Advertisement

40 Pegawai Gedung Sate Positif Virus Corona dan Harus Ditutup, ini yang Dikatakan Gubernur Jawa Barat

40 Pegawai Gedung Sate Positif Virus Corona dan Harus Ditutup, ini yang Dikatakan Gubernur Jawa Barat
(Media Indonesia : Google)
Editor: Epenz Hot News —Minggu, 2 Agustus 2020 15:41 WIB

Terasjabar.id - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan temuan 40 pegawai Gedung Sate yang positif Covid-19 adalah salah satu hasil tracing atau pelacakan masif selama dua pekan ini. Gubernur yang akrab disapa Emil ini pun menyatakan kewaspadaan terhadap Covid-19 harus diberlakukan dimanapun.

Emil mengatakan selama dua minggu ini ia memberikan arahan kepada semua lapisan gugus tugas percepatan penanggulangan Covid-19, baik di tingkat provinsi atau kabupaten kota agar agresif melakuman testing di kantor-kantor pemerintahan, lembaga pemasyarakatan, dan pusat-pusat industri di wilayah Jawa Barat.

Target pengetesan yang tengah dikejar, katanya, sebanyak 50 ribu tes per minggu. Hal tersebut sesuai dengan arahan pemerintah pusat dan WHO.

"Hasilnya beberapa kantor pemerintahan, industri, kantor kedinasan, dan juga Gedung Sate, ditemukan keterpaparan Covid-19 kepada staf kedinasan," katanya dalam akun instagramnya, Minggu (2/8).

Emil mengatakan dari temuan pegawai yang positif tersebut, hampir seluruhnya OTG atau orang tanpa gejala, sehingga mereka cukup dikarantina 14 hari di rumah secara mandiri. Contact tracing pun terus dilakukan untuk memastikan persebaran bisa dihentikan.

"Sesuai prosedur, maka beberapa kantor kedinasan termasuk Gedung Sate akan melaksanakan work from home selama 14 hari," katanya.

Emil mengimbau masyarakat untuk saling menjaga diri. Kemana pun pergi dan dengan siapapun berinteraksi, warga harus betul-betul memperhatikan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Sebelumnya diberitakan, Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat terus melakukan pelacakan dan pemeriksaan melalui swab test kepada kontak erat 40 pegawai Gedung Sate yang dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.

Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat, Daud Achmad, mengatakan rata-rata tes yang akan dilakukan terhadap kepada kontak erat masing-masing pegawai positif Covid-19 adalah 20 orang. Dengan demikian diperkirakan, akan ada 800 orang yang akan dites melalui metode Polymerase Chain Reaction (PCR) tersebut.

"Tracing dan pengetesan sudah kami mulai setelah ada yang dinyatakan positif Covid-19. Tapi, semua masih proses karena ini harus dilakukan cepat, dan belum ada report," kata Daud melalui ponsel, Jumat (31/7).

Daud mengatakan sampai saat ini temuan pasien positif Covid-19 di Jawa Barat belum menunjukkan pola penyebaran dari sumber yang sama. Dengan demikian, katanya, temuan ini belum bisa disebut sebuah klaster.

"Belum bisa disebut klaster ya. Untuk bisa menjelaskannya, masih perlu analisis lebih dalam," katanya.

Sebelumnya diberitakan, Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat sekaligus Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Setiawan Wangsaatmaja, mengatakan 40 pegawai Gedung Sate yang terkonfirmasi positif Covid-19 melalui uji usap (swab test) metode Polymerase Chain Reaction (PCR), telah difasilitasi isolasi mandiri.

Pernyataan Setiawan tersebut mengonfirmasi kabar yang beredar di masyarakat. Hasil temuan 40 kasus positif itu didapat dari tes yang digelar Gugus Tugas Jabar di Gedung Sate pada 27-29 Juli 2020, terhadap PNS, non-PNS, dan para karyawan lain, mulai dari petugas kebersihan hingga keamanan.

"Betul, di Gedung Sate telah ada yang terkonfirmasi positif (Covid-19) sebanyak 40 orang dan tersebar di beberapa biro. 40 orang terkonfirmasi positif ini terdiri dari 17 orang PNS dan 23 orang non-PNS. Bicara non-PNS, artinya bahwa ini supporting staff mulai dari pengamanan, cleaning service, dan lainnya," katanya di Gedung Sate, Kamis (30/7).

Berdasarkan sebaran tempat tinggal, Setiawan berujar bahwa mayoritas dari 40 kasus positif ini tinggal di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, dan daerah lain di Jawa Barat.

Sementara dari rentang usia, sebanyak 40 persen dari 40 kasus positif di Gedung Sate ini berusia 31-40 tahun. Sebanyak 30 persen berada di rentang usia 20-30 tahun, serta sisanya berusia di atas usia 50 tahun dan berusia di bawah 20 tahun.

Saat ini, Gugus Tugas Jabar telah meminta mereka untuk melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing. Bagi yang tidak bisa melakukan isolasi mandiri, Setiawan berujar bahwa pihaknya memfasilitasi isolasi di Pusat Isolasi Mandiri di Kompleks BPSDM Jabar di Kota Cimahi.

Terhadap 40 orang terkonfirmasi positif itu, Setiawan menjelaskan, Gugus Tugas Jabar juga telah melakukan contact tracing atau pelacakan kontak erat terhadap 20 orang dari masing-masing kasus dan memfasilitasi pengetesan bagi kontak erat termasuk keluarga.

