Meniti Setapak Jejak Gempa Sesar Lembang

Meniti Setapak Jejak Gempa Sesar Lembang
harian nasional
Editor: Dani Ramdani Hot News —Selasa, 13 Juli 2021 09:06 WIB

Terasjabar.id- Para ahli sebelumnya sempat memperdebatkan apakah Sesar Lembang ini aktif atau tidak. Lantas, setelah dilakukan beberapa penelitian, akhirnya disimpulkan bahwa patahan di kawasan utara Bandung ini masih aktif bergerak. "Dulu masih debatable, ada yang bilang sudah tidak aktif. Tapi itu masih asumsi, karena memang belum dijelaskan secara ilmiah," jelas Rasmid, Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kota Bandung,Rasmid, yang juga terlibat dalam salah satu penelitian seismologi Sesar Lembang saat ditemui dikantornya di Bandung (6/4). Untuk meredam simpang siur, Rasmid lantas memasang seismograf di sekitar Sesar Lembang sekaligus sebagai bahan studi master yang ia lakukan di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Penelitian dilakukan dengan memasang 6 seismometer selama dua tahun pada 2010 hingga 2012. Keenam seismometer dipasang di tiga segmen Sesar Lembang; di Parongpong, dekat cisarua untuk mengukur gempa di segmen barat, di Lembang untuk segmen tengah, dan di Ciater, Tangkuban Parahu dan Cibodas, untuk segmen timur.

"Setelah dapat data 2 tahun dianalisa gimana dan pergeseran ke arah mana, disimpulkan ternyata memang aktif, tidak tidur seperti orang bilang selama ini," tuturnya.Rekam jejak selama dua tahun didapat 14 gempa bumi yang dihasilkan Sesar Lembang, meski dengan magnitudo sangat kecil di angka 1 dan 2,2 Mw bwh 1 ada dibawah 2,2. Dengan gempa paling besar dirasakan pada Agustus 2011 di Muril, Jambudipa. Selain penelitian seismologi seperti dilakukan Rasmid, ada pula penelitian lain dari disiplin ilmu berbeda, seperti penelitian geologi, paleoseismologi dengan melakukan penggalian (uji paritan) untuk melihat bukti pergeseran di bawah tanah dan bukti lain, hingga penelitian geodesi untuk melihat bukti pergeseran tanah dari data GPS. Mengutip penelitian Dosen dari Kelompok Keahlian Geodesi, Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Meilano, bagian timur Sesar Lembang terbentuk 100 ribu tahun lalu, disusul bagian barat 27 ribu tahun lalu. 

Penelitian lain yang dilakukan oleh Peneliti Geoteknologi LIPI, Mudrik Daryono dilakukan dengan mengamati pola pergeseran sungai, mencari bukti pergeseran pada batuan, dan melakukan penggalian parit di sekitar kawasan Batu Lonceng untuk menemukan bukti pergeseran tanah akibat Sesar Lembang. Untuk mengamati pergeseran sungai akibat perpotongan Patahan Lembang, Mudrik melakukan pemindaian permukaan tanah menggunakan teknologi LiDAR (Light Distance And Ranging) di sepanjang jalur Sesar Lembang. Pemindaian dilakukan untuk mendapat peta permukaan Bumi yang presisi. Hasil pemindaian menunjukkan Sesar Lembang bukan berupa patahan tunggal yang lurus. Tapi, sesar ini cukup kompleks lantaran terpecah menjadi beberapa bagian. Mudrik pun membagi sesar ini menjadi enam segmen secara geometri berdasarkan bentuk (morfologi) permukaan. Bukti lain pergerakan Sesar Lembang yang didapat dari pemetaan LiDAR adalah bukti pergeseran sungai-sungai besar.

Dari hasil peta LiDAR ini, Mudrik lantas menghitung seluruh pergeseran sungai akibat pergerakan sesar, mulai dari kilometer 0 sampai 29. Pergeseran sungai ini variatif. Pergeseran terbesar sepanjang 460 meter terjadi di bagian timur, yang meliputi Sungai Cimahi, Cihideung, dan Sungai Cikapundung. Sementara sungai yang lebih muda seperti Sungai Cimeta di bagian barat, bergeser 120 meter. "Pergeseran Sesar Lembang berbeda-beda tergantung umur sungai. Kalau sungai tua sekali maka ia merekam kejadian yang lebih tua lagi," jelas Mudrik saat ditemui di kantor LIPI (6/4).

"Sungai-sungai kecil diteliti juga, pergeserannya 65 meter, 72 meter," jelasnya. Menurutnya, pergeseran aliran sungai besar merupakan bukti rekaman pergeseran sesar dalam jangka panjang. Sementara pergeseran di sungai kecil dengan menunjukkan peristiwa pergeseran sesar dalam jangka waktu lebih pendek.

Sehingga, sungai yang lebih tua dan besar di bagian timur (Cikapundung, Cihideung, Cimahi), merekam kejadian pergeseran sesar lebih lama daripada sungai yang lebih muda di barat (Cimeta). Dari perhitungan pergeseran sungai, Mudrik juga bisa menarik kesimpulan bahwa Sesar Lembang hingga section tertentu dia murni bergeser. Di seksi Cihideung hingga Batu Lonceng, sesar tak murni bergeser mendatar tapi sedikit memiliki daya angkat gerak vertikal.

