Advertisement

Viral Predator 'Fetish Kain Jarik' Mahasiswa Berkedok Riset Akademik

Viral Predator 'Fetish Kain Jarik' Mahasiswa Berkedok Riset Akademik
Detik News
Editor: Malda Hot News —Kamis, 30 Juli 2020 14:56 WIB

Terasjabar.id 

Viral di media sosial seorang mahasiswa menjadi korban predator 'Fetish Kain Jarik' yang berkedok riset akademik. Sang predator disebut sebagai mahasiwa akhir di salah satu PTN di Kota Surabaya.

Bermula dari pesan atau DM instagram (IG) pelaku, gilangeizan, ke akun IG korban. Pelaku mengatakan jika dia merupakan mahasiswa Unair angkatan 2015. Pelaku pun meminta nomor WhatsApp korban untuk berkomunikasi lebih lanjut tentang proyek tulisannya.

"Sumpah awalnya gw gak ngira si bisa kena pelecehan sexual kek gini. Gw kek bego banget gak tau mana riset mana hal-hal berbau fetish gini, rada shock juga si gw. Tp karena suatu pertimbangan (takut bertambahnya korban) gw jadi berani speak up," tulis korban seperti yang dilihat detikcom di akun twitter Mufis @m_fikris, Rabu (29/7).


Setelah percakapan beralih ke WA, pelaku menjelaskan maksudnya mengadakan riset tentang bungkus-membungkus. Dengan tujuan yang dijelaskan oleh pelaku, korban pun mengiyakan kemauan itu.

"Nah karena gw baik, yaelah :), waktu ditanya mau membantu ngga? mau berkenan nolong? gw iya2 ajah (bego emang)," ujarnya.

Pelaku mengaku melakukan riset bungkus-membungkus tujuannya untuk tulisannya yang bergenre psikologi-thriller. Kisah seorang remaja yang mendapati dirinya dalam keadaan dibungkus dan dibuat tertekan.

Saat dalam keadaan dibungkus akan menimbulkan reaksi natural dan emosional seperti gugup, menangis, takut dan lainnya yang bisa keluar dan sadar jika dibungkus untuk keperluan terapi dan mengetes ketahanan pernafasan sampai berapa lama. Riset tersebut karena hendak memperhatikan kondisi emosional saat sedang dibungkus.

Saat menjelaskan, korban merasa takut. Namun pelaku meyakinkan korban jika bukan lah disiksa atau ditekan. Dia kembali menjabarkan bahwa dalam keadaan dibungkus kain berapa lapis atau berapa lama pun termasuk bagian kepala dan wajah orang akan kuat setidaknya dua jam, umumnya empat jam. Bahkan semalam pun bisa.

"Karena gw sedikit takut ama penjelasan dia, gw nolak dong. Tp dia terus jelasin kalo ini tuh aman, ini tuh udah dicoba ke banyak orang (read:korban) dan selamat gitu-gitu lah," lanjutnya.


Pelaku juga memohon kepada korban hingga akan memohon ke kakinya, karena rasa kasihan sudah semester 10 dia pun mengiyakan. Merasa tidak ada partner untuk melakukan hal itu, korban pun mengajak temannya, tapi malah dimarahi oleh pelaku.

Sampai akhirnya sang pelaku mengaku jika mengidap penyakit vertigo akut yang mengganggu pikirannya. Hal itu untuk meyakinkan korban agar bersedia. Keesokan harinya mulai melakukan praktik tersebut dan pelaku terus meyakinkan jika hal itu aman.

"Beh waktu dibungkus di tengah2 sempet gw mau berhenti, temen gw ditelfon trus disambungin ke gw intine dia ngeyakinin gitu lah. "udah sejauh ini, katane sepakat bantu mas" gitu2 lah yaa udah lanjut ajah. Ini foto2 gw waktu dibungkus dan divideoin dan minta dikirim ke dia. Ini video2nya. Itu temen gw yg ngevideo ngebantu gw atas suruhan si Gilang. Serem gilaa njirr, tau gini gak mau gw!!," katanya.

Setelah tiga jam dibungkus, korban merasa marah kepada pelaku dan temannya yang membantu. Saat itu pelaku melucu dengan kata-kata "peluk dong".

Tak puas dengan korban, pelaku meminta temannya untuk dijadikan objeknya. Kemudian video korban yang telah dibungkus diminta untuk diulang karena ada kekurangan yang membuatnya tak puas.

Korban juga diminta untuk mempraktikkan ke temannya untuk membungkus. Tapi pada salah satu temannya yang dibungkus, pelaku justru tertarik karena pesonanya.

"Habis itu dia nyuruh ngelakban seluruh badan. Selain itu, dia ngirim foto gw yang tadi (waktu mau dilakban) sambil bilang "Dek, siapanih ganteng". Anjirt udah gak enak bgt gw," kata dia.


Karena paksaan yang dialami, korban pun marah kepada pelaku karena penelitian yang mengancam subjek dan merasa tidak fair karena menekan orang dengan alasan penyakit. Bahkan pelaku sampai menangis hingga gemetar, korban pun disuruh untuk meminta maaf dan dilakukannya karena rasa kasihan.

Apa yang dialami dan diceritakan korban ini pun mendapat respons dari akun lainnya yang mengalami hal sama. Seperti pemilik akun twitter @msadiiib.

"Untung aku sadar sedari dini, aku buat pertahanan harus ada perjanjian tertulis, dia malah marah-marah anjir," kata dia dalam tulisannya.

Ketua Pusat Informasi dan Humas Suko Widodo membenarkan kasus tersebut. Suko membenarkan bila pelaku merupakan mahasiswa akhir di FIB Unair.

"Mahasiswa itu benar adanya. Yang bersangkutan itu ada catatannya, dia semester 10," kata Suko.(Detik)

Gilang Fetish Bungkus Kain Jarik ernest Maba UNARI


Related Post



Loading...