Sejak 2024, ia mengabdikan diri di wilayah 3T dengan berbagai dinamika dan tantangan.
Ia mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam proses pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan fasilitas, tetapi juga akses menuju sekolah.
“Tantangan terbesar dalam proses pembelajaran di wilayah tersebut adalah transportasi menuju sekolah terutama saat cuaca buruk seperti keras ombak. Fasilitas belajar seperti buku, dan jaringan internet juga terbatas. Selain itu, kemampuan literasi dasar sebagian murid masih rendah, sehingga proses pembelajaran membutuhkan waktu lebih lama,” ungkapnya.
Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, dukungan pemerintah dan berbagai pihak menjadi penguat bagi guru untuk terus berinovasi.
Risky menyampaikan bahwa keterbatasan alat peraga dan teknologi tidak menghalanginya untuk tetap kreatif dalam mengajarkan Matematika.
“Khusus untuk pembelajaran matematika saya sering berinovasi dengan memanfaatkan benda-benda di sekitar karena keterbatasan alat peraga dan teknologi. Misalnya, untuk mengajarkan operasi hitung dasar, saya menggunakan batu sebagai alat bantu konkret agar murid lebih mudah memahami konsep penjumlahan dan pengurangan,” ucap Risky.
Dalam membangun motivasi belajar, ia menekankan pentingnya kedekatan emosional dengan murid sebagai bagian dari penguatan ekosistem pendidikan.
“Cara saya dalam membangun motivasi belajar murid di tengah berbagai keterbatasan adalah saya berusaha membangun hubungan yang dekat dengan murid, memahami latar belakang mereka, dan memberi apresiasi sekecil apa pun pencapaian mereka. Saya sering mengaitkan pelajaran dengan cita-cita mereka, memberikan pujian dan perhatian secara konsisten sangat membantu meningkatkan rasa percaya diri mereka,” tambahnya.
















