Advertisement

Cermati Klarifikasi Menkominfo Rudiantara, Ferdinand Sebut Lembaga Negara buat Kesalahan Fatal

Admin B 1 2 19 Hot News
Cermati Klarifikasi Menkominfo Rudiantara, Ferdinand Sebut Lembaga Negara buat Kesalahan Fatal

Terasjabar.id - Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean menanggapi klarifikasi yang diberikan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara.

Hal tersebut tampak dari unggahan Ferdinand melalui akun Twitter @Ferdinand_Haean, Jumat (1/2/2019).


Ferdinand berpendapat, pentanyaan Rudiantara pada seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) terkait gaji tersebut sudah menunjukkan bahwa ia melakukan kampanye internal di lingkungan Kominfo.

"Pak Rudiantara, sepotong pertanyaan bapak kpd ASN itu sdh menunjukkan bahwa bapak kampanye di internal ASN Kominfo.

Penjelasan bapak tdk akan merubah substansi apapun krn itu kalimat mandiri.

Dan disini bapak msh menyamakan pemerintah dgn negara. Itu 2 hal yg berbeda pak..!!" tulisnya.

Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean tanggapi klarifikasi yang diberikan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.
Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean tanggapi klarifikasi yang diberikan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. (Twitter @Ferdinand_Haean)

Dalam kicauan lainnya, Ferdinand menjelaskan bahwa pemerintah dan negara itu berbeda.

Ferdinand lantas menjelaskan perbedaan pemerintah dan negara menurutnya.

"Dari rilis dan twit yg disampaikan olh @kemkominfo dan @rudiantara_id selalu dibuat : “PEMERINTAH/NEGARA”

Ini kesalahan fatal sebuah lembaga. Negara TIDAK SAMA dengan Pemerintah

Pemerintah itu bekerja untuk negara. Negara salah satu komponennya adlh Rakyat. 
#YangGajiKamuSiapa" kicaunya.

 

Diberitakan sebelumnya, pernyataan 'Yang Gaji Kamu Siapa' itu dilontarkan Rudiantara saat acara 'Kominfo Next' di Hall Basket Senayan, Jakarta, Kamis (31/1/2019).

Dikutip dari video berjudul 'Kominfo Next' yang diunggah di saluran YouTube Kemkominfo TV  pada hari Kamis, awalnya, Rudiantara meminta ratusan pegawai Kemenkominfo untuk memilih desain dari stiker sosialisasi Pemilu 2019 yang akan ditempel di kantor kementerian kominfo.

Ada dua desain yang bisa dipilih.

Desain itu diberi nomor 1 dan nomor 2.

Desain nomor 1 memiliki nuansa dasar warna merah.

Sementara desain nomor 2 memiliki warna dominan putih.

"Saya akan tanya kepada teman-teman, preferensi teman-teman itu memilih nomor 1 atau nomor 2?" tanya Rudiantara.

Ratusan karyawan Kominfo pun bersorak ramai menyebutkan pilihannya masing-masing.

Ia lantas meminta para pegawai yang ramai itu untuk diam sejenak.

Rudiantara meminta agar pilihan stiker desain ini tidak dikait-kaitkan dengan Pilpres 2019.

Rudiantara lantas melanjutkan pemungutan suara berdasarkan pilihan terbanyak dari suara teriakan terkencang.

Rudiantara lantas meminta dua pegawai untuk maju ke atas panggung tempatnya berdiri.

Satu orang yang memilih nomor 1, dan satunya yang memilih nomor 2.

Yang pertama maju adalah seorang ibu-ibu yang memilih nomor 2.

Ibu itu lantas diminta Rudiantara untuk memaparkan alasannya memilih desain nomor dua.

Namun, pegawai tersebut justru menjurus pada pemilihan presiden.

"Bismillahirrahmanirrahim, mungkin terkait keyakinan saja, Pak. Keyakinan atas visi-misi yang disampaikan oleh nomor dua," kata ibu tersebut yang kemudian dapat sorakan dari pegawai lainnya.

Tampak pula wajah Rudiantara yang terkejut mendengar jawaban pegawainya itu.

"Yakin saja," kata pegawai itu lagi.

 

Momen saat Menkominfo Rudiantara menanyakan kepada peserta acara 'Kominfo Next' soal desain Kamis (3/1/2019)
Momen saat Menkominfo Rudiantara menanyakan kepada peserta acara 'Kominfo Next' soal desain Kamis (3/1/2019) (akun YouTube Kemkominfo TV)

 

Rudi lantas menegaskan bahwa pemilihan desain ini tidak boleh dikaitkan dengan pemilihan presiden.

"Saya cuma tanya, pilih yang itu apa pilih yang ini?" terang Rudiantara sambil menunjuk kedua stiker.

Selanjutnya, Rudiantara pun memanggil pegawai yang memilih nomor 1.

