RS Penuh Jalan Ditutup, Kokom di Bandung Meninggal di Taksi Online saat mau ke Rumah Sakit

RS Penuh Jalan Ditutup, Kokom di Bandung Meninggal di Taksi Online saat mau ke Rumah Sakit
Agus, suami Kokom yang meninggal di taksi online saat hendak ke rumah sakit
Editor: Indra Teras Bandung —Jumat, 9 Juli 2021 14:42 WIB

TERASJABAR.ID-Duka meliputi Agus (58) warga Gang Andir Kidul Kelurahan Pakemitan, Kecamatan Cinambo, Kota Bandung, yang ditinggal istrinya, Kokom Komariah yang meninggal di taksi online pada Kamis (87/2021).

Saat itu, Kokom Komariah kritis membutuhkan penanganan medis setelah dirujuk dari Puskesmas Cijambe. Karena butuh cepat, Agus tidak mencari ambulans. Dia memesan taksi online lewat ponsel anaknya.  Sekira pukul 11.00, taksi online yang dikemudikan Bani tiba dan menunggu di Apotek Kimia Farma Ujung Berung.

LIHAT JUGA:






View this post on Instagram

A post shared by Teras Jabar (@terasjabar.id)


"Jadi membopong istri dengan menyusuri gang dari kediamannya menuju mobil," kata dia.

Dengan menumpang taksi online, Agus bersama Kokom dan anaknya bergegas menuju RS Hermina. Namun rumah sakit penuh.

"Di Hermina anak saya turun mengurus berkas-berkas dan persyaratan, tapi setengah jam kemudian ada kabar kalau rumah sakit tak bisa menerima pasien lagi karena sudah penuh. Akhirnya kita pergi ke RS Al Islam," ucap Agus, yang berprofesi sebagai penjual bakso tahu, ditemui di kediamannya, Jumat (9/7/2021).

Mereka kemudian bergegas ke RS Al Islam. Namun, RS Al Islam pun tak bisa menerima istrinya karena ruang rawat IGD penuh. Agus pun kemudian mendapatkan kabar dari sanak saudaranya,  RS Santosa Bandung di Kebonjati masih tersedia ruang rawat. 

Selama di perjalanan, Kokom berada di pangkuan Agus. Di tengah darurat dan berkejaran waktu serta rumah sakit yang penuh, mereka juga dihadapkan pada situasi penutupan jalan dalam penyekatan akses jalan di Kota Bandung.

TONTON JUGA:

Namun, jalan menuju RS Santosa di Jalan Kebonjati banyak yang ditutup sehingga mereka tidak bisa menjangkau rumah sakit. Saat itu, mereka datang dari arah Jalan Gatot Subroto hendak menuju Jalan Kebonjati via Jalan Asia Afrika

Seperti diketahui, penutupan jalan di massa PPKM Darurat di Kota Bandung saat ini berlaku tiiga kali dalam sehari. Jalan Asia Afrika termasuk jalan yang ditutup. 

"Pas lihat ada penutupan jalan, dan enggak ada petugas yang jaga di pos itu, akhirnya si akang (sopir taxi online) coba cari alternatif jalan lain," katanya.

Namun, tak berapa lama, anak laki-lakinya menanyakan kondisi ibunya.

"Saya coba panggil-panggil tapi enggak ada respon, kayak orang lagi tidur. Saya coba angkat tangannya tapi lemes dan jatoh lagi. Saya dan anak juga si akang sopir reuwas (syok) dengan kondisi itu, dan bilang kalau ibu udah meninggal," ujar Agus.

Setelah memastikan Kokom meninggal, Agus dan anaknya diantar pulang driver taksi online.  Bahkan, sang driver taksi online enggan menerima bayaran.

"Meskipun sudah kami repotkan. Kami mendoakan hal baik bagi sopir taksi online dan keluarganya atas jasa besar yang dilakukan kepada kami," kata dia.

Menurutnya, sang istri menderita sakit lambung sama seperti Agus.  Bahkan keduanya sempat harus istirahat total dari aktivitas berjualan selama beberapa hari.

Namun, berbeda dengan kondisinya, masa istirahat Agus lima hari, sedangkan sang istri yang alami sesak nafas, harus beristirahat lebih lama. Bahkan dari hari ke hari kondisinya semakin lemah.

"Almarhum sakit lambung, dan ada sesak nafas sedikit. Istri mengaku sudah tidak kuat, apalagi kondisinya semakin lemah dari hari kehari, makanya dengan berbekal surat rujukan dari Puskesmas Cijambe untuk ke rumah sakit besar," ucap dia. 

Setelah jenazah istri tiba di rumah duka, Agus menghubungi pengurus wilayah setempat dan ustaz untuk membantu mengurusi jenazah almarhumah.

Namun, karena daerah sekitarnya merupakan zona merah dan cukup banyak warga yang terpapar, ada kekhawatiran Kokom meninggal karena Covid-19 sehingga tidak ada satu pun pelayat maupun yang membantu.

BACA JUGA:DJP Manfaatkan Kemajuan Teknologi Digital Untuk Optimalisasi Layanan Dan Pengawasan Perpajakan

Setelah ia menunjukan surat rujukan puskesmas terkait kondisi kesehatan istrinya, barulah banyak warga yang membantu.

"Awalnya tidak ada yang datang karena khawatir istri saya meninggal karena Covid-19. Tapi setelah saya tunjukkan surat rujukannya akhirnya pihak RT, RW dan pak ustaz datang ke sini untuk mengurusi jenazah almarhumah," ucapnya.

Jenazah akhirnya dibawa ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Nagrog di Pasirjati, Ujungberung untuk dimakamkan selepas azan Ashar. 

"Kami sudah merelakan kepergian almarhum, karena yang bernyawa pasti akan meninggal. Memang sudah waktunya Allah memanggil istri saya," ujar Agus.

Dia berharap kejadian ini bisa menjadi perhatian bagi pemerintah untuk membuat kebijakan penutupan jalan dengan memperhatikan kondisi masyarakat.

"Apalagi kalau yang jalan itu dalam kondisi darurat. Situasi ini cukup istri dan keluarga saya saja, jangan ada korban lainnya, mohon menjadi perhatian bagi pemerintah," katanya. (Cipta Permana).

(SUMBER TRIBUNJABAR.ID)


Penutupan Jalan Taksi Online Bandung


Loading...