Sehingga sisi selatan Sesar Lembang patah dan terangkat lebih tinggi dari sisi utara. Jadi, tak heran jika di kawasan Cihideung, Maribaya, hingga Batu Lonceng kawasan Sesar Lembang lebih terjal. "Jadi kita bisa bilang straight slip system 100 persen, 20 persen ada deep slip...Komponen yang mengangkat sesar lembang ini sekitar 20 persen. Gunung batu itu bagian yang terangkat," paparnya. Batu yang terpotong Pada Sungai Cimeta, Mudrik juga menemukan bukti batuan yang terpatah akibat pergeseran Sesar Lembang di segmen barat. "Geologis itu ingin melihat jejak sesar di batuan dasar. Disini (sungai Cimeta) ada batuan break (patah), kalau normal ini batuannya menerus. Tapi dia terpotong," ujarnya. "Kita susur sungai di Cimeta, ketemu di bagian bawah batuan breksi bagian atas andesit. Kemungkinan dia bergeser degnan batuan lain, lalu dia tererosi dehingga dia keliatan. Ini Sesar Lembang yang bisa dilihat dan dipegang," lanjutnya lagi. Peta LiDAR yang dihasilkan oleh penelitian Mudrik juga menunjukkan panjang Sesar Lembang sepanjang 29 kilometer dengan arah pergerakan mengiri. Untuk memperkuat argumen penelitian, Mudrik juga melakukan penggalian uji paritan di segmen timur Sesar Lembang dekat Batu Lonceng. Menurut Mudrik, dengan penggalian, peneliti bisa memperkirakan kapan terjadi peristiwa gempa hebat akibat Sesar Lembang. "Ada lapisan yang bisa kita lacak umurnya, sehingga kita bisa tahu event gempa bumi," lanjutnya sambil menunjukkan foto-foto hasil penggalian.

Hasil penggalian menunjukkan, gempa besar akibat Sesar Lembang yang termuda terjadi sekitar abad 15 antara 1450-1460. "Kalau dihitung sampai saat ini sudah 560 tahun...jadi stress yang sudah terkumpul selama 560th itu yang bisa lepas setiap saat," jelasnya menuturkan kemungkinan gempa bumi besar di Sesar Lembang bisa terjadi kapan saja. Diperkirakan periode gempa Sesar Lembang bakal berulang 170 hingga 560 tahun sekali.

Jika dihitung dengan panjang sesar utuh 29 kilometer, diperkirakan gempa bisa mencapai magnitudo 6,5 sampai 7 jika seluruh patahan bergerak bersamaan. Angka magnitudo 7 ini menurut Rasmid, didapat dengan pengukuran total panjang sesar berdasarkan diagram Wells & Coppersmith. Tak puas hanya melakukan penggalian di ujung timur, Mudrik juga melakukan penggalian di segmen tengah disekitar km 13-12 dan menemukan bukti pergeseran tanah akibat gempa lain.

"Kita gali disitu. Di lapisan uni ada unit 400 menutupi 500, unit yg 600 kl normal mestinya menerus, tp dia putus, bergeser. Inilah paleoseismologi yang menemukan bukti yang benar-benar otentik...Kita blg sesar aktif, jalurnya dimana dan kalau digali harus ada barangnya (jejak patahan sesar). Bukan sesuatu yang digali tidak ada barangnya," paparnya panjang lebar. Menurut Mudrik, kawasan Sesar Lembang merupakan salah satu sesar yang sudah diteliti dengan detil dibanding jalur sesar lain di Indonesia. Asal Mula Sesar Lembang Asal mula terbentuknya Sesar Lembang masih menjadi perdebatan. Sebab, belum ada bukti otentik soal asal mula patahan ini. Mudrik menyebut kemungkinan terbentuk sesar berkaitan dengan terbentuknya kaldera Gunung Sunda Purba.

Gunung Sunda sendiri merupakan cikal bakal Gunung Tangkuban Parahu. Ketika Gunung Sunda meletus dahsyat, jadilah bagian yang tersisa dikenal dengan Gunung Tangkuban Parahu. "Bisa jadi itu akibat proses kaldera (Gunung Sunda) kemudian terjadi sesar lembang, tapi kita tidak tahu Sesar Lembangnya dulu, atau gunungnya dulu." Mengapa Sesar Lembang bergerak? Ahli geologi Awang Setyana menyebut pergerakan Sesar Lembang dipengaruhi oleh dorongan dari lempeng Lempeng samudra indo-australia masuk menghujam ke lempeng eurasia (sunda plate). Tekanan ini memengaruhi pergerakan sesar lembang di tengah pulau. Berdasarkan peta Pusgen (Pusat Gempa Nasional), Sesar Lembang merupakan salah satu 81 sesar aktif yang ada di Indonesia. Menurut Awang, pergerakan Sesar Lembang sebenarnya tidak seaktif sesar lain yang ada di Indonesia seperti sesar yang ada di Sumatra dan Sulawesi. Bahkan, untuk kawasan Jawa Barat, gempa yang dihasilkan Sesar Lembang dinilai tak lebih bahaya dari sesar Cimandiri dan Baribis. Kedua sesar ini juga berada di dekat wilayah Bandung. Namun, Sesar Lembang berada paling dekat dengan Bandung Raya, sehingga akan memberikan dampak ancaman yang lebih besar terhadap warga Bandung. Sehingga, jika terjadi gempa bakal membahayakan warga yang tinggal di kawasan Lembang dan Bandung Raya (Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi) dan kawasan sekitarnya. (eks)

FOLLOW JUGA:







View this post on Instagram

A post shared by Teras Jabar (@terasjabar.id)




(CNN INDONESIA)

sesar lembang lembang jejak gempa


Loading...