Remaja Asal Belitung ini Ternyata Sudah Konsumsi Air Rebusan Pembalut Sejak 2015, Begini Rasa Air itu Katanya..

Malda 9 11 18 Hot News
Remaja Asal Belitung ini Ternyata Sudah Konsumsi Air Rebusan Pembalut Sejak 2015, Begini Rasa Air itu Katanya..

Terasjabar.id - Akhir-akhir ini ramai diperbincangkan soal perilaku menyimpang baru yang dilakukan sejumlah remaja di daerah-daerah di Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Jakarta.

Fenomena baru dari remaja tersebut adalah mereka mengonsumsi air rebusan pembalut sebagai pengganti narkoba.

Hal ini pun ramai diberitakan dan jadi perbincangan khalayak ramai.

Namun ternyata, fenomena ini bukanlah hal yang baru saja terjadi.


Diberitakan Pos Belitung pada 6 Agustus 2016, remaja yang mengonsumsi air rebusan pembalut, Kujay (14), bukan nama sebenarnya, memberikan penuturannya terkait hal tersebut.

Remaja tanggung yang masih duduk di bangku SMP itu mengaku mengetahui pembalut bisa memabukkan setelah diberi tahu temannya di Tanjungpandan, Belitung.

"Kalau sudah mabuk, asyiknya dibawa berangin (berangin-angin), jalan jalan pakai sepeda motor. Pakai (mengendarai) motor bawaannya tegang. Biasanya pelan, tapi tegang," ucap Kujay kepada Pos Belitung, Senin (1/8/2016) lalu.

Anak baru gede (ABG) yang tinggal di Kecamatan Kelapa Kampit ini menjelaskan bagaimana ia biasa meracik pembalut tersebut.

Kujay mengakui, biasanya jenis pembalut yang ia gunakan adalah yang bersayap (wing).

"Rasanya pahit, kelat," papar Kujay.

Menurutnya, setelah setengah jam meminum rebusan pembalut, rasa seperti mabuk itu baru mulai terasa.

Sedangkan untuk sensasinya, bisa berlangsung selama dua hingga tiga jam.

Mabuknya, jelas Kujay, akan terasa lebih parah dari mabuk minuman beralkohol atau obat batuk kemasan.

"Sekarang ini marak dikonsumsi, pagi, siang, dan sore. Terutama saat ngumpul ngumpul, biasanya kami minum di luar rumah, di tempat sepi," kata Kujay kemudian menambahkan bahwa penikmat mabuk pembalut biasanya anak anak SMP seusianya.

Kujay mengaku, biasanya membeli pembalut di sebuah toko langganannya di Pasar Kelapa Kampit.

Di toko ini, menjual bebas barang-barang yang bisa disalahgunakan.

"Mau obat batuk, pembalut, perekat, dan segala macam, orangnya cuek," kata Kujay.

Sama halnya dengan Kujay, Jontor (16), bukan nama sebenarnya sudah lebih lama merasakan sensasi mabuk pembalut.

"Sejak pertengahan tahun 2015," kata remaja yang duduk di bangku SMA kelas X ini.

Ia menjelaskan, pembalut yang biasa digunakan mabuk biasanya jenis wing dan yang berwarna pink.

"Jika dikonsumsi sendiri, satu atau dua lembar pembalut. Tapi kalau beramai-ramai, biasanya merebus hingga lima lembar," jelasnya.

Menurut Jontor, ada dua cara mengonsumsi pembalut ini.

Pertama, ditetesi menggunakan bensin atau alkohol, setelah itu dihisap, dan yang kedua adalah direbus.

"Ampas pembalut terkadang dibakar, namun saat udah terasa nyaman dan buru buru mau fly, sudah lupa buang ampas, lempar saja ke kotak sampah," ujarnya.

Dalam sehari, kata Jontor, anak anak SMA biasanya diberi uang saku Rp 10 ribu.

Ketika ingin mabuk maka mereka akan iuran untuk membeli pembalut.

"Karena keseringan, bisa dibilang ya (nyandu), karena berkali kali," tutur Jontor,
Ia kemudian mengatakan, penyalahguna pembalut hampir semua dilakukan oleh laki laki.

"Kalau cewek gak ada. Tapi yang mabuk obat batuk dan arak banyak," imbuhnya.

Kandungan dalam Pembalut

Sementara itu, terkait kandungan zat kimia di dalam pembalut wanita, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pada rentang Januari-Maret 2018 pernah melakukan penelitian.

YLKI meneliti produk pembalut dan pantyliner yang beredar di pasaran.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan hampir semua produk pembalut dan pantyliner yang beredar di pasar mengandung klorin.

Dilansir dari TribunJogja.com yang mengutip website resmi YLKI, dalam pengujian itu YLKI menggunakan sampel yang diperoleh dari ritel, dengan menggunakan metode Spektrofotometri.

"Dari hasil pengujian YLKI, 9 merek pembalut dan 7 merek pentyliner semua mengandung klorin dengan rentang 5 s/d 55 ppm.

Kandungan klor yang paling tinggi (54.73 ppm) pada merek Charm dan pada pantyliner kandungan klor tertinggi pada merek V Class (14,68 ppm).

Sedangkan kandungan terendah pada pembalut Softness standard Jumbo Pac (6.05 ppm) dan pantyliner Laurier Active Fit (5.87 ppm).

Tidak hanya uji lab, kami juga menganalisa label produk pembalut dan pantyliner.

Data menunjukan sebagian besar (52%) produk tidak mencantumkan komposisi pada kemasan produk dan sebagian besar (57%) produk tidak mencantumkan tanggal daluarsa.

Dan dari hasil pengujian serta analisa label bahwa pembalut dan pantyliner yang berasal dari kertas memiliki kadar klorin lebih tinggi dibandingkan yang berasal dari kapas," demikian hasil pengujian yang disiarkan melalui siaran pers pada 2015 tersebut.

Selain itu, dikutip TribunJogja dari Naturally Savvy, tak hanya mengandung klorin, pembalut juga diketahui menggunakan bahan lainnya dimana bahan tersebut berguna untuk menyerap cairan.

Misalnya saja, pembalut menggunakan bubuk Sodium Polycrylate, yaitu polimer sintetis yang digunakan dalam kosmetik dan produk perawatan pribadi lainnya karena kemampuannya menyerap sebanyak 200 hingga 300 kali massanya dalam air.

Sodium Polycrylate ini terlihat seperti bubuk putih ketika kering.

Namun, bubuk itu akan berubah menjadi zat seperti gel ketika basah, dan terutama digunakan sebagai agen pengental.

Sodium Polyacrylate juga digunakan dalam berbagai formula karena sifat-sifat lainnya, termasuk sebagai agen penyerap, penstabil emulsi, emolien, dan agen peningkatan viskositas.

Sodium Polyacrylate juga digunakan dalam bahan pembersih dan deterjen karena kemampuannya untuk mengikat elemen air keras seperti kalsium dan magnesium, memungkinkan surfaktan bekerja lebih efektif.

(Ren/Sumber:TribunWow.com)

Related Post

Comment