Advertisement

Selasa, 10 September 2019 10:43 WIB

Curhat Warga Desa Digital di Sukabumi, Berburu Sandi untuk WiFi Gratis

S.N.A —Opini Anda
Curhat Warga Desa Digital di Sukabumi, Berburu Sandi untuk WiFi Gratis
Foto: Syahdan Alamsyah

Terasjabar.id - Samsul (28), terlihat kebingungan. Jari-jarinya berulangkali menyentuh logo konektivitas layanan nirkabel atau Wifi di layar ponselnya. Ia enggan beranjak dari posisinya di atas motor tepat di depan kantor desa. Sebab bergeser sedikit saja, maka jaringan Wifi tidak terdeteksi.

Dilansir dari Detik.com, Ada dua sambungan Wifi terdeteksi, keduanya menggunakan huruf besar. Koneksi pertama dinamai DTP 1 dan yang kedua DTP 2. Menurut Samsul layanan yang kedua biasanya bebas digunakan, meskipun sandi kerap diubah oleh pihak Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi.

"DTP 1 tidak bebas, DTP 2 kan anu (yang) bebas teh, cuma harus pakai kata sandi, kemarin saya punya sandinya namun sepertinya diubah (lagi)," kata Samsul warga setempat kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Desa Sirnarasa dipilih pemerintah menjadi desa digital di Jabar. Peresmiannya dilakukan langsung Menteri Komunikasi dan Informatika melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan informatika (Bakti) pada 14 April lalu. Gubernur Jabar Ridwan Kamil pun hadir..

"Tadi saya dengar warga di sini harus lari ke tempat yang lebih tinggi hanya untuk memperoleh layanan internet. Sekarang tidak usah, di kantor desa tersedia layanan internet wifi gratis silahkan digunakan. Kita siapkan layanannya," kata Rudiantara saat itu usai meresmikan layanan desa digital.

Sayangnya, hampir 5 bulan ini akses internet tidak lagi benar-benar 'gratis' dirasakan warga. Warga harus memiliki kata sandi yang diberikan pihak desa, setiap saat sandi terus diubah hingga membuat warga sulit mengakses layanan tersebut.

"Saya niatnya mau nanyain soal pekerjaan, tapi enggak masuk. Kalau warga pakai internet beragam, ada yang buat Youtube, Facebook dan telepon gratis melalui Whatsapp," tutur Samsul.

Samsul menyebut ia pernah diberi bocoran soal sandi untuk masuk ke jaringan Wifi DTP 1, saat itu seorang pegawai di desa memberikan kata sandi. Namun akses itu sudah tidak bisa lagi ia gunakan karena kemungkinan sandi sudah diubah.

"Kemarin sudah masuk (koneksi) sekarang enggak masuk lagi berarti (sandi) di ganti. DTP 1 pernah masuk karena diberi sandinya, katanya Wifi bebas untuk masyarakat tapi password diganti-ganti aja," keluhnya.

Curhat Warga Desa Digital di Sukabumi, Berburu Sandi untuk WiFi GratisFoto: Syahdan Alamsyah


Samsul menyadari, konektivitas berbasis satelit yang diterapkan di desanya terbatas karena beban yang tinggi. Pengguna banyak sementara kecepatan terbatas membuat pihak desa terpaksa membatasi penggunaannya.

"Wifi memang berguna, kalau bisa masuk jaringan internet komunikasi dengan yang jauh bisa lewat Whatsapp. Seperti sekarang mau nelepon urusan kerja, sinyal enggak ada dan enggak masuk Wifinya. Kecepatan enggak benar-benar tinggi, kalau banyak yang pakai lemot," ujarnya.

Senada dengan Samsul, Ratih warga lainnya mengeluhkan lemotnya jaringan dan kata sandi yang dirubah. Selain itu menurutnya jaringan Wifi hanya aktif ketika jam masuk kantor desa, selepas itu jaringan menghilang.

"Hese lila (susah dan lama) mau mengaktifkan teh, kalau masuk lemot. Dipakai 10 orang juga lemot. Sekarang sudah tidak dibebaskan, ganti- ganti kata sandinya. Desa kerja baru internet aktif, kalau hari libur enggak aktif. Hanya yang punya sandi bisa Wifi. Kalau mau Wifi juga HP dibawa dulu sama orang desa, kita enggak dikasih tahu sandinya," tuturnya.

Konektivitas internet di Desa Sirnarasa menggunakan satelit, sebuah parabola berukuran kecil kokoh berdiri di depan halaman kantor desa. Di piringan parabola masih terlihat jelas tulisan BAKTI dan DTP yang merupakan kependekan dari PT Dwi Tunggal Putra selaku penyedia layanan.

Curhat Warga Desa Digital di Sukabumi Berburu Sandi untuk WiFi Gratis



Related Post


 


Comment