Advertisement

Psikolog Dampingi Keluarga Korban Lion Air Saat Tabur Bunga

Malda 6 11 18 Hot News
Psikolog Dampingi Keluarga Korban Lion Air Saat Tabur Bunga

Terasjabar.id - Pemerintah bersama keluarga korban penumpang Lion Air PK-LQP akan menggelar prosesi tabur bunga di lokasi diduga jatuhnya pesawat nahas itu. Momen ini disebut akan sangat sensitif bagi para keluarga korban sehingga psikolog akan melakukan pendampingan.

"Ya kita ada di sini untuk pendampingan pada keluarga bahwa kita mengantisipasi bahwa momen ini akan menjadi momen yang sangat sensitif buat mereka, terutama bagi keluarga yang selama ini masih pada fase deny, deny itu nggak percaya. Ada tapi belum percaya bahwa betul keluarganya sudah mengalami kecelakaan karena jenazahnya belum ditemukan, belum diserahkan kepada keluarga. Mereka masih berharap-harap," ujar psikolog Tri Iswardani dari Himpsi Jaya atau Himpunan Psikologi Indonesia Wilayah DKI Jakarta di atas KRI Banda Aceh, pelabuhan Konlilamil, Tanjung Priok, Selasa (6/11/2018).

Tri mengatakan, proses tabur bunga bisa menunjukkan realitas kepada para keluarga korban bahwa benar pesawat tersebut jatuh ke laut.

"Dengan adanya kunjungan ini, maka fakta ditunjukkan kepada mereka. Otomatis mereka harus melihat lebih real, lebih nyata, oh ini betul terjadi kecelakaan di tempat ini, di titik ini. Mungkin itu akan menimbulkan reaksi kembali harus menerima pil pahit," sebut dia.

Tri mengatakan psikolog akan mengantisipasi emosi berlebihan dari para keluarga korban jika muncul. Dikhawatirkan emosi tersebut malah dapat membahayakan diri dari keluarga korban itu sendiri.

"Sebetulnya itu yang terjadi, makanya kami ada di sini untuk membantu para keluarga yang menampilkan emosi yang berlebihan, emosi yang meluap-luap yang membahayakan keamanan atau keselamatan diri sendiri itu kita ada di sini untuk menenangkan mereka, membantu menenangkan mereka. Tapi kebanyakan mereka datang dengan keluarganya, kami hanya mengantisipasi dan bersiap membantu saja di belakang. Kami mengutamakan keluarga sendiri yang membantu karena itu adalah pendampingan yang paling alamiah pada keluarga yang mengalami musibah ini," jelasnya.

Meski demikian, Tri menegaskan emosi merupakan hal yang wajar. Keluarga korban boleh saja menampilkan emosi karena itu merupakan sesuatu yang alamiah dalam kondisi seperti ini.

"Jadi menurut saya kita biarkan mereka menampilkan reaksi yang sealamiah mungkin sesuai dengan kemampuan masing-masing karena pada dasarnya punya natural healing power agar pemulihan itu berjalan senatural mungkin. Artinya, kita melindungi dari adanya gangguan-gangguan dari luar yang memperparah kondisi yang ada saat ini. Karena mereka sudah sedih, jangan ditambahi lagi ditanya-tanya melulu kayak gitu," ucap Tri.

Pendampingan bagi keluarga korban pun, Tri melanjutkan, tak akan dipaksakan. Jika keluarga enggan didampingi psikolog, mereka tak akan memaksa.

"Pertanyaan-pertanyaan memaksakan pertolongan, merasa harus mendampingi itu loh. Kalau mereka nggak mau ya udah, jalan. Kita harus hati-hati, kita lihat dulu apakah mereka memang membutuhkan assistant. Ada perkenalan diri," jelasnya.

Ada salah satu keluarga korban yang keberatan dengan prosesi tabur bunga. Tri memandang wajar hal itu.

"Sebetulnya kalau orang tabur bunga itu kan sudah jelas meninggal dunia. Padahal, sebagian besar mereka masih berharap keluarganya masih ada, masih selamat. Mereka menganggap istilah tabur bunga ini terlalu cepat. Jadi sebetulnya, ya, yang lebih tepat bagi mereka adalah ini adalah doa bersama, mengunjungi lokasi untuk melihat dan berdoa bersama," katanya.

Sebelumnya, acara doa bersama dan tabur bunga ini disampaikan oleh Panglima Koarmada I Laksamana Muda TNI Yudo Margono. Dua KRI akan berangkat dari Kolinlamil Tanjung Priok, Jakut ke lokasi jatuhnya Lion Air dengan jarak 24 mil.

"Besok pagi KRI Banjarmasin dan KRI Banda Aceh yang rencana akan berangkat 6 November pukul 08.00 WIB," ujar Yudo di hadapan para keluarga korban di Hotel Ibis, Cawang, Jakarta Timur, Senin (5/11).

(Tika/Sumber:Detik.com)

Related Post

Comment