Tingginya partisipasi tersebut menjadikan ajang ini untuk promosi, penjajakan kerja sama dagang, serta peningkatan peluang ekspor secara langsung maupun berkelanjutan melalui platform digital terintegrasi.
Menperin menyampaikan, keikutsertaan pada ajang tersebut menjadi momentum strategis bagi pelaku IKM untuk memperluas jaringan kemitraan, mendorong peningkatan ekspor, serta memperkokoh posisi produk kriya nasional dalam rantai pasok global.
Berbekal mutu, inovasi, dan kekayaan budaya yang menjadi keunggulan, sektor ini dinilai memiliki prospek yang kuat untuk semakin diterima dan diminati di pasar internasional.
“Melalui partisipasi ini, IKM kriya Indonesia memperoleh kesempatan untuk mempromosikan produk unggulan, menjajaki potensi kerja sama dagang, serta meningkatkan peluang transaksi ekspor secara langsung dan berkelanjutan,” tuturnya.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menyampaikan, kinerja ekspor kerajinan Indonesia menunjukkan capaian yang signifikan.
Sepanjang tahun 2025, nilai ekspor kerajinan mencapai 806,63 juta dolar AS atau tumbuh sebesar 15,46 persen (year-on-year) dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024 sebesar 698,62 juta dolar AS.
“Kinerja ekspor kerajinan yang terus menunjukkan tren positif harus kita jaga dan harus bisa lebih ditingkatkan. Oleh karenanya, pemerintah mendorong IKM agar semakin terintegrasi dalam rantai pasok global melalui penguatan kualitas produk, inovasi desain, dan perluasan akses pasar,” ujar Reni.
Dirjen IKMA menambahkan, partisipasi BPIFK pada tahun 2026 ini merupakan kelanjutan dari kerja sama dengan Hong Kong Trade Development Council (HKTDC) pada tahun sebelumnya yang memperoleh respons positif dari pasar internasional.
















