Pentingnya Menyadarkan Milenial Tentang Spiritual Saving

Nada 23 3 19 Life Style
Pentingnya Menyadarkan Milenial Tentang Spiritual Saving

Terasjabar.id- Pentingnya Menyadarkan Milenial Tentang Spiritual Saving.

Kesadaran beragama masyarakat Muslim di Indonesia semakin meningkat seiring perkembangan zaman. Teknologi dan media komunikasi menjadi perantara utama yang membuat masyarakat menjadi semakin terkoneksi dengan informasi, tidak terkecuali soal pendalaman pengetahuan agama. Konten-konten dakwah di sosial media sangat diminati masyarakat, seperti akun Instagram Ustadz Hanan Attaki yang memiliki 6,3 juta pengikut, serta Ustadz Abdul Somad yang memiliki 8,3 juta pengikut.

Sebelum era digital, kesadaran beragama setiap individu cenderung muncul di fase middle-aged crisis (45-64 tahun) sertalater-life crisis (60 tahun), yang bisa dilihat pada generasi Baby Boomers dan generasi X. Kondisi hari ini berbeda ketika kesadaran beragama pada individu sudah berproses di usia muda, seperti yang dialami generasi millennial dan generasi Z.


Pada 2017, Varkey Foundation melakukan riset pada 20 negara, di mana 93% generasi Z Indonesia (usia 18-21) percaya bahwa komitmen terhadap agama menjadi salah satu faktor penting kebahagiaan bagi mereka. Presentase ini cukup tinggi dibandingkan rata-rata dunia yang hanya sebesar 44%. Berbagai kelompok kajian pun muncul di kota-kota besar, yang kemudian kita kenal dengan semangat untuk berhijrah.

Manifestasi kesadaran tersebut tercermin dalam dua pilar besar, yaitu relasi dengan Tuhan serta relasi dengan manusia. Dari segi pragmatis, relasi dengan Tuhan merupakan praktik ibadah sehari-hari umat Muslim, seperti shalat, puasa, dan perjalanan haji/umroh. Sementara, relasi dengan manusia bisa dilakukan lewat amalan baik yang memberikan manfaat bagi hidup orang lain.

Putri Madarina, MM., CFP., perencana keuangan dan investasi Syariah mengatakan, jika dilakukan dengan ikhlas, amalan tersebut akan menjadi spiritual saving bagi seseorang, dimana kebaikannya terhadap sesama akan memperoleh pahala dari Tuhan. Dalam hidup sehari-hari, mungkin Anda sudah terbiasa melakukan amalan sederhana, seperti silaturahmi kepada teman lama lewat perangkat WhatsApp, memberikan tips pada driver online, atau membantu seseorang menyebrang jalan.

Meskipun praktik untuk beramal baik sangat banyak dan mudah dilakukan, memupuk kebiasaan spiritual saving ini dipandang perlu dilatih dan dikelola secara serius. Dalam artian, komitmen untuk melakukan sedekah jangan sampai terputus karena perencanaan keuangan yang tidak matang.

Putri Madarina, memandang amalan baik yang melibatkan pengeluaran atas harta pribadi adalah salah satu ujian keimanan paling menantang. Sebagai pemerhati investasi syariah yang mendalami berbagai instrumen keuangan syariah. Ia pun mengaku menjalani sendiri konsep spiritual saving dalam hidupnya untuk memperkuat keimanan serta melakukan aksi nyata terhadap sesama.


“Jika selama ini kita giat berinvestasi untuk mencapai beragam tujuan finansial seperti properti maupun harta yang dinikmati selama kita hidup, spiritual saving adalah amalan baik yang kita kerjakan sebagai investasi kita di kehidupan berikutnya, atau yang diyakini umat muslim adalah alam akhirat. Sederhananya, berinvestasi untuk mengharap berkah Tuhan. Salah satu praktik paling mudah dan umum dilakukan adalah menyisihkan harta kita lewat sedekah,” ujar Putri Madarina melalui informasi media yang diterima Suara.com dari Dialogue Communication.

Menurutnya, konsep sedekah berbeda dengan zakat, dimana dalam hukum Islam, zakat adalah perintah wajib bagi umat Muslim yang telah mencapai nisab (batasan kekayaan seseorang untuk menjadi wajib zakat). “Zakat harta sudah jelas proporsinya sebesar 2,5% dari penghasilan, sementara sedekah tidak memiliki besaran nilai tertentu serta sifatnya merupakan anjuran. Di situlah letak komitmen kita berinvestasi terhadap Allah SWT,” terangya

Selain itu dengan menyisihkan 10% pengeluaran harian kita untuk sedekah dapat melatih komitmen kita terhadap konsep spiritual saving ini. Apabila pengeluaran kita per hari sebesar Rp 50 ribu, kita dapat mulai menyisihkan Rp 5 ribu setiap harinya.

Bila masih ragu untuk bersedekah, mindset yang harus ditanamkan dalam benak ialah sedekah sebagai investasi spiritual. Layaknya sebuah investasi, maka kita akan mendapatkan return dalam wujud berkah dari Tuhan. Sesuai dengan perintah di Al Quran, Surat Al Baqarah ayat 261.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) Lagi Maha Mengetahui."

“Meskipun kita memberikan kontribusi bagi orang lain, sejatinya kita sedang berinvestasi kepada Allah SWT yang berkuasa atas rezeki kita,”tutup Putri.

(suara.com)

Related Post

Comment