Kisah 'Nyoblos' di Tengah Lautan Lepas

Nada 13 4 19 Politik
Kisah 'Nyoblos' di Tengah Lautan Lepas

Terasjabar.id-  Pemilu di samudera Atlantis Tahun 2019 disebut sebagai tahun politik di Indonesia, karena di tahun ini seluruh warga negara Indonesia akan memilih presiden dan wakil presiden baru untuk memimpin Tanah Air di masa depan.

Euforia pemilihan umum (pemilu) bukan hanya terasa di dalam negeri. Kami, para perantau di luar negeri, juga ikut merasakannya. Di lini masa media sosial saya ramai cuitan bernada antusias soal pemilu. Baik teman di Indonesia dan teman sesama perantau di luar negeri juga saling mengingatkan untuk tak lupa menggunakan hak pilih dalam pemilu tahun ini. 

Saking hebohnya pemilu tahun ini bahkan ada teman saya dari Indonesia yang sengaja berwisata ke luar negeri untuk merasakan 'nyoblos' di Kedutaan Besar Republik Indonesia. 

Ini bukan pemilu pertama saya. Tapi karena saat ini saya bekerja sebagai pramusaji di sebuah kapal pesiar, mau tidak mau saya memberi hak pilih saya dari perantauan. 

Bisa dibilang ini merupakan pengalaman pertama saya 'nyoblos' dari tengah lautan.

Perusahaan Belanda-Amerika tempat saya bekerja selalu memberikan kesempatan bagi para karyawannya untuk mengikuti pemilu Indonesia. 

Lima tahun yang lalu hal yang sama juga telah diselenggarakan di kapal pesiar yang tengah berlayar di perairan negara orang.

Bukan hanya kapal pesiar saya saja yang membolehkan karyawannya meluangkan waktu bekerja untuk memberikan hak pilih, melainkan seluruh kapal pesiar yang memiliki karyawan asal Indonesia. 

Kegiatan nyoblos di kapal pesiar saya digelar pada 2 April 2019, atau 15 hari lebih awal dari jadwal di Indonesia. Posisi kapal pesiar saat itu sedang berlabuh jauh di timur perairan negeri Paman Sam.

Pemilu sendiri berlangsung selama tiga jam, dimulai dari pukul 20.00 sampai 23.00 dengan jumlah DPT sebanyak 274, dan surat suara sebanyak 379 paket. 

Kisah 'Nyoblos' di Tengah Lautan Lepas [EBG]
Suasana pencoblosan. (Dok. Yosef Tanujaya)


Semua surat suara nantinya akan dikirimkan ke KBRI San Francisco saat kapal kami bersandar di salah satu pelabuhan Amerika Serikat. 

Pemungutan suara yang berlangsung tiga jam di atas kapal pesiar menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi kami. Semuanya antusias walau harus meluangkan waktu di tengah kesibukan pekerjaannya. Bahkan ada yang sampai tergopoh-gopoh berlari dari unitnya agar tidak ketinggalan 'nyoblos'. 

Selain bisa menggunakan hak pilih, kegiatan pemilu ini juga semakin menyenangkan karena panitia penyelenggara menyediakan camilan berupa pisang goreng bagi yang sudah memilih. 

Pemberian konsumsi setelah 'nyoblos' di sini mirip tradisi yang dilakukan di pemukiman Jakarta. Kami yang hadir jadi tersenyum-senyum sendiri sembari membayangkan Indonesia dari tengah besi terapung ini. 

Kebersamaan kami dalam pemilu tahun ini dirangkum dalam acara berfoto bersama. Walau di dalam hati memilih calon yang berbeda nomor urut, yang jelas pemilu di kapal pesiar ini dilingkupi oleh suasana santai dan akrab. 

Tak ada debat, tak ada orasi, tak ada atribut kampanye di antara kami.

Kisah 'Nyoblos' di Tengah Lautan Lepas [EBG]
Nyoblos lalu makan pisang goreng. (Dok. Yosef Tanujaya)


Saya harap tak ada lagi penduduk Indonesia yang tak menggunakan hak pilihnya dalam pemilu tahun ini. 

Ikut bersuara dalam pemilu adalah sumbangsih saya sebagai warga negara yang sadar belum bisa berbuat banyak untuk bumi pertiwi, kecuali mendukung pemimpin yang menurut saya kompeten dan bersedia dengan tulus untuk mengurus dapur rumah tangga negara ini.

Dari tengah laut lepas ini, saya dan teman-teman berharap pemimpin baru bisa kembali menyatukan dan semakin memajukan Indonesia.

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com / ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com

Related Post

Comment