Advertisement

Mattobi'in, Pemburu Telur Penyu untuk Konservasi di Karimunjawa

Dea 4 11 18 Hot News
Mattobi'in, Pemburu Telur Penyu untuk Konservasi di Karimunjawa

Terasjabar.id - Populasi penyu di Karimunjawa hingga saat ini masih dilestarikan melalui penetasan telur secara alami di Pulau Legon Jaten. Di balik proses penghidupan baru penyu itu tak lepas dari usaha keras Mattobi'in, seorang nelayan dan pemburu telur dari Karimunjawa.

Tiap pagi, saat matahari baru muncul, pria berusia 51 itu menaiki perahu kayunya mengelilingi pulau-pulau yang ada di Karimunjawa. Dia mencari sarang-sarang telur penyu di bibir-bibir pantai.

Sarang itu kemudian diidentifikasi, diambil telurnya untuk dipindah ke sebuah ember berisi pasir. Selanjutnya dibawa menuju tempat penetasan alami di Pulau Legon Jateng untuk diserahkan kepada petugas di bawah naungan Taman Nasional Karimunjawa.

"Tiap pagi, setelah mengisi solar perahu, langsung berkeliling ke pulau-pulau. Karena hampir semua pulau di sini ada telur penyu. Setelah dapat saya bawa ke Pulau Legon Jaten untuk proses penetasan. Saya serahkan ke pengelola konservasi dari Taman Nasional Karimunjawa" ujarnya kepada detikcom, Minggu (4/11/2018).


Proses pengambilan telur tidak boleh sembarangan. Identifikasi awal adalah dengan adanya jejak kaki penyu sekitar beberapa meter dari bibir laut. untuk mengetahui keberadaan telur, menggunakan batang kayu ke dalam sarang.

"Pakai kayu, jika ada telur pasti terasa. Memang proses ini membuat sebagian telur rusak, tapi itu cafa identifikasi awal. Nah, kalau ada telur itu saya ambil dengan hati-hati," lanjutnya.


Telur yang diambil itu ditaruh di ember berisi pasir yang punya suhu udara sama persis dengan sarangnya. "Kalau tidak seperti itu telur akan rusak atau gagal menetas," papar dia.


Untuk satu sarang, Mattobi'in dapat mengumpulkan 60 sampai 100 lebih telur penyu. Sementara dalam satu hari, dia menemukan sedikitnya tiga sampai lima sarang.



"Tiap harinya dapat banyak, bisa tiga sampai lima sarang. Satu sarang saya taruh di dua ember," ucapnya.

Usaha tersebut sudah dilakukannya sejak 2003 silam. Dirinya menyampaikan jika upaya mengumpulkam telur penyu itu mendapat ganti rugi bahan bakar minyak (BBM) dari konservasi. Hingga saat ini, kendala yang dihadapi adalah predator telur dan pengambilan telur secara liar oleh nelayan.

"Maka saya berangkat pagi untuk menghindari predator seperti biawak. Lagi, harus berebut (waktu) dengan nelayan nakal yang ambil telur secara liar. Saya dari konservasi istilahnya dapat ganti rugi solar dari proses pengumpulan telur," tuturnya.


Meski demikian, dia tidak pernah mempersoalkan nelayan nakal tersebut yang terus menyalahgunakan telur penyu.

"Dijual kan mahal. Tapi ketika saya bertemu mereka ya sudah lah saya biarkan. Pernah, saya pernah bertemu. Saya memilih untuk mengumpulkan telur untuk Taman Nasional Karimunjawa. Ya, supaya populasi penyu tetap terjaga," tandasnya.

 


(Sasa/Sumber:Detik.com)

 

Related Post

Comment