Kesadaran Deteksi Dini Demi Cegah Thalassemia

Nada 22 5 19 Teras Health
Kesadaran Deteksi Dini Demi Cegah Thalassemia

Terasjabar.id-  Tanggal 8 Mei lalu diperingati sebagai Hari Thalassemia Sedunia. Peringatan ini ditujukan tak hanya sebagai dukungan pada pasien thalassemia tetapi juga orang tua pasien dalam memperjuangkan putra- putri mereka agar tetap hidup layak. Tahun ini dunia mengambil tema 'Putuskan Mata Rantai Thalassemia'. 

Tema ini mengajak masyarakat untuk memutus mata rantai thalassemia mayor dengan cara skrining atau deteksi dini agar individu mengetahui apakah mereka pembawa sifat thalassemia atau bukan. 

Thalassemia merupakan penyakit kelainan sel darah merah yang bersifat genetik atau keturunan. Indonesia masuk ke dalam 'sabuk thalassemia' dunia, artinya negara dengan frekuensi gen (angka pembawa sifat) thalassemia yang tinggi. Saat ini, terdapat lebih dari 10.531 pasien thalassemia di Indonesia, dan diperkirakan 2.500 bayi baru lahir dengan thalassemia setiap tahunnya di Indonesia.

Cut Putri Ariane, Dirjen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan mengatakan pasien thalassemia mayor mengalami kehilangan produktivitas dan biaya perawatan yang tidak sedikit. Hingga September 2018 lalu, BPJS mencatat thalassemia memakan biaya sebesar Rp397 miliar. Thalassemia masuk lima besar penyakit dengan biaya terbesar versi BPJS. 

"Tantangan kita, pembawa sifat thalassemia tidak terdeteksi. Maka perlu kesadaran deteksi dini untuk mencegah penurunan penyakit," kata Cut melalui sambutannya dalam Seminar Awam Thalassemia di Gedung Kementerian Kesehatan, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (20/5). 

Deteksi dini, kata dia, diutamakan bagi keluarga pasien thalassemia. Mereka yang membawa sifat thalassemia (thalassemia minor) tidak merasakan gejala apapun dan hidup normal maka tak heran jika kesadaran untuk deteksi dini cukup rendah. 

Dalam kesempatan serupa, Iswari Setianingsih, dokter spesialis anak, mengatakan untuk mereka yang membawa sifat thalassemia tidak akan menimbulkan masalah untuk dirinya. Masalah baru akan timbul jika pembawa sifat menikah dengan sesama pembawa sifat. 

"Dua-duanya bawa sifat, ada kemungkinan 25 persen anak akan mengalami thalassemia mayor. Ini kemungkinan di tiap pembuahan ya, bukan anak pertama sakit lalu ingin anak yang enggak sakit maka mau anak kedua," jelas Iswari. 

Pembawa sifat diusahakan menikah dan memiliki anak dengan yang normal atau nonpembawa sifat. Anak kemungkinan ada yang normal dan pembawa sifat tanpa thalassemia mayor.

Sementara itu, thalassemia mayor merupakan suatu kondisi thalassemia di mana pasien perlu melakukan transfusi darah rutin dan konsumsi obat khelasi besi untuk mengeluarkan kelebihan zat besi tubuh. Pasien thalassemia mayorlah yang memakan biaya perawatan cukup tinggi. Per tahun, satu pasien memerlukan biaya Rp300-400 juta untuk transfusi rutin dan obat khelasi besi. 

Cut menambahkan deteksi dini baiknya juga dilakukan untuk penyakit tidak menular lain mulai dari cek tekanan darah, berat badan, lingkar tubuh juga kadar gula darah. Dia menyebut penyakit tidak menular adalah silent killer. 

"Sekitar 7 dari 10 orang Indonesia enggak tahu kalau terkena penyakit tidak menular. Tiga ini tahu tapi hanya satu yang berobat teratur," katanya.

Related Post

Comment