Pegawai itu menerangkan memilih nomor 1 karena warna yang cerah.

"Saya terima alasan yang nomor satu, tapi saya tidak bisa terima alasan nomor dua karena, mohon maaf, Ibu tidak bicara mengenai desain. Terima kasih Bu, terima kasih," kata Rudiantara.

Ia lantas mempersilakan kedua pegawai itu untuk kembali duduk.

Namun, saat pegawai pemilih desai nomor dua sedang berjalan kembali ke tempat duduk, Rudiantara kembali memanggilnya.

"Bu! Bu! Yang bayar gaji ibu siapa sekarang? Pemerintah atau siapa?" ujar Rudiantara.

"Bukan yang keyakinan Ibu? Ya sudah makasih," tanyanya lagi.

Pernyataan ini lantas menjadi polemik.

Bahkan banyak pihak yang mengecam pernyataan Rudiantara itu.

Di Twitter sendiri, tagar #YangGajiKamuSiapa menjadi trending nomor satu di Indonesia.

Menanggapi itu, Rudiantara dan Kominfo pun memberikan klarifikasi.

Rudiantara memberikan klarifikasi terkait pernyataannya yang menjadi perbincangan hangat di media sosial itu melalui akun Twitternya, @rudiantara_id, Jumat (1/2/2019).

Rudiantara mengatakan pernyataan itu disampaikan saat dalam forum internal karyawan Kominfo pada Kamis (31/1/2019).

Sambil menautkan penjelasan resmi dari Kominfo, Rudiantara mengatakan agar pernyataan itu dipahami secara utuh.

"Teman2, terkait dg pernyataan “yang bayar gaji ASN adalah pemerintah/negara” dlm forum internal karyawan Kominfo kmrn, berikut penjelasan tentang kronologi dan konteksnya agar dpt menjadi gambaran utuh, tdk sepotong2 sebagaimana video & kutipan yg banyak beredar. Terima kasih," tulis Rudiantara.

 

Sementara dikutip dari laman Kominfo.go.id, Plt Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo, Ferdinandus Setu memberikan penjelasan terkait pernyataan Menkominfo.

Berikut penjelasan lengkapnya:

"1. Dalam salah satu bagian acara sambutan, Menkominfo meminta masukan kepada semua karyawan tentang dua buah desain Sosialisasi Pemilu yang diusulkan untuk Gedung Kominfo dengan gaya pengambilan suara.

2. Semua berlangsung dengan interaktif dan antusias sampai ketika seorang ASN diminta maju ke depan dan menggunakan kesempatan itu untuk mengasosiasikan dan bahkan dapat disebut sebagai mengampanyekan nomor urut pasangan tertentu.

3. Padahal sebelumnya, Menkominfo sudah dengan gamblang menegaskan bahwa pemilihan tersebut tidak ada kaitannya dengan pemilu. Penegasan tersebut terhitung diucapkan sampai 4 kalimat, sebelum memanggil ASN tersebut ke panggung.

4. Dalam zooming video hasil rekaman, terlihat bahwa ekspresi Menkominfo terkejut dengan jawaban ASN yang mengaitkan dengan nomor urut capres itu dan sekali lagi menegaskan bahwa tidak boleh mengaitkan urusan ini dengan capres.

5. Momen selanjutnya adalah upaya Menkominfo untuk meluruskan permasalahan desain yang malah jadi ajang kampanye capres pilihan seorang ASN di depan publik. Terlihat bahwa ASN tersebut tidak berusaha menjawab substansi pertanyaan, bahkan setelah pertanyaannya dielaborasi lebih lanjut oleh Menkominfo.

6. Menkominfo merasa tak habis pikir mengapa ASN yang digaji rakyat/pemerintah menyalahgunakan kesempatan untuk menunjukkan sikap tidak netralnya di depan umum. Dalam konteks inilah terlontar pertanyaan “Yang Gaji Ibu Siapa?”. Menkominfo hanya ingin menegaskan bahwa ASN digaji oleh negara sehingga ASN harus mengambil posisi netral, setidaknya di hadapan publik.

7. Atas pernyataan “yang menggaji pemerintah dan bukan keyakinan Ibu”, “keyakinan” dalam hal ini bukanlah dimaksudkan untuk menunjuk pilihan ASN tersebut, melainkan merujuk kepada sikap ketidaknetralan yang disampaikan kepada publik yang mencederai rasa keadilan rakyat yang telah menggaji ASN.

8. Dalam penutupnya sekali lagi Menkominfo menegaskan bahwa posisi ASN yang digaji negara/pemerintah harus netral dan justru menjadi pemersatu bangsa dan memerangi hoaks.

10. Demikian penjelasan dari kami, agar dapat menjadi bahan untuk melengkapi pemberitaan rekan-rekan media," tulis laman resmi Kominfo.


(Ren/Sumber:Tribunkaltim.co)

Related Post

Comment