Advertisement

BEM KM UGM Tidak Akan Hadiri Pertemuan dengan Presiden di Istana, Ini Alasannya

BEM KM UGM Tidak Akan Hadiri Pertemuan dengan Presiden di Istana, Ini Alasannya
Presiden Mahasiswa BEM KM UGM M Atiatul Muqtadir dan rekannya menyampaikan sikap mereka yang tidak akan menghadiri pertemuan BEM dengan Presiden Joko Widodo di Istana, Jumat (27/9/2019). (Foto: iNews.
Editor: Fahrul Maulana Hot News —Jumat, 27 September 2019 14:24 WIB

Terasjabar.id - Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM) tidak akan menghadiri undangan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang rencananya dilaksanakan hari ini di Istana, Jumat (27/9/2019). Mereka beralasan pertemuan itu tidak dilaksanakan secara terbuka.

“Kami tidak akan menghadiri undangan pertemuan dengan Presiden yang diagendakan hari ini,” kata Presiden Mahasiswa BEM KM UGM 2019, M Atiatul Muqtadir di Kampus UGM, Jumat (27/9/2019).

BEM KM UGM hanya bersedia bertemu dengan Presiden jika pertemuan dilaksanakan secara terbuka dan disaksikan oleh publik melalui televisi nasional. Selain itu, mereka mendesak Presiden menyikapi berbagai tuntutan mahasiswa yang tercantum dalam “Maklumat Tuntaskan Reformasi secara tegas dan tuntas.

Menurut Atiatul, aksi demonstrasi yang muncul belakangan ini berasal dari berbagai kantong-kantong kegelisahan masyarakat. Hal ini dipicu kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Aksi yang dilakukan dalam beberapa hari belakangan, tidak hanya melibatkan mahasiswa saja. Kalangan petani dan nelayan yang akan merasakan dampak pelaksanakaan sejumlah RUU yang disahkan juga ikut turun ke jalan.

“Kami menyesali karena undangan ini hanya untuk mahasiswa, tanpa melibatkan perwakilan elemen yang lain,” katanya.

BEM KM UGM juga merasa kecewa dengan tindakan kekerasan yang dilakukan aparat keamanan. Mereka seharusnya bisa menangani aksi demonstrasi sebagai bagian dari aspirasi publik dengan cara-cara persuasif, humanis dan tidak represif.

“Kondisi saat ini mengharuskan Presiden untuk mengambil peran dalam mengusut, menindak dan memberikan sanksi kepada aparat yang melakukan tindak kekerasan,” katanya.

Saat ini, mahasiswa juga sedang berduka atas jatuhnya korban dalam aksi ini. Tidak hanya yang terluka, namun ada yang sampai meninggal dunia. “Kami memandang menghadiri undangan di Istana di tengah kondisi seperti ini merupakan sikap yang kurang etis,” katanya.

BEM KM UGM juga kecewa dengan langkan penangkapan aktivis dan penahanan peserta aksi. Bahkan, Kementerian Riset, Teknologi dan pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) meminta rektor untuk menertibkan mahasiswanya yang berdemonstrasi.

Atiatul mengatakan, pada 2015, BEM juga pernah diundang untuk berdialog di Istana. Saat itu dilakukan pertemuan secara tertutup sehingga sikap BEM menjadi terpecah. “Belajar dari pengalaman itu, kami tidak mau menjadi alat legitimasi penguasa yang dapat melupakan substansi terkait tuntutan aksi,” katanya.

Selain itu, BEM KM UGM tidak mengharapkan ada pertemuan dengan Presiden di Istana. Saat ini, yang dibutuhkan sikap tegas Presiden terhadap tuntutan mahasiswa.

 

(iNews.com)

BEM KM UGM Tidak Akan Hadiri Pertemuan dengan Presiden di Istana Ini Alasannya


Related Post



Loading...