Kereta Cepat Jadi Ancaman Pengusaha Bus?

S.N.A 17 6 19 Teras Bisnis
Kereta Cepat Jadi Ancaman Pengusaha Bus?

Terasjabar.id - PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mengumumkan harga tiket Kereta Cepat Jakarta-Bandung (JKT-BDG) yang mereka usulkan dijual mulai dari US$ 16 atau sekitar Rp 227.200 asumsi kurs saat ini, Rp 14.200 per dolar AS.

Harga tiket berdasarkan studi kelayakan (feasibility study) yang dilakukan US$ 16. Nanti tarif resminya akan ditetapkan bersama regulator.

Lantas, dengan asumsi harga tiket kereta cepat di kisaran tersebut, apakah menjadi ancaman buat bisnis transportasi darat seperti bus? Informasi selengkapnya ada di berita berikutnya.

Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno mengatakan, kereta cepat dan bus memiliki pangsa pasar yang berbeda. Harga tiket kereta cepat diusulkan oleh pihak kontraktor mulai dari US$ 16 atau setara Rp 227.200 mengacu kurs saat ini, Rp 14.200 per dolar AS.

Menurutnya, dengan asumsi harga tersebut tidak akan mengganggu bisnis bus. Pasalnya bus untuk kelas menengah ke bawah dengan harga yang lebih murah. Lagipula tidak semua daerah dijangkau oleh kereta cepat. 

"Ya saya kira kalau bus nggak lah (kehilangan penumpang), bus itu kan beda, segmennya beda, kalau bus itu mereka menengah ke bawah biasanya, dan yang dituju ke mana daerahnya," kata dia kepada detikFinance, Jakarta, Minggu (16/6/2019).

Justru nantinya pengguna kendaraan pribadi yang bakal beralih ke kereta cepat. Pasalnya kondisi di tol akses Jakarta-Bandung saat ini kerap macet hingga butuh waktu berjam-jam. Sementara kereta cepat menawarkan kecepatan waktu.

"Sebenarnya kalau memindahkan itu bukan sesama angkutan umum, tapi kendaraan pribadi itu," sebutnya.

Cuma yang jadi tantangan adalah ketika Tol Jakarta-Cikampek Elevated sudah rampung dan beroperasi. Jika tol tersebut membuat akses Jakarta-Bandung lebih lancar, bisa-bisa malah kereta cepat tidak laku.

Organisasi Angkutan Darat (Organda) mengaku tak khawatir keberadaan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (JKT-BDG) bakal merebut penumpang bus. Pihaknya menilai kereta cepat lebih mahal, sehingga penumpang bus diyakini tetap ada.

Ketua Umum DPP Organda Andrianto Djokoseotono mengatakan, meski pengusaha angkutan darat tak khawatir mereka akan tetap melihat bagaimana nantinya pengaruh kereta cepat yang direncanakan mulai beroperasi 2021.

"Kekhawatiran tidak ada, pengaruh ya kita lihat nanti pengaruhnya seberapa besar. (Kereta cepat) kan biayanya juga jauh lebih tinggi walaupun lebih cepat," katanya kepada detikFinance, Jakarta, Minggu (16/6/2019).

Menurutnya, bus memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh kereta cepat, misalnya bus memiliki tempat keberangkatan yang lebih fleksibel. Jumlah tempat yang bisa dijangkau juga lebih banyak.

Sementara itu, biaya menggunakan kereta cepat juga tentunya bakal bertambah dengan biaya menuju ke stasiun.

"Tempat keberangkatan yang lebih fleksibel ya kan, jumlah tempat destinasinya juga beda-beda, kereta cepat ada berapa stasiun kan bisa dibandingkan, menuju ke tempat kereta sehingga total waktu tempuh dan biayanya menjadi satu kan," tambahnya.

Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno menilai harga tersebut terjangkau, mengingat tiket kereta api Argo Parahyangan Priority milik PT KAI saja dijual Rp 290 ribu dan tetap laris. Masalahnya adalah akses bagi pengguna yang nantinya menggunakan kereta cepat saat beroperasi di 2021.

"Kalau saya bandingkan dengan Kereta Argo Parahyangan sih nggak (mahal) ya, sekarang Argo Parahyangan (Priority) 250 ribu laris tuh, cuma masalahnya gini, (kereta cepat) aksesibilitasnya itu," kata dia kepada detikFinance, Jakarta, Minggu (16/6/2018).

Dia mencontohkan orang yang menggunakan kereta api ke Bandung dari Jakarta aksesnya mudah menuju Stasiun Gambir. Nah, akses masyarakat yang mau naik kereta cepat ke status yang berlokasi di Halim pun harus mudah.

"Karena kalau Jakarta murah itu tergantung aksesnya kok sekarang, masyarakat itu selama aksesnya mudah mereka nggak lihat harga berapa ya beli," ujarnya.

Untuk Jakarta, lanjut dia setidaknya tertolong dengan keberadaan LRT Jabodebek yang nantinya beroperasi. Namun terhadap warga di Bandung, bagaimana akses menuju stasiun di Walini harus diperhatikan.

"Nah di Bandung gimana, turun di (Walini) sana ngapain, ke kota Bandungnya sendiri gimana orang sampai Bandung, itu harus disiapkan angkutan umumnya," tambah dia.

(detik.com)

Related Post

    Article not found!

Comment