Advertisement

5 Fakta Terbaru Diungkap BNPB Usai Tsunami Selat Sunda

5 Fakta Terbaru Diungkap BNPB Usai Tsunami Selat Sunda
Editor: Malda Hot News —Selasa, 1 Januari 2019 09:11 WIB

Terasjabar.id - Memasuki hari ke-10, Tim gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, BNPB, BPBD, Basarnas serta para relawan terus melakukan pencarian dan evakuasi para korban tsunami Selat Sunda, Sabtu, 22 Desember 2018.

Alat berat pun diturunkan untuk mempermudah proses pencarian. Hingga Senin, 31 Desember kemarin, Tim SAR menemukan empat jenazah di empat kawasan pantai yang berbeda.

"Empat jenazah ditemukan di kawasan Pantai Tanjung Lesung, Tambak, Cemara dan Pulau Sangiang. Tiga jenazah itu dibawah ke RSUD Berkah Pandeglang dan satu korban sudah dimakamkanā€ ujar Zaenal di Posko Terpadu Penanggulangan Bencana Tsunami di Labuan, Pandeglang, Senin (31/12/2018).

Proses pencarian para korban tsunami sempat terkendala cuaca buruk.

Sementara itu, menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB),jumlah korban jiwa terbanyak ada di Kabupaten Pandeglang, Banten, yakni 296 orang dilaporkan meninggal dunia.

Berikut sejumlah fakta terbaru pascatsunami menerjang Pantai Anyer, Banten dan Lampung, Sabtu malam, 22 Desember:

1. 437 Orang Meninggal Dunia

Jumlah korban akibat terjangan tsunami Selat Sunda terus bertambah. Hingga Senin, 31 Desember kemarin BNPB mencatat 437 korban meninggal dunia dan 14.059 luka-luka.

"16 orang dilaporkan hilang, dan 33.721 orang mengungsi," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di kantornya, Jakarta, Senin (31/12/2018).

Kerugian material pun juga tak kalah masif. Usai diterjang gelombang tsunami, ribuan rumah rusak berat hingga nyaris rata dengan tanah, puluhan penginapan serta tempat usaha milik warga rusak parah. Perahu para nelayan pun juga tak luput dari sapuan tsunami. 

"Korban dan kerusakan material ini berasal dari lima Kabupaten, yaitu Pandenglang, Serang, Lampung Selatan, Pesawaran dan Tanggamus," ungkap Sutopo.

2. Korban Terbanyak di Pandeglang

Sutopo juga mengungkapkan, jumlah korban tsunami paling banyak terjadi di Pandeglang, Banten. Total 296 orang dinyatakan meninggal dunia.

Kemungkinan jumlah korban masih akan bertambah. Dari Kecamatan Sumur yang awalnya terisolasi, proses evakuasi para korban mulai dilakukan.

"Untuk membantu proses evakuasi, pencarian dan penyelamatan korban di Sumur maka dikerahkan 31 alat berat, berupa 9 unit eskavator, 1 unit greader, 4 unit loader, 3 unit tronton, dan 14 unit dump truck," kata pria yang menduduki jabatan sebagai Kepala dan Humas BNPB. 

Di lokasi ini, menurut Sutopo masih banyak masyarakat yang membutuhkan bahan makanan, pakaian laik pakai, MCK, selimut, tikar, peralatan medis dan lainnya.

3. Aktivitas Gunung Anak Krakatau Terus Menurun

Sementara itu, berdasarkan rekaman seismograf yang didapat BNPB, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau terus mengalami penurunan sejak 28 Desember 2018 lalu.

"Rekaman seismograf tanggal 31 Desember 2018 pukul 06.00 hingga 06.00 WIB, tercatat 4 kali gempa (letusan) dengan amplitudo 10 mm hingga 14 mm dan durasi 36 detik hingga 105 detik," kata Sutopo di kantor BNPB, Jakarta, Senin (31/12/2018).

Secara fisik, anak Krakatau ini juga mengalami perubahan. "Tinggi Gunung Anak Krakatau yang semula 338 meter, saat ini hanya 110 meter," ucapnya.

Volume Gunung Anak Krakatau juga mengalami penyusutan. Jika sebelumnya memiliki volume hingga 180 juta meter kubik volume, kini hanya berkisar 40 hingga 70 juta meter kubik.

"Berkurangnya volume tubuh Gunung Anak Krakatau ini diperkirakan karena ada proses rayapan tubuh gunung api yang disertai oleh laju erupsi yang tinggi pada 24 hingga 27 Desember 2018," ujarnya.

4. Erupsi Berhenti

Pada hari Sabtu, 29 Desember malam hingga Minggu, 30 Desember 2018, erupsi Gunung Anak Krakatau dinyatakan telah berhenti. Hal ni berdasarkan pantauan Satelit Himawari dan radar cuaca.

"Berdasarkan rekaman seismograf di Pulau Sertung, gugusan pulau di Selat Sunda, dekat Gunung Anak Krakatau menunjukkan tidak ada fluktuasi getaran, kalem, amplitudo rata-rata 10 mm (pada saat letusan amplitudonya 25-30 mm)," ungkap Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Namun, diakui pihaknya belum bisa menentukan apakah kondisi ini akan terus berhenti total atau erupsi masih akan kembali terjadi.

5. Masa Tanggap Darurat Diperpanjang

Sementara itu, masa tanggap darurat tsunami di Selat Sunda diperpanjang. Perpanjangan ini berkisar antara 7 hingga 14 hari ke depan.

"Masa tanggap darurat telah ditetapkan. Pandeglang 14 hari, mulai 22 Desember sampai 4 Januari 2019, Lampung Selatan diperpanjang 7 hari atau sampai 5 Januari 2019. Wilayah Serang 14 hari atau pada 22 Desember sampai 4 Januari, Provinsi Banten 14 hari dari 27 Desember sampai 9 Januari 2019," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di kantor BNPB, Jakarta Timur, Senin (31/12/2018).

Dengan perpanjangan ini, menurut Sutopopara korban yang hilang usai dihantam tsunami dapat segera ditemukan.

Hingga H+9 pada 31 Desember 2018 tercatat korban tsunami di Selat Sunda adalah 437 orang meninggal dunia.

Sebanyak 428 sudah diidentifikasi dan sudah dimakamkan, sementara 9 jenazah belum teridentifikasi. Untuk para korban luka, BNPB mencatat ada sekitar 14.059 orang, 16 orang hilang, sedangkan 33.721 orang kini mengungsi. 

(Tika/Sumber:Liputan6.com)

5 Fakta Terbaru Diungkap BNPB Usai Tsunami Selat Sunda


Related Post



Loading...