Ada 160 Pasien Covid di Jabar Meninggal Saat Isoman, Peneliti: Fenomena Gunung Es, Ini Kata Emil

Ada 160 Pasien Covid di Jabar Meninggal Saat Isoman, Peneliti: Fenomena Gunung Es, Ini Kata Emil
Tribun Jabar/Ahmad Ripai Gedung Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) BKPSDM Kuningan di Desa Cikaso, Kecamatan Kramatmulya, Kuningan, Jawa Barat, dijadikan tempat isolasi mandiri pasien Covid-19 per Seni
Editor: Indra Hot News —Senin, 12 Juli 2021 13:51 WIB

TERASJABAR.ID-Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Jawa Barat mencatat per 12 Juli 2021, dari 89.363 warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Jawa Barat, hanya 16.334 orang di antaranya yang dirawat di rumah sakit.

Sedangkan 79.029 orang lainnya, menjalani isolasi mandiri (isoman) di pusat isolasi dan kediamannya masing-masing.

Dalam diskusi virtual yang diselenggarakan Center For Indonesia's Strategic Development Initiatives (Cisdi), Senin (12/7/2021), Co-Inisiator Lapor Covid-19, Ahmad Arif, menyatakan berdasarkan data terakhir hari itu, tercatat 160 warga Jabar yang tengah menjalani isolasi mandiri Covid-19 yang meninggal dunia.

LIHAT JUGA:






View this post on Instagram

A post shared by Teras Jabar (@terasjabar.id)


Ia menyatakan berdasarkan upaya pengumpulan data Lapor Covid-19, Jawa Barat menempati posisi pertama sebagai daerah dengan angka terbanyak kematian pasien Covid-19 di luar rumah sakit.

Posisi kedua adalah DI Yogyakarta dengan 84 laporan, kemudian Banten dengan 63 laporan.

Arif mengatakan angka-angka tersebut didapat dari laporan dan verifikasi melalui berbagai media sosial atau aplikasi pesan, serta sejumlah berita di media massa.

Kemudian ditemukan sampai 12 Juli 2021, totalnya di Indonesia terdapat 451 kematian pasien Covid-19 yang tengah menjalani isolasi mandiri.

Arif pun yakin bahwa data ini adalah fenomena gunung es karena bisa saja banyak data kematian yang belum terlacak dan terlaporkan.

Ia pun menyoroti mulai banyaknya laporan kasus serupa dari luar Pulau Jawa.

TONTON JUGA:

"Sebagai catatan yang di sini bahwa jumlah yang terdata ini hanya sebagian yang ada, tidak semua terberitakan atau terlaporkan. Beberapa waktu yang lalu, misalnya kami komunikasi dengan teman-teman di Jakarta, bahwa rata-rata sehari itu menerima laporan ada 45 yang meninggal di rumah," katanya.

Arif mengatakan sebagian pasien isoman meninggal karena tidak terpantau dan terlambat untuk ditangani secara medis.

Anggota keluarganya yang juga positif pun menyulitkan pengurusan jenazah.

Pendiri CISDI Diah Saminarsih, mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan pasien Covid-19 meninggal saat isoman.

Di antaranya pasien terlambat ditemukan karena proses tes yang tidak cepat.

"Kematian paling banyak terjadi pada lansia dan orang dengan komorbid. Kasus kematian dilaporkan terjadi karena penurunan saturasi oksigen pasien. Pasien terlambat datang ke faskes ketika kondisi sudah memburuk," katanya.

BACA JUGA:KRONOLOGI 20 Warga Binaan di Lapas Majalengka Terpapar Covid-19, Semua Ada yang Mengeluh Sakit

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan memang berdasarkan fenomena yang terjadi, warga positif Covid-19 mayoritas menjalani isolasi mandiri, bukan perawatan di rumah sakit.

"Kasus aktif 89 ribuan itu, kebanyakan isoman. Daya tampung di rumah sakit sekarang, kan, 20 ribuan ya, berarti kan ada sekitar 70 ribu itu berada di rumah. Jadi kesimpulannya adalah mayoritas pasien Covid-19 di Jawa Barat itu tidak di rumah sakit," katanya.

Ridwan Kamil mengatakan untuk melayani masyarakat yang menjalani isolasi mandiri, ia sejak seminggu lalu sudah membuka layanan telekonsultasi pasien isoman dan menyalurkan obat serta vitamin kepada pasien isoman.

Ia pun berupaya menurunkan angka keterisian rumah sakit, dengan memindahkan pasien yang dalam masa penyembuhan ke pusat pemulihan dan menggencarkan pusat isolasi mandiri di tingkat desa.

"Tanggal 11 Juli itu sudah turun ke 87,6% ya keterisian rumah sakitnya, dari 90-an persen," katanya.

Peningkatan kasus Covid-19 di Jabar, katanya, disebabkan oleh merebaknya varian delta yang kini banyak ditemui dan bahkan menjangkiti semakin banyak usia anak dan remaja.

(SUMBER TRIBUNJABAR.ID)



Ridwan Kamil Ahmad Arif Covid19


Loading...