Advertisement

Punya Utang Puasa atau Qadha Tapi Ingin Puasa Arafah Apakah Bisa? Begini Kata Ustadz Adi Hidayat

Punya Utang Puasa atau Qadha Tapi Ingin Puasa Arafah Apakah Bisa? Begini Kata Ustadz Adi Hidayat
Tribunjabar.id
Editor: Malda Life Style —Senin, 27 Juli 2020 13:02 WIB

Terasjabar.id - Umat muslim disunnahkan mengerjakan amalan puasa Arafah sebelum perayaan Idul Adha.

Tetapi, kadang kala timbul pertanyaan bagaimana hukumnya bila masih memiliki utang puasa Ramadhan?

Bolehkah mengerjakan puasa Arafah meski masih punya utang puasa Ramadhan?

Manakah yang didahulukan, membayar utang puasa ( qadha) atau puasa Arafah?

Timbul lagi pertanyaan bolehkah menggabungkan niat puasa qadha dan puasa Arafah?

Pertanyaan ini dijelaskan Ustadz Adi Hidayat seperti yang diunggah di akun Instagramnya.

Ustadz Adi Hidayat menjelaskan secara pribadi ia cenderung menunaikan qadha -nya terlebih dahulu.

Menurutnya hal ini perlu ditunaikan lebih dulu karena sifatnya wajib.

Selain itu kewajiban tersebut terbentang luas dan dapat dilaksanakan kapan saja hingga akhir Syaban.

Meski begitu, Ustadz Adi Hidayat menambahkan ada pula pendapat ulama lainnya.

Pendapat ulama lain ada yang mengatakan tidak ada salahnya bila puasa Arafah meski masih punya utang puasa.

"Ada yang berpendapat karena luas terbentang ya gak apa apa, kalau mau menunaikan puasa sunah yang jatuh waktunya hari tertentu saja seperti Puasa Arafah," ujarnya.

 Menurut Ustadz berdasarkan pendapat tersebut boleh melaksanakan puasa Arafah.

Sementara itu puasa qadha bisa dilaksanakan di hari-hari selanjutnya.

Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bila puasa qadha lebih diutamakan.

Hal ini berkaitan dengan kesempatan dan adanya waktu kematian.

Menurutnya, selagi ada kesempatan maka puasa wajib lebih diutamakan.

Selain itu adanya kematian menjadi faktor bahwa utang baiknya disegerakan.

"Kita melihat ada bentangan kesempatan puasa, betul, tapi kan kematian gak bisa ditentukan, kematian itu sifatnya gaib dan terserah Allah," ujarnya.

Lalu ia juga menjelaskan, bila seseorang niat puasa qadha tapi punya keinginan kuat untuk kerjakan Arafah dan tak mampu mengerjakan karena alasan tertentu yang dibenarkan.

Menurut Ustadz Adi Hidayat, secara syar'i, itu bisa berpeluang mendapatkan pahala juga dari puasa Arafah meski niatnya untuk puasa qadha.

Hal ini diambil dari dalil hadis.

"Jika seorang hamba sakit atau ada seperti orang sakit atau gak mampu melakukan amalan rutin yang biasa dikerjakan (puasa Ramadan) karena kondisi tertentu.

Terus pas bagian qadhanya masuk waktu Arafah, padahal dia rutin Arafah di waktu sebelumya.

Karena gak bisa dikerjakan karena mengqadha puasa Ramadan maka Arafahnya pun tetap dapat bagian.

Sepanjang ada keinginan kuat untuk mengerjakan tapi harus melakukan amalan lebih utama," terang Ustadz Adi Hidayat.

Keutamaan puasa Arafah

Puasa Arafah hukumnya sunnah muakkad (sangat dianjurkan).

Puasa sunnah ini memiliki keistimewaan sangat spesial dibanding puasa Tarwiyah (ghairu muakkad).

Tapi jika kaum muslimin mampu mengerjakannya maka sesungguhnya kedua amalan tersebut istimewa.

Hanya, puasa Arafah menjadi lebih istimewa karena Allah membanggakan para hamba-Nya yang sedang berkumpul beribadah di Arafah, tempat di hadapan para Malaikat.

Oleh karena itu, kaum muslimin yang tidak sedang berwukuf di Arafah pun disyariatkan beribadah sebagai gantinya berpuasa satu hari saat kaum muslimin yang berhaji berwukuf di Arafah.

Wukuf di Arafah.
Wukuf di Arafah. (infohaji.co.id)

Saking luar biasanya keutamaan puasa Arafah ini, bagi kaum muslim yang meninggalkannya atau tidak mengerjakan dinilai akan mendapatkan rugi.

Berbeda dari puasa Tarwiyah yang menghapus dosa tahun lalu, keutamaan mengerjakan puasa Arafah dapat menghapus dosa tak hanya satu tahun saja tapi dapat menghapus dosa tahun sebelum dan tahun sesudahnya.

Berikut ini 3 hadits shahih yang menjelaskan keutamaan puasa Arafah.

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

Rasulullah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau bersabda:
“Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.” (HR. Muslim).

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ إِنِّى أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ

Puasa hari Arafah, sesungguhnya aku berharap kepada Allah, Dia menghapuskan dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun sesudahnya. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah; shahih)

مَنْ صَامَ يَوْمَ عَرَفَةَ غُفِرَ لَهُ سَنَةٌ أَمَامَهُ وَسَنَةٌ بَعْدَهُ

Barangsiapa berpuasa pada hari Arafah, maka ia diampuni dosa-dosanya setahun yang di depannya dan setahun setelahnya. (HR. Ibnu Majah; shahih).

Bacaan niat puasa Arafah

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

(Nawaitu shouma ‘arofata sunnatan lillaahi ta’aalaa)

Artinya: "Saya Niat Puasa Sunnah Arafah karena Allah."

Berniat puasa Arafah pada umumnya sama seperti puasa pada umunya.

Niat puasa Arafah sebaiknya dilakukan pada malam hari atau sebelum tebit fajar.

Namun jika sampai lupa maka tetap bisa dikerjakan selama belum makan apa-apa atau hal yang membatalkan puasa.

(Tribunjbar.id)


Puasa Arafah Ramadhan Qadha


Related Post



Loading...