Ia menjelaskan, zakat berperan sebagai solusi jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, sedangkan wakaf dikembangkan sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.
“Dalam implementasinya, dana wakaf produktif diarahkan untuk pembangunan infrastruktur dan penguatan kelembagaan pendidikan, sedangkan zakat difokuskan untuk memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu,” jelasnya.
Gagasan tersebut mendapat respons positif dari peserta forum. Direktur Awqaf Africa, Ibrahim Abdul Mugis, menyampaikan apresiasi atas kontribusi Indonesia dan menilai pemikiran yang disampaikan BAZNAS memberikan nilai tambah dalam pengembangan wakaf digital global.
Sejumlah tokoh penting turut hadir dalam konferensi ini, di antaranya Dr. Noor Suhaida Kasri selaku Deputy Director sekaligus Senior Research Fellow di ISRA Institute, INCEIF University, Dr. Muhsin Nor Paizin dari Akademi Zakat PPZ MAIWP, Dr. Reza Beikzadeh sebagai Inter AI Scientist and AI Specialist Digital Carbon Ledger, serta Prof. Emeritus Dr. Barjoyai Bardai yang menjabat sebagai Provost and Dean Center of Postgraduate Studies di Malaysia University of Science and Technology (MUST).
Forum Global WaqfTech Conference and Exhibition yang dipimpin Direktur Awqaf Africa, Ibrahim Abdul Mugis ini menghadirkan regulator, lembaga pengelola zakat dan wakaf, akademisi, dan pemimpin teknologi dari berbagai belahan dunia, yang dilaksanakan secara hybrid pada 10 hingga 12 April 2026.
Forum ini bertujuan membangun sistem wakaf berbasis digital yang lebih terstruktur, transparan dan berkelanjutan.***
Sumber: Siaran Pers BAZNAS















