Advertisement

Sempat Jadi Polemik, Susu Kental Manis Bukan Penyebab Kegemukan!

Dea 7 11 18 Life Style
Sempat Jadi Polemik, Susu Kental Manis Bukan Penyebab Kegemukan!

Terasjabar.id - Semua orang rasanya sudah begitu paham bahwa dalam proses tumbuh kembang kita sebagai manusia, kehadiran susu dengan segala kandungan nutrisinya memang menjadi asupan yang penting.

Bicara soal susu, belum lama ini muncul polemik di kalangan masyarakat Indonesia bahwa salah satu minuman berbasis susu yakni susu kental manis itu dianggap sebagai penyebab terjadinya kegemukan, salah satunya pada anak-anak. ‘Jangan minum susu kental manis terus, nanti gendut,’ adalah kalimat yang familiar kita dengar bukan?

Kenyataannya, sebagaimana dipaparkan oleh Ir. Achmad Syafiq MSc. PhD, selaku Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dalam persentasinya, sejauh ini belum ada bukti secara ilmiah yang menemukan susu kental manis menjadi faktor penyebab terjadinya kegemukan. Kandungan gulanya sendiri, berdasarkan saran penyajian per hari yang tercantum di label pangan menurut kategori susu itu disebutkan bahwa gula pada susu kental manis setara dengan susu bubuk jika didasarkan atas saran penyajian.

“Tidak ada bukti ilmiah susu kental manis menyebabkan gangguan penyakit. Berdasarkan kajian lembaga kesehatan dunia (WHO) kegemukan disebabkan banyak faktor di antaranya rendahnya aktivitas fisik, rendahnya asupan serat, dan tingginya asupan energi harian total, bukan dari satu jenis pangan,” kata Syafiq saat ditemui Rabu (7/11/2018) dalam acara seminar kesehatan “Kebaikan Susu sebagai Salah Satu Sumber Gizi Utama Masyarakat Indonesia oleh Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik” di bilangan Jakarta Pusat.

Meluruskan anggapan yang selama ini beredar di masyarakat, bahwa yang namanya susu kental manis itu hanya mengandung gula saja tidak ada nutrisinya sama sekali. Syafiq menjelaskan, bahwa susu kental manis itu sejatinya diproduksi dengan melalui standar yang ada. Yakni didasarkan kepada rumusan Codex Alimentarious Commission (Codex Stan 282-1971) dan Standar Nasional Indonesia (SNI) 2971-2011.

Sesuai standar tersebut, susu kental manis harus mengandung protein minimal 6,5-9,52 persen dan kadar lemak minimal 8 persen. Syafiq juga menegaskan susu kental manis juga memiliki kandungan energi yang diperlukan untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat, termasuk anak-anak. Oleh karenanya, susu kental manis tidak masalah dikonsumsi secara proporsional.

“Ya kalau sudah berlebih, pangan olahan apapun juga tidak boleh,” tegasnya.

Sedangkan lebih spesifiknya, dari analis data Riskesdas tahun 2018 menyebutkan bahwa penyebab kegemukan pada anak usia sekolah itu bukanlah karena konsumsi makanan berisiko seperti gula, garam, lemak, dan berpengawet. Melainkan karena kurangnya aktivitas fisik, atau pendek kata anak-anak ini kurang bergerak.

Kecemasan akan konsumsi energi dan gula berlebih akibat susu kental manis selama ini nyatanya memang keliru. Perlu diketahui, konsumsi rata-rata susu kental manis pada anak balita di Indonesia itu tergolong rendah, yaitu 9,4 gram per hari dan pada anak usia sekoilah hanya 4,2 gram per hari.

Dengan demikian, maka kontribusi konsumsi gula bersumber dari susu kental manis masih lebih rendah (4,94 gram/hari dan 2,21 gram/ hari) jika dibandingkan dengan anjuran Permenkes 30/2013 mengenai konsumsi gula yakni 50 gram per harinya atau dengan kata lain 10persen dan 5persen dari yang diperbolehkan Permenkes 30/2013.

(Sasa/sumber:Okezone.com)

Related Post

Comment