Ini Daftar Puluhan Penerima Dana BLBI, Ada Salim Group & Mbak Tutut

Ini Daftar Puluhan Penerima Dana BLBI, Ada Salim Group & Mbak Tutut
Ada Salim Group
Editor: Kian Santang Teras Bisnis —Sabtu, 11 September 2021 14:26 WIB

Terasjabar.id -  Penyelesaian utang oleh obligor dan debitur Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) berlarut-larut selama puluhan tahun. Berdasarkan informasi yang pernah dipublikasikan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), pada saat krisis 1997-1998, BLBI diberikan sebesar Rp 147,7 triliun kepada 48 bank. Siapa saja mereka?

detikcom merangkum para obligor dan debitur BLBI dari pernyataan Menko Perekonomian yang kala itu dijabat Boediono. Dia pernah memberi keterangan mengenai perkembangan kasus obligor BLBI di gedung DPR, Jakarta pada 12 Februari 2008.

Pada arsip jawaban Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang interpelasi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) atas penyelesaian Kredit Likuiditas Bank Indonesia dan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, pada rapat paripurna 1 April 2008, SBY juga membeberkan para obligor BLBI.

Sebagai pelengkap, detikcom juga mengutip beberapa sumber lainnya. Di antara para obligor, ada yang disebut telah melunasi kewajibannya kepada negara, namun ada yang masih dalam proses penyelesaian.

Berikut daftar obligor dan debitur BLBI dirangkum detikcom:

  1. Bank Aken: I Made Sudiarta
  2. Bank Aken: I Gde Darmawan
  3. Bank Bahari: Santosa Sumali
  4. Bank Baja: Andi Hartawan Sardjito
  5. Bank Baja: The Ning Khong
  6. Bank BIRA: Atang Latief
  7. Bank Budi Internasional: Hendra Liem
  8. Bank Bumi Raya: Suparno Adijanto
  9. Bank Danahutama: The Ning King
  10. BDNI: Syamsul Nursalim
  11. Bank Danamon: U Atmadjaja
  12. BCA: Salim Group
  13. Bank Hastin: The Tje Min
  14. Bank Hokindo: Ho Kiarto
  15. Bank Indotrade: Keluarga Mulianto Tanaga
  16. Bank Indotrade: Iwan Suhardiman
  17. Bank Intan: Fadel Muhammad
  18. Bank Lautan Berlian: Ulung Bursa
  19. Bank Mashill: Philip S Wijaya
  20. Bank Metropolitan: Santosa Sumali
  21. Bank Moderen: S Hartono
  22. Bank Namura: Adiputra Januardy/James
  23. Bank Namura: Baringin P/Joseph Januardy
  24. Bank Nusa Nasional: Nirwan Dermawan Bakrie
  25. Bank Papan Sejahtera: Honggo Wendratno
  26. Bank Papan Sejahtera: Njoo Kok Kiong
  27. Bank Papan Sejahtera: Hasyim Sujono Djojohadikusumo
  28. Bank Pelita Istimarat: Hasyim Sujono Djojohadikusumo
  29. Bank Pelita Istimarat: Agus Anwar
  30. Bank Pesona Utama:
  31. Bank Putra Multikarsa: Marimutu Sinivashan
  32. Bank Putra Surya Perkasa: Trijono Gondokusumo
  33. Bank Putra Surya Perkasa: Hengky Wijaya
  34. Bank RSI: Ibrahim Risjad
  35. Bank Sanho: Ganda Eka Handria
  36. Bank Sewu: Husodo Angkosubroto
  37. Bank Surya: Sudwikatmono
  38. Bank Tata: Hengky Wijaya
  39. Bank Tamara: Omar Putihrai
  40. Bank Tamara: Lidia Muchtar
  41. Bank Umum Nasional: M Hasan
  42. Bank Umum Nasional: Kharudin Ongko
  43. Bank Umum Servitia: David Nusa Wijaya
  44. Bank Umum Servitia: Tarunodjojo
  45. Bank Yama: Siti Hardiyanti Rukmana

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut utang yang saat ini dikejar sebesar Rp 110,45 triliun. Bagi para obligor yang belum menyelesaikan kewajibannya, pemerintah akan terus mengejarnya demi mendapatkan kembali hak negara.

"Kita tidak akan mengenal lelah dan menyerah, kita akan terus berusaha mendapatkan hak kembali dari negara untuk bisa dipulihkan dan tentu saya berharap kepada para obligor dan debitur tolong penuhi semua panggilan dan mari kita segera selesaikan obligasi atau kewajiban Anda semua yang sudah 22 tahun merupakan suatu kewajiban yang belum diselesaikan," katanya Jumat 27 Agustus 2021.

Lanjut Sri Mulyani, pemerintah pun akan melakukan negosiasi dengan keturunan para obligor. Sebab, barangkali ada obligor yang telah menurunkan titahnya kepada keturunannya.

"Saya akan terus meminta kepada tim untuk menghubungi semua obligor ini termasuk kepada para keturunannya, karena barangkali sekarang usahanya sudah diteruskan oleh para keturunannya. Jadi kita akan bernegosiasi atau berhubungan dengan mereka untuk mendapatkan kembali hak negara," tambahnya.

sumber:detik.com

BLBI Indonesia Ekonomi


Loading...