TERASJABAR.ID – Pemkot Tasikmalaya dibuat geram. Gedung Galih Pawesti Jalan R. A Wiratuningrat Kota Tasikmalaya, yang seharusnya steril dari aktivitas negatif justru berubah jadi arena pesta miras liar saat nobar Persib Bandung melawan Persijap, Sabtu (23/5/2026) malam.
Puluhan pemuda mabuk-mabukan, menggelar hura-hura, dan tidur berserakan di lokasi, lengkap dengan botol miras kosong berserakan di lantai.
Aksi bejat ini langsung dibongkar aparat kepolisian. Dalam penggerebekan, polisi mengamankan 26 unit sepeda motor dan 1 mobil yang ditinggal para pelaku. Para pemuda mabuk itu ditemukan tergeletak tak sadarkan diri di sekitar gedung, dikelilingi sisa miras yang berhamburan.
Plh Wali Kota Tasikmalaya, Rd Diky Candranegara, meledak marah begitu mendapat laporan. Ia menyebut peristiwa ini sebagai bentuk kelalaian dan penghinaan terhadap fasilitas milik pemerintah.
“Ini suatu yang salah dan terus terang saya marah sekali. Dalam kondisi seperti ini saya sangat kecewa. Gedung milik pemerintah dipakai untuk mabuk-mabukan, ini tidak bisa dibiarkan,” tegas Diky.
Diky memastikan panitia penyelenggara nobar akan dimintai pertanggungjawaban. Ia belum mau gegabah menjatuhkan sanksi, tapi menegaskan pembicaraan internal sudah dimulai.
“Panismen akan kami bicarakan mau seperti apa. Kita lihat dulu seperti apa, karena takut mengambil keputusan tanpa cek langsung. Nanti akan kami sampaikan sanksi seperti apa di internal,” ujarnya.
Galih Pawesti sendiri berada di bawah tanggung jawab KBPP. Diky menegaskan akan turun langsung mengecek lokasi dan memperkuat pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kami ingin melakukan pembersihan dan sosialisasi tentang hal tersebut di daerah-daerah non-pemerintahan. Kalau Galih Pawesti itu tanggung jawabnya KBPP, dan nanti di sela-sela ini kami akan melakukan pengecekan langsung,” katanya.
Alhamdulillah, polisi bergerak cepat mengamankan situasi. “Dalam kondisi itu, polisi telah mengamankan 26 motor dan 1 kendaraan roda empat. Mereka semua tidur di lokasi tersebut disertai sisa miras berhamburan di lokasi tersebut,” ungkap Diky.
Pemkot Tasikmalaya menegaskan, fasilitas umum bukan tempat untuk pesta miras. Nobar harus jadi ajang sportivitas, bukan ajang mabuk dan merusak ketertiban.
Diky mengimbau masyarakat dan panitia penyelenggara kegiatan agar lebih selektif dalam mengawasi peserta. Jika ditemukan lagi aksi serupa, Pemkot tidak akan segan menjatuhkan sanksi tegas, termasuk pencabutan izin penggunaan gedung.
Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi semua pihak. Pemkot Tasikmalaya menuntut komitmen bersama menjaga ruang publik tetap bersih dari miras dan perilaku merusak. Jangan sampai euforia bola berubah jadi pesta destruktif yang mencoreng nama kota.(*)
















