Advertisement

Meninggalnya penyelam Syachrul Anto di tengah misi SAR Lion Air jadi sorotan dunia

S.N.A 4 11 18 Hot News
Meninggalnya penyelam Syachrul Anto di tengah misi SAR Lion Air jadi sorotan dunia

Terasjabar.id- Penyelam Syachrul Anto gugur di tengah tugas mulia, dalam misi kemanusiaan mengevakuasi puing Lion Air PK-LQP dan 189 orang yang ada di dalamnya. Misi di Tanjung Karawang hanya satu di antara rekam jejaknya yang panjang sebagai relawan SAR.

Anggota Indonesia Diver Rescue tersebut sebelumnya juga terjun dalam pencarian korban pesawat Air Asia QZ8501 yang jatuh di Selat Karimata. Bahkan sebelum bergabung dengan tim Basarnas dalam evakuasi Lion Air, ia baru pulang dari Palu, untuk membantu korban gempa dan tsunami di sana.

Tak hanya dikabarkan media di Indonesia, yang disambut rasa duka dan simpati atas perjuangan almarhum, meninggalnya Syachrul Anto di tengah evakuasi Lion Air juga menyebar ke sejumlah penjuru dunia.

Situs berita Singapura, Channel News Asia memuat artikel berjudul, Diver dies during search mission for crashed Lion Air plane.

Media India, First Post memuat artikel berjudul, Indonesia Lion Air flight crash: 48-year-old diver dies while searching for body parts, debris in Java Sea.

Tak ketinggalan, situs The Wall Street Journal mengunggah artikel berjudul, Indonesian Diver Dies in Recovery Operations for Lion Air Jet.

Dalam artikel berjudul, Lion Air: Indonesian rescue diver dies while searching for victims of jet crash near Jakarta, situs ABC Australia mengungkapkan, tim penyelam punya peran krusial untuk mengevakuasi bagian tubuh awak maupun penumpang yang ada di pesawat yang mengalami kecelakaan pada Senin 29 Oktober 2018, dalam perjalanan dari Jakarta menuju Pangkalpinang. Untuk kepentingan identifikasi.

"Juga untuk menemukan apa yang terjadi pada Boeing 737 MAX, pesawat anyar, yang celaka pada Senin pagi di Laut Jawa, 13 menit setelah lepas landas dari Jakarta," demikian dimuat abc.net.au.
Gugurnya Syachrul Anto di tengah tugas sejauh ini juga dikabarkan banyak media lain, dari sejumlah benua: Asia, Australia, Amerika Serikat, Eropa.

Tak hanya mengevakuasi bagian jasad, yang jumlahnya mencapai 73 kantung jenazah pada Sabtu 3 November 2018, para penyelam juga berjasa mengangkat puing-puing pesawat, termasuk instrumen perekam data penerbangan atau flight data recorder (FDR) yang didapat pada Kamis lalu.

Sementara itu, Kabasarnas Marsekal Madya Muhammad Syaugi mengatakan, Syachrul gugur bukan karena menyalahi prosedur penyelaman.

"Prosedur semua telah dilakukan, sudah dilewati, tidak ada yang keliru. tidak ada yang terlewat. Baik kesehatan, peralatan hingga teknik berangkat ke medan operasi sudah siap semua," katanya di JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (3/11).

Bahkan, katanya, semua penyelam yang jumlahnya lebih kurang 100 orang adalah berpengalaman juga profesional.

"Semua penyelam ini andal dan profesional, saya lihat sendiri," tegas Syaugi.

(Nada/Sumber:Merdeka.com)

Related Post

Comment