Advertisement

Kenaikan Cukai Rokok, Tren Vape, dan Masalah Defisit BPJS Kesehatan

Kenaikan Cukai Rokok, Tren Vape, dan Masalah Defisit BPJS Kesehatan
Tren vape kini makin naik daun. (Foto: iStock)
Editor: Putri Sulastri Teras Health —Senin, 16 September 2019 09:20 WIB

Terasjabar.id- Pemerintah sepakat menaikkan tarif cukai rokok sebesar 23 persen dan harga jual eceran sebesar 35 persen mulai 1 Januari 2020. Naiknya cukai dan harga rokok diharapkan mampu menekan angka perokok aktif di Indonesia karena harga rokok yang ikut naik.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kemungkinan orang-orang yang semakin banyak pindah ke rokok elektrik (vape) karena naiknya harga rokok konvensional. Terkait kebijakan ini, dr Agus Dwi Susanto, SpP (K), FISR, FAPSR, Dokter Spesialis Paru di RS Persahabatan, Jakarta Timur berkomentar bahwa tanpa kebijakan tersebut saja pengguna vape sudah semakin meningkat.

Menurutnya yang harus diperhatikan adalah regulasi terkait penggunaan vape. Tidak adanya regulasi yang mengatur vape di Indonesia membuat aksesibilitas terhadap vape menjadi sangat mudah. Padahal menurut dr Agus, baik rokok konvensional maupun elektrik sama-sama berbahaya.

"Tentu ini harus jadi hal yang diperhatikan. Terlebih regulasi mengenai vape di Indonesia belum ada. Ini justru lebih membahayakan bagi masyarakat terutama remaja dan anak-anak," kata dr Agus saat ditemui di Kursus Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran (KPPIK) di FKUI dan ditulis Senin (16/9/2019).

Selain membahayakan paru dan risiko terkena lipoid pneumonia, vape juga ternyata berbahaya bagi mental dan kejiwaan seseorang. dr Tribowo Ginting, SpKJ, dari RS Persahabatan mengatakan bahwa kandungan nikotin yang terdapat dalam vape dapat meningkatkan dopamin yang dapat memberikan efek relaks dan nyaman pada tubuh seseorang. Hal ini dapat memberikan efek kecanduan.

Kandungan vape lainnya seperti ganja dan amfetamin juga dapat meningkatkan risiko gangguan kondisi mental pada pengguna vape. Penggunaan vape secara terus menerus dapat memunculkan efek halusinasi dan kondisi gangguan mental lain.

Pada akhirnya kebiasaan merokok yang tidak sehat ini disebut-sebut menjadi salah satu penyebab terbesar defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2018 lalu BPJS Kesehatan tekor 16,5 triliun rupiah akibat harus membiayai pengobatan kondisi yang berkaitan dengan konsumsi rokok seperti sakit jantung, stroke, hingga kanker.

(Detik.com)

Kenaikan Cukai Rokok Tren Vape dan Masalah Defisit BPJS Kesehatan.


Related Post


 


Loading...