Advertisement

Jumat, 9 November 2018 07:10 WIB

Komunikasi Terakhir Pilot Lion Air PK-LQP dengan ATC, Ada Masalah Pada Kendali Penerbangan

Admin B —Hot News
Komunikasi Terakhir Pilot Lion Air PK-LQP dengan ATC, Ada Masalah Pada Kendali Penerbangan

Terasjabar.id - Beredar rekaman percakapan pilot Lion Air PK-LQP, Bhavye Suneja, dengan Air Traffic Controller (ATC) Bandara Soekarno Hatta.

Rekaman tersebut beredar setelah penemuan black box pada dua minggu yang lalu.

Melansir dari Redaksi Sore Trans7 yang tayang pada Selasa (6/11/2018), pesawat Lion Air PK-LQP diduga mengalami kendala pada kendali penerbangan.


Bhavye Suneja harus menggunakan kendali manual dan mematikan autopilot.

–– ADVERTISEMENT ––

Pesawat Lion Air PK-LQP rute Jakarta-Pangkal Pinang dengan nomor penerbangan JT610 hilang kontak setelah 13 menit lepas landas.


Diketahui, pesawat Lion Air PK-LQP lepas landar dari Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 06.20 WIB.

Lion Air PK-LQP naik ke ketinggian 27.000 kaki.

Saat itu pilot Bhavye Suneja belum mendeteksi adanya masalah. Pesawat Lion AIr PK-LQP juga masih mengudara tanpa hambatan.

Setelah itu, kopilot Harvino menghubungi ATC untuk menginformasikan posisi pesawat lain disekitar pesawat Lion Air PK-LQP.

Ia juga memberitahu ATC bahwa pesawat Lion Air PK-LQP akan mempertahankan posisinya terkait dengan kondisi pesawat.

Kemudian, ATC menanyakan apakah pesawat Lion AIr PK-LQP mengalami kendala.

Bhavye Suneja mengaku pesawat Lion Air PK-LQP mengalami persoalan dengan kendali penerbangan.

ATC yang melihat pesawat Lion Air PK-LQP turun dari ketinggian, meminta untuk naik ke 5.000 kaki.

Tak lama berselang, ATC meminta kepada Sriwijaya Air yang tengah melintas untuk menghindari pesawat Lion Air PK-LQP.

Pesawat Lion Air PK-LQP melaju secara tidak stabil.

Pukul 06.29 WIB, pilot Bhavye Sunerja kembali mengungkapkan ada masalah dengan kendali penerbangan dan akhirnya penerbangan dilakukan secara manual.

Setelah 10 menit lepas landas, pilot mengabarkan pesawat PK-LQP kembali ke Bandara Soekarno-Hatta.

Ia juga kembali mengatakan ada masalah dalam kendali penerbangan.

Untuk menguatkan alasan kembali ke bandara, Bhavye Suneja mengatakan cuaca juga tidak mendukung.

Kemudian, ATC menyetujui permintaan Bhavye Suneja untuk membawa kembali pesawat Lion Air PK-LQP ke Bandara Soekarno-Hatta.

Bhavye Suneja juga tidak bisa memastikan ketinggian pesawat karena semua petunjuk di kendali penerbangan sama.

Ia meminta kepada ATC agar memastikan tidak ada pesawat lain yang melintas di jalurnya pada ketinggian 3.000 kaki.

Satu menit kemudian, ATC menanyakan apakah pesawat Lion Air PK-LQP siap runaway.

Namun, tidak ada balasan dari Bhavye Suneja. ATC kehilangan kontak dengan Lion Air PK-LQP.

Kemudian, ATC meminta kepada Batik Air 6410 untuk melihat posisi Lion Air PK-LQP.

Diketahui, black box pesawat Lion Air PK-LQP berhasil ditemukan, tapi ada dua bagian yang lepas karena benturan yang tinggi saat pesawat jatuh di Perairan Tanjung Karawang, Senin (29/10/2018).

Melansir dari Kompas.com, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono mengatakan Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) seharusnya menyatu dengan rangkaian black box.

"Iya benturannya kencang," ujar Soejanto di JITC 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (1/11/2018).

Menurutnya, FDR dan CVR memiliki bentuk yang mirip, yang menjadi pembeda adalah rangkaian kabel dan nomor seri yang tercantum dalam cangkang kedua benda.

"ini kan sudah terpisah dari rumahnya yang kami temukan ini adalah bagian dari crash protection box. Jadi benda ini bagian ini kalau tercelup di air sampai kedalaman 4.000-5.000 mereka tetap tahan juga kalau terjadi impact yang luar biasa," jelasnya.

FDR, kata Soerjanto, menyimpan data penerbangan seperti kecepatan, ketinggian, dan arahan pesawat.

Sementara CVR merekan data tentang percakapan awak pesawat dengan pusat kendali yang ada di darat.

Dalam proses penyelidikan jatuhnya pesawat Lion Air, pihak KNKT dibantu oleh 16 ahli dari Amerika Serikat.

Tim dari Amerika Serikat itu berasal dari Boeing dan The National Transportation Safety Committe (NTSC).

(Ren/Sumber:Tribunjabar.id)






Related Post



Comment