Dua Minggu Setelah Black Box Ditemukan, Percakapan Terakhir Pilot Lion Air JT 610 Akhirnya Terungkap

Malda 9 11 18 Hot News
Dua Minggu Setelah Black Box Ditemukan, Percakapan Terakhir Pilot Lion Air JT 610 Akhirnya Terungkap

Terasjabar.id – Setelah dua minggu black box ditemukan, terungkap fakta baru mengenai rekaman percakapan terakhir Pilot Lion Air JT 610 dengan petugas Air Traffic Controller (ATC) Bandara Soekarno-Hatta.

Black box tersebut telah dievakuasi dan diselidiki, isi percakapan terjadi pada detik-detik sebelum Lion Air dengan rute penerbangan Jakarta-Pangkalpinang tersebut hilang kontak.

Dari rekaman pembicaraan pilot pesawat Lion Air tersebut, Bhavye Suneja sempat meminta agar pesawat kembali ke Base Soekarno-Hatta.


Tidak hanya itu, berikut fakta-fakta mengenai percakapan terakhir Pilot Bhavye Suneja dan co-pilot Hervino dengan pihak ATC sebelum pesawat jatuh ke Tanjung Karawang.

Melansir dari Grid.hot.id pesawat Lion Air JT 610 lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 06.20 WIB kemudian naik ke ketinggian 27.000 kaki tanpa ada hambatan.

Dua menit setelah lepas landas, co-pilot Hervino meminta posisi pesawat dipertahankan berkaitan dengan kondisi pesawat.

Menanggapi permintaan tersebut, pihak ATC menanyakan masalah apa yang terjadi.

Hervino mengatakan adanya masalah pada kendali penerbangan

ATC sempat memerintahkan pesawat dengan rute penerbangan Jakarta-Pangkalpinang tersebut naik ke posisi 5.000 kaki.

Selain itu, ATC juga memerintahkan Sriwijaya Air untuk menghindar dan memberi jalan Lion Air JT 610 lantaran melaju tidak stabil.

Pukul 6.29 WIB pilot kembali mengungkapkan bahwa ada masalah kendali penerbangan, sehingga penerbangan dilakukan secara manual.

Satu menit kemudian, Lion Air JT 610 mengabarkan putar balik ke bandara Soekarno-Hatta karena ada masalah kendali penerbangan dan masalah cuaca hingga disetujui oleh pihak ATC.

Pada menit ke-11 avionik mengalami malfungsi, pilot tidak dapat memastikan posisi pesawat lantaran indikator ketinggian dan sistem lainnya pada avionik menujukkan kesamaan.

Di ketinggian 3.000 kaki, pilot kembali meminta pihak ATC agar memastikan tidak ada penerbangan lain sehingga pesawat Lion Air JT 610 aman menuju jalur Soekarno-Hatta.

ATC kembali menhubungi kesiapan Lion Air untuk mendarat di bandara, namun tidak ada balasan dari pesawat tersebut.

ATC sempat meminta Batik Air untuk 6410 yang berada di sekitar area untuk mengecek secara visual maupun radar posisi dari Lion Air JT 610.

Akan tetapi, Batik Air tidak menemukan keberadaan Lion Air JT 610.

Dilansir dari tribun-video.com menurut hasil inverstigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) berhasil menemukan fakta bahwa, Lion Air JT 610 bukan penerbangan satu-satunya yang menggunakan PK-LQP dalam kondisi rusak.

Sebelum jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 ke tanjung Karawang, Senin (29/10/2018), sebelumya sudah tiga kali ditemukan adanya kerusakan yang sama.

Melansir dari Kompas.com hasil investigasi KNKT menyebutkan, pada penerbangan dari Denpasar ke Jakarta, tercatat adanya perbedaan angle of attack (AOA) atau indikator penunjuk sikap pesawat terhadap arah aliran udara.

"Pada penerbangan dari Denpasar ke Jakarta muncul perbedaan penunjukan AOA, yang mana AOA sebelah kiri berbeda atau lebih 20 derajat dibanding sebelah kanan," ujar Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono di gedung KNKT, Jakarta, Rabu (7/11/2018).

Kini, sensor AOA yang telah dilepas itu sudah dibawa ke kantor KNKT untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan di pabrik produsen komponen tersebut di Chicago, Amerika Serikat.

Sementara itu, Kepala Subkomite Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo mengungkapkan, kerusakan AOA ini merupakan salah satu masalah yang muncul di kokpit sedangkan hingga saat ini cockpit voice recorder (CVR) pesawat Boeing 737 MAX 8 itu belum ditemukan.

"Kita butuh mendengarkan diskusi mereka apa, bagaimana mereka mengambil keputusan dan bagaimana koordinasi kokpit. Ini yang sangat kita butuhkan dari CVR untuk ditemukan," ungkap Nurcahyo.

(Ren/Sumber;TribunWow.com)


Related Post

Comment