“Produk kriya Indonesia berhasil menarik perhatian sejumlah buyer potensial, termasuk dari Amerika Serikat dan Jepang, sehingga semakin memperkuat keyakinan terhadap daya saing serta peluang ekspansi produk IKM nasional di pasar global,” imbuhnya.
Terdapat tiga IKM terpilih yang telah melewati proses kurasi, yaitu Manamu, Kampoeng Anyaman, dan Koto Batu. Ketiga IKM tersebut memperoleh fasilitasi unit booth yang berlokasi di area Cultural and Creative Avenue.
Selain itu, para peserta mendapatkan dukungan Top-up Product Display Package untuk mengoptimalkan penataan dan daya tarik visual produk, serta fasilitas promosi melalui Default Online Package pada platform daring resmi pameran guna memperluas eksposur dan menjangkau buyer internasional secara lebih efektif.
Adapun IKM tersebut menampilkan keunggulan produk kriya dengan karakter dan keunikan masing-masing. Manamu menghadirkan seni kerajinan tenun tangan menggunakan kawat baja khas Sumba Timur yang dikenal dengan nama lulu amah, memadukan teknik tradisional dengan pendekatan desain kontemporer.
Sementara itu, Kampoeng Anyaman menampilkan produk anyaman daun pandan handmade yang mengedepankan kearifan lokal, kualitas pengerjaan, serta komitmen terhadap prinsip keberlanjutan lingkungan.
Sedangkan, Koto Batu memiliki produk perhiasan berbahan natural gemstones yang menonjolkan keindahan alami batu mulia dengan sentuhan estetika modern dan nilai filosofi yang kuat.
Kepala Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) Dickie Sulistya Aprilyanto menjelaskan, partisipasi ini sejalan dengan penguatan ekosistem industri yang diusung oleh BPIFK yaitu berbasis konsep 3C (Create, Connect, dan Catalyze).
“Partisipasi ini memperkuat ekosistem industri BPIFK melalui konsep 3C, khususnya pada aspek Connect, yaitu memperluas akses pasar ekspor dan jejaring kemitraan internasional. Kami berkomitmen untuk terus mendorong IKM binaan agar mampu naik kelas, berorientasi ekspor, dan berdaya saing di pasar dunia,” kata Dickie.***
















