Paradoks Desa wisata Kehadiran Desa Wisata, Antara "Angin Syurga" dan Setengah Hati

Paradoks Desa wisata Kehadiran Desa Wisata, Antara
Yusup Oeblet saat dikunjungi Dewan Kebudayaan Kuningan di Padepokan Seni BST Desa Sukamukti
Editor: Malda Teras Kuningan —Sabtu, 20 Februari 2021 14:30 WIB

Terasjabar.id, Kuningan - Pencanangan sekian ratus jumlah desa yang akan di kembangkan menjadi desa wisata di sambut dengan sikap yang beragam.

Menyikapi peluncuran Desa wisata tersebut khususnya di Kabupaten Kuningan, Yusup Oeblet Sang Maestro musisi 'Tabuhan Nusantara' asal Desa Sukamukti Kabupaten Kuningan angkat bicara.


Kehadiran Desa wisata ini kata Oeblet, saat bincang santai di Padepokan Bumi Seni Tarikolot Desa Sukamukti, pekan silam (14/2-2021) pihak desa ataupun pengelola desa wisata, Ada yang gagap, Ada yang siap, dan Ada pula yang setengah hati. Tetapi pemerintah daerahnnya terus mendorong dengan sejumlah 'angin syurga' termasuk soal tersedianya anggaran dari negara yang sangat pantastis menggiurkan jika Desa Itu terpilih untuk di kembangkan menjadi desa wisata.


Beberapa desa yang "terpaksa " didaulat jadi desa wisata di butuhkan sosialisasi yang tidak mudah dengan warga nya. Terlebih jika tidak punya dampak positive yang signifikan. Sebaliknya bagi desa yang sudah siap menyambut peluang ini menjadi berkah yang di tunggu-tunggu untuk memaksimalkan apapun potensi di desanya.

Gambar

Yusup Oeblet Sang Maestro Tabuhan Nusantara


Masihkah di era yang hampir serupa dalam akses informasi, desa Itu masih sexy untuk di Jual ?
Hal apa saja yang masih menarik dari sebuah desa di tengah perubahan warga yang hampir merata dalam cara pandang Dan laku hidup yang tidak jauh berbeda dengan warga Kota ?
Seberapa kuat romantisme desa itu sanggup meyakinkan para investor Dan wisatawan untuk menjadikan desa dalam prioritas rekreasinya?
Fakta berbicara bahwa dinamika desa sudah berubah. Hal apa saja yang bisa di tawarkan bagi para wisatawan yang Akan berlibur di sebuah desa?
Sekian pertanyaan lain masih banyak Dan harus di petakan untuk memberikan kekuatan atas keputusan penetapan desa wisata di Satu daerah.


Jika paparan potensi sebuah desa gagal di fahami dalam konteks Keberlangsungan system budaya pada Masyarakatnya, maka penetapan Desa menjadi desa wisata akan rapuh dalam perjalanannya, ungkap YO yang sudah melanglang buana ke berbagai mancanegara ini.
Alangkah bijaknya manakala para penentu kebijakan di daerah melakukan riset yang lebih mendalam ketika akan menetapkan kawasan manapun dalam kategori desa wisata.


Desa yang otentik jauh lebih baik dari pada desa yang artificial yang di bangun sedemikian Rupa untuk pencapaian "Rasa Desa", paparnya.
Bau lumpur baju petani tentu lebih indah daripada baju petani yang di sewakan untuk pencapaian fotografi atau sekedar di sewa untuk baju selfi.
Edukasi Masyarakat secara menyeluruh hingga keikutsertaan Masyarakat, siap dengan semua partisipasinya disetiap perubahan apapun yang akan terjadi sebagai konsekwensi menjadi desa wisata, pungkas dia.
(H WAWANJR)

Desa Wisata Kuningan Padepokan Bumi Seni Tarikolot


Loading...