Oleh: Syaefudin Simon/kolumnis Satu Pena Jakarta
Di sebuah negara yang sehat demokrasinya, komedi tidak sekadar membuat orang tertawa. Ia bekerja lebih jauh: menyentil, mengusik bahkan memalukan kekuasaan.
Disitulah satir menemukan rumahnya. Ketika Pandji Pragiwaksono berdiri di panggung dengan materi yang menyinggung negara, kebijakan publik, dan perilaku warganya sendiri, ia sesungguhnya sedang berdiri di tradisi panjang komedi satiris—tradisi yang telah lama hidup di Inggris dan Amerika Serikat.
Di Inggris, satir adalah institusi kultural. Dari Jonathan Swift pada abad ke-18—yang dengan dingin menulis A Modest Proposal tentang memakan bayi miskin—hingga program televisi seperti Yes, Minister, Spitting Image, dan Have I Got News for You, humor dipakai untuk membongkar kemunafikan elite.
Para politisi Inggris tumbuh dengan kesadaran bahwa mereka bisa dan akan ditertawakan. Bahkan Perdana Menteri bisa jadi bahan lelucon nasional tanpa perlu merasa dizalimi.
Satir Inggris bekerja dengan kecerdasan, ironi, dan keanggunan bahasa. Ia tidak berteriak. Ia tersenyum tipis sambil menikam. Boris Johnson pernah digambarkan sebagai badut yang terlalu percaya diri, dan publik Inggris tertawa—bukan karena benci, tapi karena sadar: kekuasaan memang pantas ditertawakan agar tidak terlalu serius memandang dirinya sendiri.
Amerika Serikat menempuh jalur yang berbeda, lebih vulgar, lebih langsung. Dari George Carlin yang tanpa ampun menguliti bahasa politik, Richard Pryor yang menelanjangi rasisme, hingga Jon Stewart dan Stephen Colbert yang menjadikan beritaT sebagai panggung komedi, satir Amerika berfungsi sebagai “oposisi moral”.
