"Setelah kami tahu 40 yang terkonfirmasi positif ini, segera kami cek melalui contact tracing. Kami langsung meneliti dan menanyakan satu-satu kepada orang yang terkonfirmasi positif, dalam satu minggu terakhir bertemu dengan siapa dan di mana saja. Itu sudah terdata. Rasionya, ambil dari satu orang positif, kami tracing 20 orang. Ada 800 orang yang harus kita uji," tutur Setiawan.

"Kepada kontak erat kasus positif, ada beberapa di antaranya langsung dilakukan pengetesan metode PCR difasilitasi di Labkesda Jabar di Kota Bandung," ucap Setiawan.

Sementara itu, pengetesan swab test di Gedung Sate tidak hanya dilakukan pada Senin (27/7) lalu. Tes proaktif dalam rangka meningkatkan agresivitas pengetesan juga digelar di Gedung Sate pada Selasa (28/7) dan Rabu (29/7).

"Per hari ini yang kami dapatkan adalah 40 orang terkonfirmasi, itu saja. Sementara total yang dilakukan pengetesan dalam tiga hari pada 27, 28, dan 29 Juli adalah 1.260-an orang," kata Setiawan.

Setiawan pun menegaskan, pihaknya saat ini tengah menganalisis sumber penularan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 di Gedung Sate. Pasalnya, akses terhadap gedung yang juga landmark di Kota Bandung ini terbuka selama masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

"Banyak pengunjung yang datang ke sini, bahkan ada yang studi banding ke sini, sehingga belum kita dapat pastikan bahwa sumber penularan ini dari internal atau eksternal Gedung Sate. Saat ini kami sedang mencari tahu karena) sumber penularannya ini bisa bermacam-macam," tutur Setiawan.

Setiawan mengatakan Pemerintah Daerah Provinsi Jabar menyesuaikan sistem kerja di lingkungan Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Jabar yang berdinas di Gedung Sate. Hal itu, menjadi upaya peningkatan kewaspadaan terhadap penularan Covid-19 di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), terutama merujuk temuan kasus terkonfirmasi positif di Gedung Sate.

Adapun berdasarkan Surat Edaran Sekretaris Daerah Jabar Nomor: 800/117/UM tentang Penyesuaian Sistem Kerja bagi Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Sekretariat Daerah Provinsi Jabar, penyesuaian sistem kerja yang dimaksud yakni seluruh PNS dan non-PNS bekerja dari rumah alias work from home (WFH) mulai Kamis, 30 Juli 2020, hingga Jumat, 14 Agustus 2020.

"Hari ini memang keluar Surat Edaran Sekda bahwa kami semua bekerja dari rumah dan juga dilakukan disinfeksi terhadap ruangan-ruangan di Gedung Sate," kata Setiawan.

Sebagai garda terdepan roda pemerintahan di Jabar, Setda Jabar selama ini telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Meski begitu, Setiawan tak menampik bahwa kasus positif COVID-19 di Gedung Sate menjadi pelajaran bagi pihaknya untuk terus meningkatkan kedisiplinan penerapan protokol kesehatan terutama di ruang tertutup.

"Gedung Sate ini tempat kerja yang telah memberlakukan secara ketat, hanya 50 persen boleh diisi atau didatangi, lalu juga di luar gedung saat masuk ada disinfeksi untuk mobil atau motor, termasuk juga hand sanitizer dan tempat cuci tangan, dalam tanda kutip saja masih kecolongan (kasus positif Covid-19)," ujar Setiawan.

"Maka protokol kesehatan ini harus tetap kita jaga, harus disiplin karena selepas dari kantor bisa saja berinteraksi di tempat umum. Ini menjadi hikmah bagi kita semua, bagaimana Covid-19 ini masih ada dan kita masih harus tetap waspada. Kewaspadaan ini nomor satu dalam rangka memutus penularan," katanya.

Dalam surat edaran tersebut, diumumkan juga bahwa masjid, command center, museum, kantin, dan area publik di Gedung Sate ditutup mulai 30 Juli hingga 14 Agustus mendatang.

"Yang bisa dipelajari (dari kasus positif di Gedung Sate) adalah memang ventilasi sangat penting, jaga jarak sudah pasti. Masker masih harus kita pergunakan. Dan durasi kita bertemu juga penting. Mudah-mudahan ini bisa menjadi kewaspadaan bagi siapa pun yang melihat Gedung Sate saat ini," ujarnya.

Saat ditanya mengenai potensi menjadi klaster perkantoran, Setiawan mengatakan bahwa pihaknya tidak mau terlalu dini memastikan kasus positif di Gedung Sate sebagai klaster perkantoran di Jabar.

"Ini belum dipastikan klaster perkantoran karena Gedung Sate saat AKB cukup terbuka aksesnya. Jadi, banyak yang memang melakukan studi banding, ada tamu-tamu, dan kami melihat polanya tersebar di beberapa biro dan beberapa biro juga memiliki hubungan kerja dengan pihak lain. Kami melihat belum dapat dipastikan ini merupakan klaster. Karena kami tidak melihat (penyebaran) dalam satu pola yang seragam," tuturnya.



Disadur dari TRibunjabar.id

Gubernur Jawa Barat Gedung Sate Pandemi Virus Corona


Related Post



Loading...