadi bawa jas hujan keresek biar bajunya engga kotor," ujar Miranti Leany, salah seorang peserta perang tomat.

Abah Nanu Munajar Dahlan (58) alias Abah Nanu Muda ialah penggagasnya. Katanya, perang tomat pertama kali digelar pada tahun 2010 sebagai bentuk kekecewaan petani tomat karena anjloknya harga buah tomat padahal panen melimpah. Bukannya dijual, tomat tersebut dibiarkan membusuk.

"Ketika panen tomat seharusnya para petani itu merasa bangga, gembira dan bersyukur bahwa hasil panen tomat yang melimpah ruah itu akan menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit. Namun ternyata hasil panen tersebut tidak dapat dinikmati hasilnya malah dibiarkan membusuk," ujar Abah Nanu saat ditemui usai perhelatan perang tomat.

(Foto: Terasjabar.id)

Abah melanjutkan, selain harga yang jatuh, ongkos angkut tomat dari kebun sampai ke agen penyalur atau bandar juga begitu mahal dan tidak sesuai dengan modal pupuk serta bibit yang ditanam.

"Hasil panen yang dibiarkan tidak dipanen sebagaimana mestinya itu, menunjukkan bahwa apa yang dilakukan petani adalah bentuk protes terhadap keadaan, baik protes kepada pemerintah yang cenderung dirasa tidak berpihak dengan hasil panen petani, bandar, pedagang, dan juga masyarakat selaku konsumen," tuturnya.

Sehabisnya amunisi tomat dari keranjang, panitia menyemburkan air ke tengah-tengah kerumunan peserta perang tomat. Sambil menari-nari, suasana kebersamaan dan kemeriahan menyeruak seketika.

Sebagian lagi peserta perang tomat membersihkan sampah yang mengotori jalan dan halaman rumah warga. Berbekal karung dan sekop, mereka bergotong royong menyapu sampah membuat lingkungan bersih kembali.

"Jangan mengisakan sampah, ini awalnya bersih dan wajib kembali bersih setelah perang ini. Nanti sampah tomat ini akan kita pakai sebagai pupuk kompos, jadi engga ada yang mubazir," jelasnya.


(SDK)

Perang Tomat Ritual Warga Lembang Buang Sial Bandung Barat


Related Post



Loading...