Bola Piala Dunia 2022 Qatar Buatan Asli Indonesia yang Memiliki Aerodinamika Terbak

Bola Piala Dunia 2022 Qatar Buatan Asli Indonesia yang Memiliki Aerodinamika Terbak
NotifIndonesia.com
Editor: Malda Sport Style —Rabu, 23 November 2022 11:40 WIB

Terasjabar.id - Bola Piala Dunia 2022 Qatar Buatan Asli Indonesia yang Memiliki Aerodinamika Terbak 

Bola Piala Dunia 2022 Qatar dinilai sebagai yang terbaik dari sisi aerodinamika. Demikian menurut hasil studi. Kita tahu bahwa bola di Piala Dunia kali ini adalah buatan Indnesia, tepatnya Madiun, Jawa Timur.
John Eric Goff, profesor fisika di University of Lynchburg yang mempelajari fisika olahraga menuliskan analisisnya di The Conversation.

Sebagai bagian dari penelitiannya, setiap perhelatan Piala Dunia, Goff melakukan analisis terhadap bola terbaru. Dia menyebut bola made in Madiun itu memiliki desain yang sangat baik sehingga memiliki aerodinamika tinggi.

"Di antara tembakan ke gawang, tendangan bebas, dan operan panjang, banyak momen penting dalam pertandingan sepak bola terjadi saat bola berada di udara. Jadi salah satu karakteristik terpenting dari sebuah bola sepak adalah bagaimana ia bergerak di udara," kata Goff, dikutip dari The Conversation, Rabu (23/11/2022).

Saat menghitung seberapa besar gaya yang diberikan udara bergerak pada benda bergerak (yang disebut tarikan), fisikawan menggunakan istilah yang disebut koefisien tarikan. Untuk kecepatan tertentu, semakin tinggi koefisien tarikan, semakin terasa tarikan suatu objek.

Untuk membuat bola sepak yang bagus, kecepatan transisi aliran udara dari turbulen ke laminar sangatlah penting. Ini karena saat transisi itu terjadi, sebuah bola mulai melambat secara dramatis. Jika aliran laminar dimulai pada kecepatan yang terlalu tinggi, bola mulai melambat jauh lebih cepat daripada bola yang mempertahankan aliran turbulen lebih lama.

Evolusi Bola Piala Dunia


Adidas telah memasok bola untuk Piala Dunia sejak 1970. Hingga 2002, setiap bola dibuat dengan konstruksi 32 panel yang ikonik. Sebanyak 20 panel heksagonal dan 12 pentagonal secara tradisional terbuat dari kulit dan dijahit menjadi satu.

Piala Dunia 2006 Jerman

Era baru dimulai dengan Piala Dunia 2006 di Jerman. Bola tahun 2006, yang disebut Teamgeist, terdiri dari 14 panel sintetik halus yang diikat secara termal, bukan dijahit. Segel yang lebih rapat dan dilem membuat air keluar dari bagian dalam bola ketika hujan dan lembab.

Membuat bola dari bahan baru, dengan teknik baru dan jumlah panel yang lebih sedikit, mengubah cara bola terbang di udara. Selama tiga Piala Dunia terakhir, Adidas mencoba menyeimbangkan nomor panel, sifat jahitan, dan tekstur permukaan untuk membuat bola dengan aerodinamika yang tepat.

Piala Dunia 2010 Afrika Selatan

Bola Jabulani delapan panel di Piala Dunia Afrika Selatan 2010 memiliki panel bertekstur untuk menutupi lapisan yang lebih pendek dan jumlah panel yang lebih sedikit. Jabulani menjadi bola yang kontroversial karena banyak pemain mengeluhkan kecepatannya yang melambat secara tiba-tiba.

Ketika diuji di terowongan angin, peneliti menemukan bahwa Jabulani secara keseluruhan terlalu mulus sehingga memiliki koefisien hambatan yang lebih tinggi daripada bola Teamgeist tahun 2006.

Piala Dunia 2014 Brasil dan Piala Dunia 2018 Rusia

Brazuca, nama bola Piala Dunia 2014 Brasil dan Telstar 18 di Piala Dunia Rusia 2018, sama-sama memiliki enam panel berbentuk aneh. Meskipun keduanya memiliki tekstur permukaan yang sedikit berbeda, secara umum Brazuca dan Telstar 18 memiliki tingkat kekasaran permukaan yang sama. Karena itu, sifat aerodinamisnya serupa.

"Pemain umumnya menyukai Brazuca dan Telstar 18, tetapi beberapa mengeluh tentang kecenderungan Telstar 18 yang mudah melompat," jelas Goff.

Bola Al Rihla 2022


Bola sepak Piala Dunia Qatar yang baru, diberi nama Al Rihla. Al Rihla dibuat dengan tinta dan lem berbasis air dan berisi 20 panel. Delapan di antaranya adalah segitiga kecil dengan sisi yang kira-kira sama, dan 12 lainnya berukuran lebih besar serta berbentuk seperti es krim.

Alih-alih menggunakan tekstur yang terangkat untuk meningkatkan kekasaran permukaan seperti bola sebelumnya, Al Rihla dilapisi dengan fitur seperti lesung pipi yang membuat permukaannya terasa relatif halus dibandingkan dengan pendahulunya.

"Meskipun mungkin tampak berlawanan dengan intuisi, membuat permukaan bola menjadi kasar akan menunda pemisahan lapisan batas dan membuat bola dalam aliran turbulen lebih lama. Fakta fisika ini, bahwa bola yang lebih kasar terasa lebih ringan, adalah alasan mengapa bola golf berlesung pipi, terbang lebih jauh dibandingkan jika bola itu halus," urai Goff.

Untuk mengimbangi rasa yang lebih halus, kata Goff, lapisan Al Rihla lebih lebar dan lebih dalam, mungkin belajar dari kesalahan bola Jabulani yang terlalu halus, yang memiliki lapisan paling dangkal dan terpendek dari semua bola Piala Dunia dan yang menurut banyak pemain lambat di udara.

Rekan-rekan Goff di Jepang menguji bola yang digunakan di empat Piala Dunia terakhir, termasuk Al Rihla, di terowongan angin di Universitas Tsukuba.

"Al Rihla memiliki karakteristik aerodinamis yang sangat mirip dengan dua pendahulunya, dan bahkan dapat bergerak sedikit lebih cepat pada kecepatan yang lebih rendah," rinci Goff.

Sebagian besar bola Piala Dunia yang diuji melakukan transisi dengan kecepatan sekitar 58 km/jam. Seperti yang diprediksi, Jabulani adalah outlier, dengan kecepatan transisi sekitar 82 km/jam. Mempertimbangkan bahwa sebagian besar tendangan bebas dimulai dengan kecepatan lebih dari 96 km/jam, masuk akal jika para pemain merasa Jabulani lambat dan sulit diprediksi.

"Setiap bola yang digunakan di Piala Dunia akan selalu ada keluhannya. Namun sains menunjukkan Al Rihla justru akan terasa sangat familiar bagi para pemain," jelasnya.



Baca artikel detikinet, "Bola Piala Dunia 2022 Buatan Madiun Punya Aerodinamika Terbaik" selengkapnya https://inet.detik.com/science/d-6421604/bola-piala-dunia-2022-buatan-madiun-punya-aerodinamika-terbaik.

Bola Piala Dunia Al Rihla 2022 Qatar Asli Indonesia Aerodinamika Terbaik Bola Qatar


Loading...