“Saya di sini langsung beli dan langsung bisa tahu harganya, sehingga mudah-mudahan dengan kondisi ini, kondisi harga yang relatif bagus bisa stabil untuk ke depannya. Jadi pasca-Lebaran ini juga harga bisa tetap bagus,” pungkasnya.
Sebelumnya, pada pekan kedua Maret atau menjelang Hari Raya Idulfitri, harga pangan sempat mengalami fluktuasi, meskipun secara umum masih dalam batas terkendali.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) pada sejumlah komoditas di berbagai wilayah.
Untuk komoditas daging ayam, kenaikan IPH tercatat di 192 kabupaten/kota, dengan 123 di antaranya masih berada dalam rentang HAP Rp 40.000 per kg.
Sementara itu, kenaikan IPH cabai rawit merah terjadi di 198 kabupaten/kota, namun 48 kabupaten/kota masih mencatat harga sesuai batas HAP Rp 57.000 per kg. Adapun bawang merah mengalami kenaikan IPH di 143 kabupaten/kota, dengan 96 kabupaten/kota tetap berada dalam koridor HAP Rp 41.500 per kg.
Secara terpisah, pemerintah menegaskan bahwa pengelolaan pangan nasional bertujuan menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh pelaku, mulai dari hulu hingga hilir.
“Kita ingin semua tersenyum. Petani tersenyum karena harga hasil panennya baik, pedagang tersenyum karena barang tersedia dan bisa dijual, dan masyarakat juga tersenyum karena harga pangan terjangkau. Itulah tujuan pemerintah menjaga pangan,” kata Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian.
“Kalau produksi surplus dan distribusi lancar, maka harga akan stabil. Itu yang kita jaga terus, dari hulu sampai hilir. Harga pangan tidak boleh terlalu tinggi karena memberatkan masyarakat, tetapi juga tidak boleh terlalu rendah karena merugikan petani. Pemerintah harus menjaga keseimbangan itu,” tambahnya.


















