Rencana Pemerintah Menerapkan New Normal Tengah Jadi Buah Bibir Publik, Pakar Sebut New Normal Bukan Berarti Masyarakat Merdeka dari Covid-19

Rencana Pemerintah Menerapkan New Normal Tengah Jadi Buah Bibir Publik, Pakar Sebut New Normal Bukan Berarti Masyarakat Merdeka dari Covid-19
Ilustrasi (ANTARA News : Google)
Editor: Epenz Hot News —Selasa, 2 Juni 2020 09:31 WIB

Terasjabar.id - Rencana pemerintah menerapkan new normal tengah jadi buah bibir publik. Hal ini lantaran masyarakat diharuskan hidup berdampingan bersama virus corona (Covid-19) yang tidak diketahui kapan akan berakhir.

Ahli kesehatan masyarakat Hermawan Saputra menilai jika wacana new normal jangan dibuat seolah-olah akan kembali sebagaimana normal pada sebelum Covid-19.

"Seharusnya juga kontrol itu adanya di hulunya bukan di hilirnya. Hulunya itu masyarakat, jadi jangan sampai the new normal itu dipahami sebagai kembali kepada normal yang seperti semula sebagaimana belum ada Covid-19," tuturnya saat dihubungi merdeka.com, Senin (2/6).

Sebagai Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), dia melihat kondisi menuju new normal saat ini, seperti telah menempatkan posisi yang memprihatinkan untuk sektor tenaga medis.

"Karena sektor kesehatan menjadi semacam sandaran akhir. Padahal sektor kesehatan ini adalah orang-orang profesional yang juga memiliki keterbatasan daya tahan dan bisa kelelahan juga," tuturnya.

Oleh karena itu, dia meminta kepada seluruh pemangku kepentingan, elemen masyarakat untuk secara kolektif menegaskan bahwa wacana new normal ini jangan seolah-olah bebas beraktivitas dan merdeka dari Covid-19.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat 102 kabupaten/kota aman dari Covid-19 dan siap menjalankan new normal. Meski begitu, masyarakat harus tetap mematuhi protokol kesehatan. Hal ini sebagai upaya supaya penularan tidak terjadi.

Seperti halnya, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 di Indonesia, Achmad Yurianto menegaskan, protokol kesehatan tetap harus dijalankan di semua tempat. Bukan berarti adanya New Normal itu bebas dari segala aturan.

"Untuk kita pahami, new normal tidak menjadi suatu euforia baru. Bahwa kenormalan baru ini seakan-akan membebaskan kita untuk kembali beraktivitas seperti sebelum kejadian COVID-19. Kita harus berhati-hati bergerak, produktif namun tetap aman dari COVID-19," tegas Yuri saat konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, kemarin (31/5)

"Ini yang menjadi perhatian penting yang harus sama-sama kita cermati. Kemudian kita tindak lanjuti. Dengan cara inilah kita akan menjadi bangsa yang tetap produktif namun aman dari Covid-19," lanjutnya.

Yuri menambahkan, New Normal merupakan cara hidup yang baru. Sebagai negara yang produktif namun harus dengan paradigma yang baru, yaitu aman dari Covid-19.

Kategori daerah dapat mempersiapkan New Normal, ditandai dengan aspek epidemiologi. Ini menjadi sesuatu yang penting karena kita harus mengetahui bahwa daerah tersebut sudah berhasil melakukan penurunan kasus, setidak-tidaknya lebih dari 50 persen dari kasus puncak yang pernah dicapai di daerah dalam tiga minggu berturut-turut.

"Mari kita hati-hati agar tidak tertular. Jaga jarak secara fisik dengan siapa pun, gunakan masker, rajin mencuci tangan dengan menggunakan sabun. Ini menjadi prasyarat yang paling penting. Menjaga jarak penting. Hindari kerumunan, atur kegiatan-kegiatan sosial kita agar tidak menimbulkan kerumunan dan tidak menimbulkan penumpukan," imbau Yuri.


Disadur dari Merdeka.com 

New Normal Pandemi Virus Corona Ahli Kesehatan


Loading...